Interaksi Lintas Budaya

Manusia merupakan makhluk yang paling tinggi mobilitasnya sejak awal kehadirannya dimuka bumi Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah dapat hidup seorang diri. karena Sejak kehadirannya di muka bumi, manusia harus hidup berkelompok dan membina kerjasama dalam menghadapi tantangan beradaptasi terhadap lingkungannya. Dengan demikian, setiap individu tidak bebas dari dan senantiasa terlibat dalam interaksi sosial dengan sesama warga kelompoknya sejak ia dilahirkan. Maka dalam hal ini diperlukan hubungan atau interaksi antar sesamanya, sehingga dari interaksi tersebut akan terbentuk sebuah kelompok sosial.
Mengingat kenyataan sosial tersebut, setiap manusia harus belajar mengenal diri dan lingkungan sosialnya agar ia mampu berinteraksi dengan sesama di sekitarnya secara tertib dan efektif. Sejak dini, setiap manusia mulai belajar tentang berbagai kedudukan dan peran-peran sosial yang melandasi pola-pola interaksi sosial dalam lingkungannya. Pada waktunya ia pun harus mampu memainkan peran-peran sosial sesuai dengan kedudukan-kedudukan sosial yang disandangnya. Keterlibatan dalam interaksi sosial dalam sebagian besar waktunya itu, tanpa disadari telah memperkuat kesadaran akan identitas kelompoknya yang membedakan dengan kelompoknya lainnya.
Kelompok sosial di Indonesia tersebar diberbagai kepulauan nusantara dengan beranekaragam kebudayaan, suku, dan agama. Mobilitas penduduk yang ada di belahan nusantara tersebut cukup tinggi, sebagaimana tercermin dalam toponomi perkampungan menyandang predikat suku bangsa ataupun golongan sosial dikebanyakan perkotaan di Indonesia. Kenyataan ini membuktikan betapa tingginya mobilitas penduduk yang tercermin dalam pola-pola interaksi sosial lintas budaya yang berlangsung dalam kesetaraan.
Setiap kelompok sosial, apapun perwujudannya, telah mengembangkan pola-pola interaksi yang membaku, sehingga dapat menjamin ketertiban interaksi sesama warga. Tapi terdorong oleh kebutuhan hidup yang tidak mungkin dipenuhi dalam lingkungan sendiri, atupun karena dorongan keingintahuan mencari pengalaman baru, maka mereka sering sekali melakukan perjalanan dan terlibat dalam interaksi sosial lintas budaya.
Akibat dari interaksi sosial antar lintas budaya ini, tidak jarang dapat mengubah kepribadian masing-masing suku bangsa atau bahkan akan melahirkan suku-sukubangsa baru sebagai hasil dari asimilasi. Penduduk setempat yang berdatangan dari berbagai tempat dengan keanekaragaman latar belakang kebudayan mereka itu, berhasil menyatukan diri dengan suku bangsa yang didatanginya. Masing-masing suku bangsa maupun golongan yang ada, melepaskan simbol-simbol kesukubangsaan mereka dan kemudian mengembangkan simbol-simbol kesukubangsaan baru.
Namun tidak jarang terjadi interaksi social lintas budaya yang tidak imbang, sehingga menimbulkan kesan adanya dominasi suatu suku bangsa dan kebudayaan tertentu atas suku bangsa ataupun golongan social dan kebudayaan-kebudyaan lainnya.
Kedatangan kebudayan-kebudayaan baru ke sebuah suku bangsa akan memakan kebudayaan yang ada. Inilah yang terjadi pada saat masa colonial. Dimana bangsa-bangsa colonial mengubah segala sistem dan tatanan kehidupan bangsa indonesia dengan pengaruh-pengaruh kebudayaaannya. Mereka mengubah aturan-aturan dan kebudayan yang ada, dengan kebudayaan mereka sehingga apa yang menjadi ciri kepribadian bangsa Indonesia sudah tidak terlihat lagi. Hal ini tentu memberikan perubahan yang cukup besar bagi bangsa Indonesia. Baik itu perubahan yang sifatnya positif maupun perubahan yang sifatnya negative.
Tidak hanya pada masa colonial hal ini tejadi. Pada masa ini, kita juga merasakan hal yang sama dengan diatas. Dimana pola kehidupan bangsa indonesia telah dipengaruhi oleh kehidupan bangsa-bangsa barat. Mulai dari cara berpakaian sampai dengan cara bicara. Pengaruh ini sangat terlihat jelas dalam kehidupan kita, terutama bagi para pemuda dan pelajar. Mereka sudah tidak lagi menggunkn kebudayyan timur mereka. Hal ini tentu berdampak pada semua aspek kehidupan, baik itu dalam bidang ekonomi, politik dan sosial budaya.
Adapun dampak dalam bidang ekonomi adalah kurangnya jumlah produksi bangsa kibat dari penduduk indonesia yang sudah tidak mau lagi menggunkan barang-barang lokal. Mereka lebih senang menggunakn barang-barang impor. Dalam bidang politik, kita bisa lihat bagaimana ketergantungan bangsa kita terhadap bangsa-bangsa barat yang notabenenya sebagai bangsa adidaya, bangsa pendonor terbesar. Dalam bidang sosial budaya seperti yang telah dijelaskan diatas tadi bagaimna perubahan sikap dan tinkah laku serta cara bergaul ank-anak muda. Mereka sudah tidak membawa kebudayan bangsa indonesia sebagai pengatur sikap dan tingkah laku
Perbedaan perubahan pada masa kolonial dan masa se3karang adalah terletak pada bagaiman cara masuknya kebudayaan-kebudayaan baru kedalam kebudayaan bangsa Indonesia. Pada masa kolonial, kebudayaan masuk melelui tekanan dan paksaan dari bangsa kolonial. Tapi pada masa ini masuknya kebudayaan baru ke Indonesia lebih menggunakan media-media atau hasil-hasil produksi
Kebudayaan yang diwariskan sejak nenek moyang kita lenyap akibat pengaruh dari bangsa-bangsa barat sehingga corak kehidupan bangsa kita pun berubah. Indonesia sudah tidak menampkkan ciri kepribadian bangsa yang dulu. Pengadopsian kebudayaan bangsa-bangsa barat lebih ditonjolkan.

0 komentar: