Pesan Sebagai Faktor Utama Dalam Berkomunikasi

Karakter komunikator selalu berusaha meraih keberhasilan semaksimal mungkin dalam menyampaikan pesan. Artinya, pengertian komunikasi bersumber dari gagasan komunikator yang ingin disampaikan kepada pihak penerima, dengan segala daya dan usaha bahkan tipu daya agar pihak penerima tersebut mengenal, mengerti, memahami, dan menerima “ideologinya” lewat pesan-pesan yang disampaikan.
Adanya Pesan bagi seorang komunikator merupakan alasan utama dalam melakukan proses komunikasi (penyampaian pesan). Tanpa pesan, tidak mungkin seorang komunikator dapat berkomunikasi atau mempengaruhi komunikan. Pesan diolah dan dikemas dalam diri komunikator menjadi sebuah gagasan. Setelah pesan sudah mantap, maka komunikator baru menyampaikan kepada komunikan.
Pesan, baik verbal maupun nonverbal bagi seorang komunikator merupakan faktor utama yang harus dimiliki dalam rangka mempengaruhi komunikan. Kemasan pesan yang baik, dan mudah diterima oleh komunikan, akan menghasilkan keberhasilan komunikan. Sedangkan bagi komunikan (penerima pesan), pesan merupakan sumber untuk bisa menerima informasi. Tidak mungkin seorang komunikator bisa menyampaikan suatu informasi kepada komunikan apabila tiada pesan yang akan disampaikan.
Pesan, secara sederhana diartikan sebagai isi (content aspect) pikiran, gagasan yang dikirim dari sumber ke penerima (relational aspect) untuk suatu tujuan mempengaruhi pikirang dan gagasan orang lain. Pesan diwujudkan dalam bentuk lambang, berupa kata-kata, gambar dan tulisan, dan perilaku nonverbal.
Pesan diproduksi dalam bentuk lambang-lambang, misalnya berbicara atau menulis, yang merupakan representasi dari peasaan dan pikiran. Proses internal dalam diri seseorang, dengan menuangkan gagasan-gagasan ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, menjelmakan gagasan-gagasan tersebut ke dalam kode-kode atau lambang-lambang tertentu di (Enkoding) karena proses penyandian, pesan terdapat didalamnya kode dan lambang-lambang, baik verbal maupun nonverbal.
Sebagai representasi perasaan dan pikiran nara sumber, perasaan dan proses enkoding tersebut terikat oleh tempat dan waktu tertentu serta latar budaya tertentu pula. Enkoding penyandian adalah kegiatan internal tetapi hasil penyandian tersebut bersifat eksternal. Artinya, pesan merupakan apa yang harus ditransmit dari nara sumber ke penerima dengan maksud tertentu, apakah sekedar memberi informasi, tidak bermaksud apa-apa, atau mempunyai maksud mempengaruhi orang lain untuk mencapai derajat efek tertentu
Simbol yang dibangun pesan adalah bahasa, ia merupakan proses dan hasil belajar masyarakat. Bahasa sebagai alat berkomunikasi, digunakan orang untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, pengalaman-pengalaman, tujuan, dan ungkapan perhatian sehingga sebuah komunitas dapat terbangun secara alami. Semua yang ada di dalam semesta, seperti objek-objek, peristiwa, pengalaman, hasil pemikiran, perasaan, diberi suatu label atau nama-nama tertentu.
Oleh karena itu, bahasa dianggap sebagai suatu sistem yang mampu menyajiakan realitas secara simbolik sehingga didalamnya termuat berbagai makna. Makna-makna dalam benda bersifat denotatif, sebagaimana adanya tetapi juga bersifat konotatif bergantung pada berbagai penafsiran oleh masyarakatnya.
Bahasa sebagai alat penyampaian pesan, tidak saja dalam berinteraksi antar sesama atau sebagi alat untuk berfikir, mempengaruhi persepsi, menyalurkan dan turut membentuk pikiran tetapi juga sebagai alat untuk menggalang kekuasaan, ideolegi, hegemoni, dan imperialisme. Bahasa mampu menyalurkan kepercayaan, nilai, dan norma, ide-ide dan pesan-pesan. Bahasa pada akhirnya berfungsi sebagai suatu mekanisme untuk berkomunikasi dan sekaligus sebagai pedoman atau metode untuk melihat realitas sosial.

0 komentar: