Surat Ibu Kepada Anaknya

Kepada yang ibu cintai sepenuh hati
Buah hatiku di …………

Assalamualaikum warohmatullaahi wabarokatuh
Bagaimana kabarmu sayang… ibu harap ananda selalu dalam lindungan Allah . Ibu terpaksa menulis surat ini… rasa kangen di dada ibu ini rasanya sudah tak tertahankan lagi sayang. Ibu minta maaf …kalau kedatangan surat ibu ini mengganggu ananda. Maafkan ibu kalau surat ini membuat ananda malu dengan teman-teman. Sungguh…tidak ada niat ibu seperti itu….hanya untuk melepas kangen ibu sama ananda
Sayang….ingin rasanya ibu menjengukmu ke sana. Wajah ananda selalu muncul di mimpi ibu. Tapi niat ibu itu selalu ibu kubur dalam-dalam. Hanya satu alasan ibu sayang…. Ibu ingin anak ibu bisa mandiri …..ibu ingin anak ibu bisa merenungi kesendirian tanpa kehadiran ibu disamping ananda.
Anakku yang ibu sayangi…….Ibu bangga dengan ananda. Disaat teman-teman ananda mengisi hari-hari Ramadan-nya dengan bermain dan bersenda gurau, …anak ibu justru belajar agama di tempat yang jauh dari ibu. Sungguh senaaaa…ng sekali hati ibu ini. Ibu harap acara ini bisa mendorong ananda menjadi anak yang sholeh …….sebagaimana yang ibu harapkan ketika ibu berjuang dengan susah payah melahirkan ananda. …….Ketika wajah lucu ananda yang mungil baru muncul di dunia ini, hanya satu doa ibu saat itu… “Duhai Allah… Engkaulah yang menggenggam takdir anakku ini. Aku mohon ya Allah jadikan anak yang ada dihadapanku sebagai anak yang sholeh…. Jadikanlah ia anak yang bisa membahagiakanku kelak dihadapan-Mu ya Allah…. Jadikanlah ia anak yang dapat membuatku bangga kelak di hadapan-Mu ya Allah. Pertemukan kami kelak di surgamu ya Allah . Jangan Engkau pisahkan kami ya Allah. Jangan Kau biarkan aku memasuki surga-mu tanpa anak ini disampingku”. Sampai sekarang ibu selalu ulang-ulang doa ibu itu. Ibu sangat berharap doa ibu itu menjadi kenyataan. Dan sekarang ibu mulai yakin bahwa anak ibu adalah anak yang shaleh. Kesediaan ananda mengikuti acara ini membuat ibu yakin bahwa doa itu akan menjadi kenyataan. Sungguh bahagiaaaa ..sekali hati ibu ini.
Anak-ku yang sholeh…..Ibu tidak tahu berapa lagi ibu diberi kepanjangan umur oleh Allah . Ibu merasa ibu sudah tua. Ibu merasa malaikat maut tidak lama lagi akan datang menjemput ibu. Mungkin surat ini surat terakhir ibu untuk ananda. Mungkin ketika ananda pulang, ibu sudah tidak ada lagi di rumah. Maafkan ibu ya sayang….kalau selama ini ibu banyak salah sama ananda. Maafkan ibu kalau ibu sering marah dengan ananda. Nyuruh ananda mengaji, belajar, puasa,sholat yang mungkin ananda merasa nggak suka. Jangan dendam sama ibu ya sayang. Bantu ibu dengan doa-doamu ya sayang. Hanya doa yang ibu harapkan dari ananda. Hanya doa ananda, amal jariyah dan kerja dakwah ibu selama ini yang dapat meringankan beban ibu di hadapan Allah.
Ananda tersayang….ibu titip… rawat papa dengan baik ya sayang. Sayangi beliau sebagaimana ananda menyayangi ibu selama ini. Papa sudah banting tulang supaya ananda bisa sekolah seperti teman-teman yang lain. Buat lah papa bahagia dengan keshalehan dan budi pekerti yang baik. Jangan sakiti hatinya sedikitpun ya sayang.

Wassalam


Dari Ibumu

LaNjUT......

"CAHAYA ILAHI" (Andai ALLAH punya answering Machine)

Bayangkan bila pada saat kita berdoa dan mendengar ini:
"Terima kasih, Anda telah menghubungi Rumah Allah ".

Pilihlah salah satu:
* Tekan 1 untuk 'meminta'.
* Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
* Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
* Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."

Atau, bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:
"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain.
Tetaplah menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."

Bisakah Kita bayangkan bila pada saat berdoa, Kita mendapat respons
seperti ini: "Jika Anda mau bicara dengan Malaikat Jibril, tekan 1.
Dengan Malaikat Mikhail, tekan 2. Dengan malaikat lainnya, tekan 3.
Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu, tekan 4.
"Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka, silahkan
tunggu sampai Anda tiba disini!!"

Atau bisa juga Kita mendengar ini :
"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari
ini, Silakan mencoba kembali esok hari." "Kantor ini ditutup pada akhir
minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9 pagi."

Alhamdulillah, Allah SWT mengasihi kita, Kita dapat menelponNya setiap saat!!!
Kita hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Kita. Karena bila memanggil Allah, Kita tidak akan pernah mendapat nada sibuk. Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.

Ketika Kita memanggil, gunakan nomor utama ini: 24434
2 : shalat Subuh
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya

Info selengkapnya ada di Buku Telepon berjudul "Al Qur'an Karim &
Hadist Rasul"

Langsung kontak, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa biaya. Nomor
24434 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak terbatas dan
seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun !!.

LaNjUT......

Berpikir Positif Kepada Diri

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya,
"Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.
"Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia....."
Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.
Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.
"Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya.
Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir.....
"Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya.
"Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia
"Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".
Dengan suara perlahan suaminya berkata
"Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang.... "
Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanyaapa adanya... Ia menunduk dan menangis.....
Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.
Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ? Kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.

LaNjUT......

Apa Yang Telah Kita Persiapkan ???

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

LaNjUT......

Nyanyian Para Ikhwan

Aku datang membawa mahar
Katakan padaku wahai ukhtiy
Seberapa banyak yang kau inginkan
Agar walimu melepasmu untukku

Aku datang membawa Cinta
Katakan padaku wahai wanita shalihah
Seberapa banyak hafalan yang kau perlukan
Supaya Aku bisa menjadi imammu

Aku datang membawa harapan
Katakan padaku wahai bidadari dunia
Berapa banyak pengalaman organisasi
Yang harus ku jalani
Supaya engkau yakin dengan diriku

Inilah nyanyian para ikhwan
Yang didendangkan dengan tekad dan nekad
Wahai wanita shalihah, wahai ukhtiy
Kami selalu bersiap siaga
Saat harap saat rindu
Aku datang membawa cinta dan mahar
Untuk melangkah ke gerbang kehidupan baru
Rumah tangga Sakinah, Mawahdah, Warohmah

LaNjUT......

Sujudku Di Atas Selendangnya

Sujudku di atas Selendangnya di Fitri tahun ini
Berharap kehangatan pelukannya
Berharap mendengar tutur Cintanya
Berharap belaian lembut tangannya
Berharap manis senyumnya
Berharap putih berseri wajahnya
Berharap tulus kasih sayangnya

Ibu, Lebaran kembali lagi tahun ini
Tapi ada yang hilang, ada sekat & jarak yang jauh di antara kita
Ada dinding bumi pemisah yang tak mungkin mepertemukan kita
Alam Ruh dan Jiwa yang tak lagi Menyatu

Ibu, Biarkan aku bersujud diatas selendangmu
Supaya aku bisa merasakan hadirmu
Supaya aku bisa menatap wajahmu
Supaya aku bisa merasakan kecupan manis di dahiku

Ibu, maafkan aku karena tak mengunjungimu Lebaran ini
Aku tidak bisa membersihkan halaman rumahmu dari daun-daun kering dan rerumputan
Aku tidak sempat menyirami taman rumahmu dengan air mawar

Ibu, Aku hanya bisa mengirimkan doa untukmu
Sebagai bingkisan Cinta dan baktiku padamu
Semoga Allah menjadikanMu bidadari dalam SyurgaNya
Dan semoga di dalamnya juga kelak kita akan dipertemukan

LaNjUT......

Cerita di balik namaku

Buleigh Julius Seserat Dede Dilexco Makbul
Juliet Seserat Dede Dilexco Makbul
.......................................................
......................................................
Dede Tsabitul Misyaq Hafiz Makbul

Diatas itu adalah beberapa kandidat nama yang pernah diberikan Bapak menjelang kelahiranku. Ada 5 kandidat nama. Tapi yang beliau ingat sampai sekarang hanya tiga. Katanya, dua kandidat nama lainnya tidak lebih menyeramkan dari 2 nama teratas. Dan namaku yang sekarang, hanyalah alternatif terakhir. Itupun hanya karena faktor keberuntungan saja akhirnya aku mendapatkan nama itu.

Ceritanya panjang. Menjelang detik-detik kelahiranku, bapak sibuk mencarikan nama untukku. Dan itulah beberapa alternatif nama yang didapatkannya. Nama-nama ini pernah coba dikonsultasikan kepada kakekku. Bukan semuanya. Tapi sebagian. Hanya empat nama. Namaku yang sekarang, tidak masuk dalam nominasi nama yang diajukan. Nama yang tereliminasi. Apa yang terjadi ? Kakekku marah besar. Bahkan saking marahnya, Bapakku diacungkan golok ke arahnya.
“Kau ini. Kenapa kau mau berikan nama anakmu nama orang gila, nama aneh. Memangnya, kamu keturunan Yahudi ? Coba lihat namamu ! Nama itu juga doa tau !”
Tanpa pikir panjang, bapakku meninggalkan kakek tanpa berkomentar. Katanya, sempat merinding melihat golok itu. Karena selama ini, kakek tidak pernah main-main dengan apa yang dilakukannya.
Mendengar komentar dan kemarahan kakek, bapak tidak punya pilihan lain. Bapak kemudian memasukkan kembali namaku yang sekarang sebagai nominasi. Itupun dengan sangat berat hati. Karena keterpaksaan. Karena bapak masih lebih memilih salah satu nama diantara 4 nama yang lainnya.
Pusing bapak menentukan. Di satu sisi, bapak mengharapkan salah satu dari 4 nama menyeramkan itu. Di sisi lain, bapak terbayang dengan golok yang diacungkan kakek ke arahnya. Tidak ada istikharah. Tidak ada doa untuk menentukannya. Karena mungkin bapak sudah sangat yakin dengan 4 nama menyeramkan itu.
Bapak kemudian mendapatkan ide untuk menentukan salah satu diantara nama itu. Bapak menuliskan kelima nama di atas kertas yang berbeda. Kertas itu kemudian digulung dan dikocok layaknya arisan.
Setelah diundi dan dengan harap-harap cemas, ternyata nama yang keluar adalah nama yang paling tidak diharapkan oleh bapak. Namaku yang sekarang. Bapakku masih berat menerimanya.
Masih belum puas, nama itu diundi lagi. Dan hasilnya, namaku yang sekarang kembali terpilih. Bapak pusing. Karena nama yang tidak diharapkan kembali keluar.
Belum puas juga, bapak mengundi lagi nama itu. Dan bertekad, nama yang keluar kali ini itulah yang akan menjadi namaku. Setelah menarik napas panjang, bapak kemuadian mengocok kembali undian nama itu. Dan hasilnya sama. kembali, namaku yang sekarang keluar sebagai nama terpilih. Bapak pasrah. Dalam hati beliau berkata
“Mungkin memang ini nama terbaik untuk anakku. Nama yang semoga diberkahi oleh Allah”
Ketika aku bertanya kenapa ada nama-nama itu ? Bapak menjawab sambil tersenyum geli. Alasan yang pertama, Beliau ingin memadukan nama islami dengan nama yang aneh itu. Hanya mau mebuat orang pusing. Apakan saya Islam atau bukan. Karena diakhir nama aneh itu, ada nama bapakku. Makbul, yang didahului dengan nama-nama aneh.
Alasan yang kedua, bapak mengkhayalkan kelak setelah aku dewasa, aku akan menjadi TGKH besar. Atau minimal menjadi ustadz saja. Dan dengan nama itu, masyarakat akan bingung dan bertanya-tanya. Masyarakat terkecoh. Apakah saya benar-benar ustadz atau bukan, dengan struktur nama yang aneh itu. Dan bapak ingin memebuat fenomena seorang TGKH atau ustadz, memiliki nama seperti nama nasrani.
Alasan yang ketiga, nama-nama itu hanyalah pelesetan atau singkatan tanggal lahirku. Supaya mudah diingat. Dan itulah hasil dari pelesetan dan singkatan yang sesuai untuk itu.

LaNjUT......

Ke Makam Bunda

Nasyid by : UNIC

Kami mengunjungi pusara bunda
Sunyi pagi disinari surya
Wangi berseri puspa kamboja
Menyambut kami mewakili bunda

Tegak kami di makam sepi
Lalang-lalang tinggi berdiri
Dua nisan terkapar mati
Hanya papan dimakan bumi

Dalam kenangan kami melihat
Mesra kasih bunda menatap
Sedang lena di dalam rahap
Dua tangan kaku berdekap


Bibir bunda bersih lesu
Pernah dulu mengecupi dahiku
Kini ku rasakan kasihnya lagi
Meski jauh dibatasi bumi

Nisan batu kami tegakkan
Tiada lagi lalang memanjang
Ada doa kami pohonkan
Air mawar kami siramkan

Senyum kemboja menghantar kami
Meninggalkan makam sepi sendiri
Damailah bunda dalam pengabdian
Insan kerdil menghadap Tuhan

Begitu bakti kami berikan
Tiada sama bunda melahirkan
Kasih bunda tiada sempadan
Kemuncak murni kemuliaan insan

LaNjUT......

10 Jam Bersamanya

Lion Air itu berhenti sempurna. Bergegas aku berdiri brsiap untuk turun. Terasa waktu berjalan begitu lamban. Karena detik-detik saat itu adalah detik yang sangat berharga dalam hidupku. Semakin tidak sabar dan tidak tenang diri ini.
Sedikit lega setelah Pramugari memprsilahkan para penumpang turun. Pintu pesawat terbuka. Satu persatu anak tangga itu aku turuni dengan langkah yang sedikit tergesa. Jalan aku percepat. Melampaui para penumpang yang lainnya. Masuk ke ruang pengambilan barang bagasi. Lama. Tas para penumpang belum terlihat. Semakin cemas kurasakan.
Handphonku berdering dibalik saku celanaku.” Amaq memanggil”. Segera kujawab.
“Dimana nak ? Sudah Sampai bandara ?” suara bapakku menyapa dengan nada panik
“Alhamdulillah baru turun pesawat. Tinggal mengambil barang bagasi”
“Tidak bisa dipercepat ? Barang apakah yang di bagasi ?”
“Cuma tas yang berisi pakaian beberapa lembar”
“Sudah ! Tinggalkan saja. Nanti diganti”
“Aduh, tanggung amaq. Sebentar lagi”
“Ya sudah kalau begitu. Cepat dan segera !”
Semakin resah bercapur panik hatiku. Tanganku yang memgang Handphon, tanpa sadar mulai bergetar. Butiran-butiran keringatku mulai keluar melalui pori-pori kulitku. Membasahi kemeja putih lengan panjang yang aku kenakan saat itu.
Carousels mulai berjalan. Berdatangan satu persatu tas para penupang. Tapi belum juga nampak tasku. Kulirik jam tangan. Waktu menunjukkan Pukul 15.30. Taskupun datang . Segera kuambil dan keluar setelah memperlihatkan kartu bagasi kepada petugas. Tidak ku perhatikan lagi orang banyak disekitarku. Aku sibuk mencari jemputanku. Akupun bertemu dengannya dan segera naik ke atas mobil.
Kijang merah yang aku tumpangi berlahan keluar meninggalkan area bandara menuju RSUD Mataram. Jaraknya tidak begitu jauh dari Bandara. Dengan kecepatan penuh Kijang itu membawaku. Handphoneku berdering kembali.
“Dimana ?” kali ini bibi yang menelponku
“Sedang diperjalanan menuju RS”
“Cepat ! Jangan sampai kau terlambat !”
Semakin kencang degup jantungku. Aku hanya berdoa dan pasrah saat itu.
Kijang Merah itu masuk ke area parkir Rumah Sakit. Setelah berhenti sempurna, aku bergegas keluar berjalan ke dalam rumah sakit. Semua barang bawaanku aku tinggalkan di dalam mobil. Aku berlari-lari kecil mencari kamar 212.
Kesasar ! Lorong rumah sakit yang aku lewati, buntu. Pasalnya, baru pertama kali aku masuk ke dalam rumah sakit itu. Aku menelpon bapak. Katanya, menaiki tangga ke lantai 2 kemudian belok kanan. Aku ikuti petunjuk itu. Kunaiki tangga menuju lantai 2. Sama. Di lantai 2 semuanya sepi. Gelap. Tapi aku ikuti saja petunjuk bapak belok kanan. Kulihat hanya beberapa kamar yang menyala lampunya. Selainnya gelap. Tidak ada satu orangpun yang aku jumpai.
Aku turun kembali dan menelpon bapakku lalu mengatakan kalau petunjuk yang beliau kasih salah. Aku masuk melalui pintu yang lain. Yang akau dapati adalah ruang UGD. Aku bertanya pada suster yang aku temui. Tapi dia hanya menunjukkan sekenanya saja.
Aku keluar dari UGD, dan masuk lagi melalui pintu yang lain. Kembali aku menelpon bapak. Menanyakan jalan menuju kamar 212 Bangsal Mawar. Tanpa tanya lagi, aku suruh saja bapakku keluar. Tapi sebelum melanjutkan kata-kata, aku telah bertemu dengannya.
Segera bapak menuntunku berjalan menuju kamar 212 Berlari-lari kecil. Satu persatu kamar aku lewati sambil memperhatikan nomor yang ada di atas pintunya. 220, 219, 218, 217, 216, 215, 214, 213, Dan akhirnya aku menemukan nomor itu. Nomor kamar yang berada di ujung lorong RS itu.
Aku menarik napas panjang bersiap memasuki kamar itu. Ku Ucap salam. Seketika semua mata yang berada di kamar itu tertuju padaku. Mataku tertuju pada sosok kurus, lemah tak berdaya di atas ranjang di papah oleh 2 perempuan tua.
Pukul 16.00. Ya Allah, ternyata Ibuku. Hampir aku tidak mengenalinya. Tidak ada yang tersisa dari tubuhnya selain tulang yang dilapisi kulit. Mataku dan matanya beradu. Kulihat mata yang berkaca-kaca. Tatapan rindu yang meluap. Tatapan cinta yang menyimpan berjuta makna dan rahasia.
Aku memeluknya erat. Mencium keningnya dengan sepenuh cinta. Tidak bisa lagi aku menahan air mata yang menerobos keluar. Tapi segera ku hapus. Mencoba bersikap tenang.
Ibuku hanya bisa meringkih. Ringkihannya mengisyaratkan kalau dia juga menangis. Tapi sudah tidak sanggup lagi untuk bersuara. Yang terdengar hanya ringkihan. Matanyapun sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan airnya dalam jumlah yang banyak. Kecuali hanya beberapa tetes saja. Semua mata dalam ruangan itupun ikut meneteskan air mata. Sementara bapak dan bibiku keluar tidak bisa menyaksikan peristiwa saat itu.
Suasana sudah sedikit santai. Aku sibuk bertanya pada kedua perempuan tua itu tantang semuanya. Tentang ibuku. Mereka adalah nenek-nenekku. Sampai akhirnya bapak datang menemuiku dan berbicara denganku.
“Beberapa waktu sebelum kamu tiba, aku mengira kalau kamu tidak akan bertemu dengan ibumu. Pasrah dan berdoa. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Ibumu tidak sadarkan diri. Napasnya sudah mulai tersedat. Kukira dia akan pergi untuk selamanya sebelum kamu tiba di Rumah Sakit ini”
“Setelah kamu datang, baru dia membuka matanya dan tersadar. Bapak juga kaget. Tapi mungkin kamulah yang ibumu harapkan. Kamulah yang ibumu tunggu. Sekarang, rawatlah ibumu ! Jaga dia dengan sepenuh hatimu. Waktunya kamu mrnunjukkan kebaktianmu padanya”
Pukul 18.15, Adzan Maghrib terdengar. Aku masih menggenggam tangan ibuku sambil mengelu-elus kepalanya. Seperti yang beliau lakukan padaku ketika sehat dulu. Ku kecup Keningnya dan aku bergegas mengambil air wudhu untuk shalat maghrib. Sekalian aku Jamak untuk Isyanya.
Doa aku panjatkan kepada Sang Penggenggam Jiwa. Memohon kesembuhan untuk ibu tercinta. Menabahkannya. Melindunginya dengan kasih sayangnya. Mencintainya dengan ketinggian RahmatNya. Mengasihi dan menjaga di setiap napasnya.
Pukul 18.30, Terdengar suara isak tangis dari arah kamar tempat ibu dirawat. Aku bergegas berlari menuju ke arah itu. Ya Allah, Ibu tidak sadarkan diri. Napasnya tersengal. Tidak ada gerakan. Lemas terkulai tak berdaya. Aku mencoba menenangkan mereka yang menangis. Dengan tangan bergetar kubuka lembaran Al-Quran yang aku genggam. Satu-persatu ayat Surat yaasin aku baca.
“Maka Maha Suci Allah yang ditanganNya kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepadaNya kami dikembalikan”
Pukul 19.45Perlahan Ibu membuka mata. Napasnya sudah mulai normal kembali. Aku menuangkan beberapa sendok air putih ke mulutnya. Ibu menggenggam erat tanganku. Menatapku lekat-lekat. Aku tidak bisa membaca isyarat yang tersimpan di pandangnya. Aku membalas dengan senyuman, setelah itu ku kecup lagi dahinya.
Terdengar suara lemahnya berbisik kepadaku untuk melakukan sesuatu “Nak, tolong mengaji untuk ibu. Aku senang mendengarmu membaca Al-Quran”
Kusandarkan kepalanya di dadaku. Ku usap keringat di wajahnya. Membelai rambutnya sambil membacakan ayat demi ayat firman Rabb Penguasa Alam.
“Dan setiap ummat, semuanya akan di hadapkan kepada kami”
Tanpa kusadari, ibu tertidur lelap. Tidak tahu kenapa aku sangat takut melihatnya memjamkan mata, walaupun untuk tertidur. Tapi ku serahkan semuanya kepada keputusan dan ketentuan Sang Khalik. Ku lanjutkan tilawahku dengan suaraku yang sedikit serak diikuti dengan aliran air mata di pipiku.
“dan telah kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua”
Malam semakin larut. Suasana semakin sunyi. Semuanya tertidur. Hanya aku yang ditemani Ayat-Ayat Suci yang kubaca. Ku melirik kembali jam tanganku, pukul 22.30.
Ibu masih tertidur pulas di dadaku. Sesekali kuraba dadanya, memastikan jantungnya masih berdetak. Masih normal. Menghilangkan rasa cemas dan gelisah di dadaku. Ayat-ayat itu terus ku baca tanpa henti sembari membelai lembut rambut ibu.
“Melainkan kami selamatkan mereka karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu”
Ibu terbatuk. Bersamaan dengan itu, kedua matanya terbuka dari tidur lelapnya. Berat dan susah. Begitu gambaran yang terlintas di kepalaku ketika mendengar suara batuknya. Kini, untuk bersuara dalam batuknyapun ibu sudah tidak sanggup. Tercekik. Tak kuasa aku mendengarnya.
Kuambilkan kain untuk membersihkan mulutnya. Memaksanya untuk mengeluarkan lendir dari tenggorokannya. Tercekik menyakitkan. Tertahan di tenggorokan, susah untuk dikelurkan. Butuh waktu untuk itu. Ya Allah, Lindungilah Hambamu yang lemah tak berdaya ini.
“Nak, pijit-pijitkan kaki dan belakang ibu”
Dengan segera aku memenuhi permintaannya. Kali ini matanya tidak terpejam. Lekat memandangku. Tapi lagi hanya senyuman yang aku berikan untuk mengungkapkan tapsiranku terhadap tatapnya. Walaupun aku tidak pernah tau rahasia yang tersimpan dibalik tatapannya itu.
Sambil memijitnya, aku mencoba berdialog bersama ibu. Menawarkannya untuk makan sesuatu. Karena Persis selama dua minggu terakhir, ibu tidak pernah makan kecuali sedikit saja. Itupun hanya makan bubur.
“Bu, makan ya. Saya suapi”
Ibu menjawab dengan isyarat menggelengkan kepala. Dan aku tau apa maksudnya.
“Sidikit saja Bu. Supaya Ibu ada tenaganya. Supaya cepat sembuh. Supaya kita cepat keluar dari rumah sakit ini”
Dengan berbagi bujukan, akhirnya ibu mengangguk. Segera kuambilkan bubur dan kusuapi beberapa sendok setelah itu kutuangkan air minum untuk membantu menelan.
Alhamdulillah. Hatiku sedikit lega setelah melihatnya makan. Rona wajahnya pun mulai berubah. Berbeda dengan ketika aku datang. Aku melihat semangat di mata Ibu. Melihat ketegaran di wajahnya. Ada harapan di kerutan dahinya. Aku menarik napas panjang. Terima Kasih ya Allah telah menjaga Ibu dalam penjagaanMu yang sempurna.
Pukul 00.00 Handphoneku berdering. Satu pesan masuk. Kubaca pesan itu.
“Sekarang kau sudah bersam ibumu. Kasihi dan sayangi dia. Rawat Ia dengan sepenuh cintamu. Perhatikan Ia dengan seluruh kemampuanmu”
Itulah pesan yang tertulis di HP ku dari seorang teman. Tidak sampai disitu. Dia bahkan mengajariku cara merawat orang sakit. Memberiku saran supaya proses penyembuhan ibu cepat. Menghibur yang sakit sehingga tidak bosan. Dan banyak lagi. Aku berterima kasih padanya. Terima kasih teman.
Aku masih memijit Ibu. Aku mencoba berbicara berbincang dengannya. Walaupun aku sudah tau tidak akan ada respon suara yang akan aku dapatkan. Bahkan aku tidak yakin ibu bisa mendengarkannya dengan sempurna.
“Bu, besok aku mau ke Toko membeli perlengkapan hias untuk ibu. Aku mau membersihkan badan Ibu. Memadikan Ibu, menjadikan ibu harum, memakaikan Ibu parfum, memberi bedak pada pipi ibu. Memberi warna merah pada bibir ibu dengan kincu, akan ku sisiri rambut ibu yang kusut, memberinya minyak supaya kelihatan rapi. Menggantikan pakaian ibu dengan yang baru. Pokoknya, besok ibu akan kembali muda. Akan kembali cantik seperti biasanya. Bahkan lebih cantik dari miss univers tercantik sekalipun”
Aku melihat anggukan dan senyuman di bibirnya. Walaupun hanya sedikit. Tapi aku tau itu adalah senyuman. Kembali diri mengucapkan syukur pada Sang Penggenggam Jiwa. Ada harapan. Terima kasih ya Rabb.
Malam semakin larut. Lebih sunyi. Lebih sepi. Dan kini hawa dinginnya mulai terasa menyapa kulit. Aku masih memijit kaki dan bagian belakang ibu.
Kulihat tangannya mencoba menggapai. Bergetar hebat. Tidak ada lagi tenaga untuk mengangkatnya. Kusambut tangan itu dan menuntunnya untuk menggapai yang ia mau. Ke Arah wajahku. Kulekatkan tangannya ke wajahku. Lekat sekali. Menggenggamnya supaya ia tidak menjauh dari wajahku. Aku ingin tangan itu terus diwajahku. Aku ingin tetap seperti itu. Mengusap dahiku. Membelai pipiku. Sesekali tangannya menyentuh jenggot tipisku. Aku teringat lebaran satu tahun yang lalu ketika aku berbincang dengan ibuku.
Waktu itu Ibu merangkulku. Dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya sekarang terhadapku. Mengusap dahi dan kepalaku. Mengelus pipiku. Ada benjolan disana.
“De, ini milik siapa nak ?” Pertanyaan yang membuatku kikuk
“Ya Milikku lah bu, kan adanya di pipiku. Masa miliknya orang ?” Sambil tersenyum sipu aku menjawab
“Ah yang benar ? Biasanya kalau ada yang seperti itu di wajah, pasti ada kaitannya dengan hati. Hayoooo...... Siapa ?” Ibu mencoba menyelidiki
Aku hanya nyengir mendengar pertanyaan itu tanpa memberikan jawaban.
Kini ibu mengalihkan perhatiannya ke jenggotku. Merenggut-renggutnya lembut.
“Nak, janganlah kau terlalu cepat pakai jenggot ! Itu jenggot dicukurlah. Nanti kamu cepat kelihatan tua”
“Wah, ini jenggot aku pelihara dan kurawat dari dulu supaya dia tumbuh dengan cepat, Sekarang disuruh cukur sama ibu” Pikirku
“Bu, Rasul saja dulu Jenggotan. Lebat malah. Rhoma Irama juga terkenal, salah satunya karena jenggotnya. Kalau orang-orang bilang, disetiap helai jenggot itu, ada malaikat bergelantungan lho bu !” Aku mencoba membela diri.
“Ya udah. Gak apa-apa. Yang penting tetap rapi. Tapi jangan sampai kepanjangan ya ! Kalau sudah kelihatan panjang, dicukur” Jawab ibu diplomatis.
Pukul 01.00. waktu yang menandakan hari kemarin telah berganti hari ini. Hari Jumat 26 Juli 2009. Aku masih memijit Ibu. Tiba-tiba aku lihat mulutnya bergerak. Ingin mengucapkan sesuatu. Aku dekatkan telingaku di depan mulut Ibu.
“Nak, kayaknya sudah waktunya ibu meninggalkanmu. Ibu harus pergi mendahuluimu. Dan sepertinya, adikmu tidak akan sempat menjumpaiku lagi. Adikmu tidak akan mendapatkan napasku. Adikmu tidak akan bertemu denganku” suranya lemah berbisik
Serasa syaraf ini mau terputus. Desiran darahku seperti aliran seterum yang merambat dengan sangat cepat. Jantungku memompa dengan kecepatan tinggi. Kembali tubuh ini bergetar panik mendengar kata-kata itu
“Bu. Ibu tidak boleh berkata seperti itu. Ibu akan sehat. Ibu akan kembali kerumah bersama-sama lagi dengan keluarga. Bercanda dan tersenyum bersama. Harus yakin dan optimis Bu ! Allah itu Maha Pemurah dan Maha Perkasa” Aku mencoba menepis kata-kata itu dari pikirannya. Menyemangatinya dan memotivasinya untuk sembuh. Bahkan aku sampai menceritakan tentang mukjizat-mukjizat yang di dapatkan seorang yang telah divonis akan meninggal karena penyakitnya.
“Ibu akan datang ke acara wisudaku nanti. Ibu akan tersenyum dan bangga melihatku memakai toga. Ibu akan mendampingiku ketika aku di pelaminan bersama menantu ibu. Ibu akan menggendong cucu-cucu ibu. Bermain dengan mereka. Dan bercerita untuk mereka ketika mereka ingin tidur. Ibu juga nanti tempat mereka mengadu ketika mereka diganggu temannya. Ibu juga akan menyaksikan mereka menjadi sarjana bahkan mendampingi mereka saat pesta pernikahannya. Dan Ibu juga yang akan menggendong cucu-cucuku kelak”
Hanya anggukan dari ibu sebagai balasan atas kata-kataku.
Pukul 01.30 Ibu meminta untuk dipanggilkan nenek. Aku bangunkan nenekku dan semua yang tertidur. Ada perasaan lain dikepalaku. Ya Allah, aku mengharap kepadaMu semoga tidak akan terjadi apa-apa.
“Aslm.. Smga Allah mberi pelangi dlm stiap Bdai, sbuah senyum dlm stiap cobaan N sbuah jwban utk stiap dO’a.. Amiin..Slmt Qiyaumullail kk’ shaleh. Smga sgla hajat qt dikbulkn Allah, amiiin,. Doa’ bt bunda trsyg smga cpt smbuh,amiiin,.” Sms dari adikku

Semakin panik dan gusar. Ditambah dengan isakan tangis semua orang yang berada dalam ruangan malam itu. Aku kembali mengangkat kepala ibu dan menyandarkannya di dadaku. Ku buka kembali lembaran surah Yasiin yang telah aku baca beberapa kali.
“Istighfar Bu ! Asyhaduallailahaillallah wa Asyhaduannamuhammadurrasulullah” Aku membisikkan diteling ibu.
Semakin kritis keadaan ibu. Hanya mata putihnya yang terlihat. Napasnya sudah mulai tak beraturan. Denyut nadinya kadang berdetak kadang berhenti. Aku masih melanjutkan bacaanku. Meletakkan tanganku di dada ibu memastikan denyut jantungnya.
Kulihat ibu seperti berdialog. Tapi aku tidak tau dengan siapa. Hanya mulutnya yang bergerak dan matanya seperti memberikan isyarat.
Asyhaduallailahaillallah wa Asyhaduannamuhammadurrasulullah” Ibu mengucap kalimat itu.
Pukul 02.00. Dan matanya terpejam. Tidak terbuka lagi. Dan itu untuk selamanya. Jantungnya berdetak semakin lemah. Semakin lemah. Semakin lemah. Dan kemudian berhenti berdetak. Mulutnya dingin membeku. Tangannya terkaku bersedekap. Ruhnya terbang bersama Ayat-ayatNya mengantarkan ibu menghadap Rabbnya. Melintasi bintang dan angkasa. Menuju pertemuan yang indah yang menjadi tujuan.
“sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka”
“mereka dan pasang-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan”
“Di Surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan”
“kepada mereka dikatakan ‘salam’ sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang”

LaNjUT......

Tulisan di Balik Foto Ibu

Tulisannya Indah, Cantik. Secantik wajahnya. Hanya sedikit goresan. Hanya beberapa kata yang tertulis dibalik fotonya yang sudah usang. Bahkan wajahnya sudah tidak jelas terlihat. Beberapa bagian warna dari foto itu juga sudah luntur karena lembab. Fotonya yang memakai pakaian adat pesta pernikahan berwarna putih sambil memegang nampan di atas bahunya. Ada sedikit hiasan bunga yang sengaja diselipkan di rambutnya. Bahasanya tidak seindah bahasa seorang penyair atau sastrawan. Karena Ibuku hanya lulusan Sekolah Dasar.
Aku tidak pernah melihat tulisannya sebelumnya. Aku pikir Dia tidak bisa menulis. Karena dia hanyalah lulusan SD. Tamat Tsanwiyahpun tidak. Aku hanya duduk terdiam membacanya. Buliran-buliran bening jatuh membaca tulisan itu. Terharuku membuncah. Tidak ada kata yang bisa aku ucapkan. Dibalik fotonya tulisan itu terukir indah. Tulisan terakhir untuk anaknya. Untukku dan adik-adikku. Tulisan dan pesan terakhir yang ditinggalkannnya.
Di akhir kalimat-kalimat itu, tertera nama-nama anaknya. Aku dan adik-adikku. Aku tersenyum ketika aku melihat namaku. Dede Lestari. Nama yang tidak aku tau dari mana datangnya. Ah, mungkin ibuku sendiri tidak tau nama panjangku. Makanya diganti saja seperti itu.
Yang aku bingungkan adalah tanggal yang tertera didalamnya. 1996. Apakah mungkin tulisan itu ditulis pada tahun itu ? Aku tidak tau.

TH : 1996
Juniati
Lekor, Jeneper Loteng
Jaman jeleng, Tahun 1996 M
Oh, anak-anakku, simpanlah !
Gambarku ini jangan kau
Sia-siakan. Lemaq mate,
Ndeq’ arak taoq gitaq.
Ingat-ingatlah anak-anakku. Okay.....
1. Dede Lestari
2. Aktris Monica
3. Pakrur Rozy
4. Aulia
Juniati
Lekor /13/2/1996


Note : jeleng = miskin
Lemaq = Besok
Mate = Mati
Ndek’ = Tidak
Araq = Ada
Taoq = Tempat
Gitaq = Lihat

LaNjUT......

Insan Teristimewa

Parasnya cantik. Secantik Ainul Mardiyah Bidadari di syurga. Senyumnya manis. Bagiku tidak ada tandingannya. Walaupun aku tidak pernah melihat mudanya. Tapi aku tau, dari parasnya yang mulai menua, ibuku memang manis dan cantik. Dari dulu sampai sekarang. Sampai Ia bertemu dengan Rabbnya. Sampai ia menutup matanya. Sampai selembar kain putih menutup wajahnya untuk selamanya. Wajahnya masih cantik, putih bersih bercahaya.
“Ibumu dulu adalah orang yang sangat cantik. Cantik sekali. Dulu dia adalah bunga di desa ini. Makanya tidak heran kalau banyak lelaki yang mendatanginya setiap malam dengan beraneka bawaan di tangannya” Kata bibiku menceritakan.
“Pakaian yang Ibumu pakai, selalu rapi dan anggun. Tidak pernah berpakaian sembarangan, memakai pakaian yang lusuh. Dia selalu menjaga penampilannya. Apalagi kalau mau pergi ke suatu tempat atau acara-acara tertentu”
“Rambut ibumu Hitam Lurus. Berkilalu lebat dan panjang. Panjang sampai ke betisnya. Selalu ia rawat. Tidak pernah membiarkannya kusut, kering dan kusam. Walaupun perawatannya menggunakan minyak Orang-Aring saja. Makanya, banyak yang menyatakan cintanya pada ibumu hanya karena alasan rambutnya”
“Wajahnya putih bersih. Padahal, perawatan yang dia pakai, tidak selengkap pemutih atau perawatan masa kini. Bagian yang paling dia sukai adalah bagian mulut dan matanya. Selalu pakai celak hitamnya. Menambah memesona wajahnya. Giginya selalu dirawat. Sehingga terlihat putih berjejer beraturan”
“Sikapnya santun dan ramah kepada semua orang. Makanya sampai saat ini, belum pernah Bibi dengar dia punya musuh atau masalah dengan masyarakat yang lain. Selalu menyapa duluan ketika bertemu orang yang dikenalinya”
“Senyumnya selalu terbuka lebar. Senyuman tulus dan ikhlas. Memberi kehangatan bagi yang melihatnya. Mendatangkan kedamaian pada orang yang dituju. Selalu cerah dan berseri. Walaupun mungkin dia sedang menghadapi masalah. Tapi tidak dia tunjukkan kepada orang lain. Sikap dan sifatnya selalu sama dalam keadaan suka maupun duka”
“Dibalik kecantikannya, ibumu adalah seorang pekerja keras. Walaupun tidak lulus tsanawiyah, kinerjanya tidak kalah dengan orang-orang yang lebih tinngi pendidikannya. Selalu bersemangat dalam kerja. Selalu berjuang untuk sebuah tujuan. Baginya, bekerja adalah syarat untuk mencapai tujuan keberhasilan. Bahkan beberapa hari terakhir menjelang kepergiannya, ia masih menanyakan kondisi tanaman yang ia tanami di sawahnya. Bahkan, ia pernah mau keluar dari rumah sakit hanya untuk melihat perkembangan hasil kerjanya itu”
“Hingga akhirnya, ibumu menikah dengan bapakmu. Entah bagaimana ceritanya mereka berdua bisa menikah. Padahal pertemuannya tidak terlalu lama. Dibandingkan dengan orang lain yang sudah lama mau sama ibumu”
“Setelah menikahpun, ibumu tidak meninggalkan kebiasaan mudanya. Selalu dirawat dirinya. Hingga tidak menghilangkan pesona mudanya. Kerja kerasnyapun tidak pudar. Terlebih setelah kamu dan saudara-saudaramu lahir. Tujuannya hanya kalian. Alasannya hanya kalian. Keinginannya hanya kalian. Kerjanya hanya untuk kalian. Hanya untuk kalian. Aku pernah tinggal bersama ibu dan bapakmu sampai beberapa waktu sapai kamu terlahir”
Hanya butiran-butiran bening yang keluar dari mataku mendengar cerita tentang sosok Ibu.Dan sekarang, Ibu telah pergi bersma kecantikannya. Membawa segenggam cita-cita yang belum terlaksana. Meninggalkan kenangan yang tiada kan terulang.
Aku hanya bisa berdoa dan berharap, semoga kecantikannya akan ia bawa sampai ke syurga karena amalan-amalannya. Hingga mengalahkan kecantikan para bidadari-bidadari penghuninya.

LaNjUT......

Dari Ibuku

Pasti menagis terisak ketika Ia menyambut keadatanganku. Bukan. Bukan karena sedih, tapi itulah ekspresi bahagia yang paling tingginya untukku. Memelukku dengan rengkuhan sayangnya. Menciumku dengan kasihnya. Membelai lembut rambutku dengan cintanya. Selalu begitu ketika aku datang padanya dalam waktu yang lama. Menggandeng tangan dan menuntunku masuk ke dalam rumah. Bukan hanya sampai kedalam saja. Dia menuntunku sampai aku merasa nyaman.
Suara tangisnya sudah tidak terdengar lagi, kini ia menjadi sibuk. Sibuk mengurusi diriku. Membersihkan rambutku dari debu-debu jalanan ketika angin meniupkannya di kepalaku. Bahkan ketika rambutku ia rasakan kering, dengan segera ia mengambilkan minyak rambut tradisional. Orang biasa menyebutnya Orang-aring. Menata rapi rambutku, menyisirnya hingga tidak terlihat kering dan kusut lagi.
Membantu melepaskan jaket yang aku kenakan. Sambil meniup-niup, mencoba menghilangkan keringat di leherku. Mengambil benda yang terdekat yang bisa di jadikan kipas. Di kipas-kipaskan ke tubuhku. Bahkan dengan nada yang sedikit panik, ia menyuruhku pergi menyiramkan air ke tubuhku untuk menghilangkan rasa panas. “Panas nak. Makanya kamu keringatan begini”
Ekspresi wajahnya mulai berubah. Ketika ia sudah melihatku merasa nyaman. Kini senyuman manisnya dapat kulihat jelas. Ada rahasia yang tersimpan di matanya. Ada banyak cerita yang terdapat di keningnya. Mengelus-elus bagian belakang tubuhku seraya menatapku tajam penuh cinta dan bahagia. Sesekali ia mengusap wajah kusamku dengan kain yang ia kenakan. Atau semampunya menyapu-nyapu wajahku dengan tangan lembutnya. Selalu menanyakan “Punya siapa ini” ketika ia menemukan benjolan kecil di bagian wajahku.
“Nak, ternyata kau sudah besar. Terkadang ibu tidak percaya kalau engkau terlahir dari rahimku. Engkau bukanlah anakku yang kecil dulu. Yang wajahmu penuh dengan tanah-tanah bekas engkau bermain. Yang setiap kamu makan, pasti meminta telur rebus. Yang perutmu tidak pernah kosong oleh makanan. Hingga engkau disebut-sebut si Besar perut oleh teman-temanmu. Tapi kini engkau telah menjadi lelaki dewasa, kekar dan tegar. Kedewasaan dalam berpikir, kekar dalam menjalani dan menempuhnya, tegar dalam menghadapinya. Kini kau sudah besar”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Bukan lagi anakku yang beringus belasan tahun yang lalu. Yang pipimu pasti dipenuhi olehnya ketika engkau mencoba untuk membersihkannya. Bahkan terkadang engkau menggerutu ketika ibu menyuruhmu membersihkannya dengan baik. Karena asyik dengan aktifitas bermainmu. Hingga ibu membantumu membersihkannya dengan sedikit memaksa. Tapi sekarang tidak ada lagi kulihat kotoran di wajahmu. Ibu ingin wajahmu selalu begini. Bersih memancarkan aroma kebaikan. Jangan lagi ada cela yang membuat wajahmu tertutup oleh kotoran. Bersihkan dan jaga ia selalu”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Bukan lagi anakku yang suka bermain lumpur dan pasir. Yang setiap kamu pulang pasti merubah warna pakaianmu dengan warna tanah. Walaupun ibu mengganti dengan yang baru, pasti akan berulang lagi seperti itu pada bajumu. Hingga terkadang membuat ibu marah, dan menjewer telingamu. Atau menyambuk badanmu dengan lidi. Atau memukul lenganmu dengan tangan. Hingga engkau menagis meraung. Dengan wajah polosmu, engkau berulang kali meminta ampun, berjanji untuk tidak mengulanginya. Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Tapi sekarang engkau sudah tau cara berpakaian rapi, bersih, dan santun. Baumu harum dengan wewangian. Ketika ada setitik noda di bajumu, dengan segera engkau membersihkannya. Itu menandakan engkau bisa santun dan sopan dalam berpenampilan. Jangan terlalu berlebihan. Jangan memamerkan. Karena bersih bajumu, akan kotor di pandangan orang ketika kesombongan menguasaimu”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Dulu bicaramu tidak jelas dan tidak beraturan. Membuat terkadang dirimu menangis ketika ibu tidak mengerti apa yang kau mau dan maksudkan. Menangis keras. Keras sekali. Sampai orang-orang datang menanyakan pada ibu sebab tangismu itu. Tapi aku Ibumu, sangat tau apa yang harus aku lakukan supaya tangismu terhenti. Telur cumi-cumi. Ya. Telur cumi-cumi. Itulah pereda tangismu. Telur cumi-cumi dalam sebuah mangkok besar. Tapi sekarang bicaramu terarah, jelas dan tegas. Lantang dan bergeuruh. Nyaring dan berirama. Berintonasi dan bernada. Jangan biarkan nadanya membentuk irama-irama tak beraturan ”
“Nak, sekarang engkau telah besar. Lebih tinggi dari aku. Sudah dewasa dalam berpikir. Sedangkan Ibu sudah mulai menua. Engkau sekarang sudah bisa membedakan yang benar dan yang salah. Yang baik dan yang buruk. Yang pantas dan tidak pantas. Bahkan engkau sudah bisa mengenal Cinta dan benci. maka pilihlah pilihan yang terbaik di antara pilihan-pilihan itu”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Buakan lagi anakku yang selalu Ibu mandikan ketika bangun pagi. Yang selalu ibu suapi ketika engkau makan. Yang selalu ibu gendong dalam perjalanan jauh. Kini engkau sudah mandiri. Bisa melakukan banyak hal tanpa bantuan orang lain. Sudah bisa menatap masa depan dengan perencanaan-perencanaanmu. Sudah bisa berlari mengejar impianmu. Hingga menembus batas langit. Belari dan kejarlah terus ! Hingga dari kuku-kuku kakimu akan memercikkan percikan apai. Jangan menunggu orang lain. Jangan menjadi orang yang ketergantungan. Jangan menjadi manusia malas, lemah, dan pengecut. Karena engkau adalah seorang pemberani”
“Nak, Sekarang engkau sudah besar. Berpendidikan. Dan memiliki cita-cita. Sedangkan ibu sudah luput ditelan zaman. Tidak sehebat dirimu. Tidak sepintar dan secerdas dirimu. Karena ibu tidaklah berpendidikan sepertimu. Tapi dengan melihatmu kini, aku merasa menjadi ibu yang paling beruntung di dunia. Karena engkaulah titisan kehidupanku. Untuk itu, engkau harus menjaga keberuntunganku ini. jangan engkau mengecewakannya.”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Bulu-bulu sudah mulai menumbuhi wajahmu. Kumismu, Jenggotmu. Atau mungkin cambangmu akan tumbuh sebentar lagi. Sama seperti bapakmu. Seperti itulah akan tumbuh juga kepribadian dirimu. Tuntun kepribadianmu itu. Tata rapi ia. Jangan biarkan kepribadianmu membawamu ke lumpu kesesatan. Bawa ia menuju cahaya. Cahaya yang tarang. Hingga disana ia akan menemukan jalan menuju cahaya di atas cahaya”

LaNjUT......

Meluruskan 'Fitnah' Soal Pernyataan Presiden PKS

Meluruskan 'Fitnah' Soal Pernyataan Presiden PKS [Tabayyun Dong, Jangan Asal Nyebarin:-( Jun 3, '09 3:19 AM
for everyone Bismillahirrohmanir rhiim.
Saya gerah juga melihat orang biaca ini itu tanpa tabayyun dan tanpa fakta yg akurat asal neybar dan ngulas saja soal pernyataan Presiden PKS: Ir.Tifatul Sembiring.
Nah, saya dan Kang Akmal, sudah mendapat tabayyun yg jelas dari yg bersangkutan. Kalau Kang Akmal dari Ustadz-nya yg dapat SMS dari Ir.Tifatul. Alhamdulillah, saya dapat baru saja dari Ir.Tifatul Sembiring.
Saya sedih karena itu sudah disebar kemana2 padahal yg menyebar belum tabayyun. Jk yg menyebar itu kaum munafik sih ga masalah [ingat haditsul 'ifki ya-red] tapi kalau yg menyebar itu ikhwah Muslim yg sama berjuang agar ISLAM bisa tetap tinggi. Itu yg buat saya sedih.

selamat membaca ya;-(
jangan termakan isu jk anda tak tahu apa2 soal PKS. Saya juga ga tahu apa2 tentang PKS:-(
Tapi saya ga asal tulis ini dan itu juga, kalau saya salah tulis, saya ada yg menasehati secara langsung dengan adab yg ALLOH ajarkan.
***

assalaamu’alaikum wr. wb.

Di abad informasi ini, berita dari New York bisa sampai di Indonesia jauh lebih cepat daripada pesawat yang paling cepat sekalipun. Seorang istri ditampar suaminya, sejam berikutnya ribuan orang sudah baca curhatnya. Barangkali itulah sebabnya pihak manajemen RS Omni begitu khawatir pada tulisan Ibu Prita. Internet memang membuat batasan-batasan geografis menjadi tidak relevan.

Kecepatan menjadi kata kunci dalam segala hal. Bermunculanlah situs-situs berita yang mengandalkan kecepatan. Tentu mereka tak perlu bilang bahwa pada level tertentu, kecepatan bisa mengorbankan akurasi. It’s bad marketing, of course. That’s why it’s never been said. Tapi kenyataan itu terjadi berulang kali. Dan kenyataannya, seperti yang berulang kali ditunjukkan dalam tulisan-tulisan Sirikit Syah, seorang pakar jurnalistik, menuntut tanggung jawab media atas pemberitaan yang dilakukannya sangat mudah. Belum apa-apa sudah dituduh memasung kebebasan berbicara. Tapi menyatakan pendapat dan mewartakan kebohongan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Maka kecepatan pun menjadi kata kunci bagi para konsumen berita. Pokoknya asal cepat. Semua ingin jadi yang paling pertama tahu, entah kenapa. Maka jatah siaran infotainment pun diperbanyak, mulai dari pagi, siang, sore, malam, dan konon tengah malam pun ada. Semua ingin cepat-cepat mengetahui, apakah artis A jadi cerai atau tidak, apakah artis B sedang cari jodoh atau masih betah sendiri, atau ingin tahu detil cerita tentang kejutan di acara ulang tahunnya artis C. Tidak masalah beritanya penting atau tidak, yang penting jadi yang pertama mendengarnya. Pada titik ini, akurasi berita sudah hilang sama sekali dari prioritas.

I think about these kinds of things a lot. Kadang jadi masalah sepele, kadang rumit juga, bahkan adakalanya menjadi gawat. Berbeda dengan pola pikir liberal murni yang membatasi hidup pada seputar dirinya saja, kita sebagai Muslim punya tuntutan untuk berpikir sebagai satu tubuh yang saling menunjang. Oleh karena itu, respon terhadap berita yang mungkin mengganggu stabilitas tubuh ini mesti ditanggapi dengan serius. Saya akan menggelar sebuah studi kasus untuk mempermudah kita memahaminya.

Studi Kasus
Senin malam, 1 Juni 2009 yang lalu. Saya sedang pergi keluar, mencari makan malam. Sampailah pesan singkat itu di ponsel saya. Beginilah kutipannya :

Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Majalah Tempo, 7 Juni 2009 : “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik? Soal selembar kain saja kok dirisaukan?”

Begitulah kutipan beritanya. Analisisnya? Tenang, masih ada lanjutannya :

Astaghfirullah! Bagaimana jika pertanyaan itu dilanjutkan : “Apa kalau capresnya shalat, puasa, zakat, dan berhaji lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?” Sama dengan shalat, puasa, zakat dan berhaji, jilbab itu perintah Qur’an. Demi koalisi dengan SBY-Boediono, Tifatul tega mereduksi perintah Qur’an jadi “soal selembar kain”. Astaghfirullah!

Pesan singkat di atas tidak saya ubah sama sekali, kecuali beberapa kata yang sebelumnya disingkat, karena untuk kebutuhan SMS memang biasanya orang melakukan penyingkatan kata. Tapiinsya Allah isinya demikian adanya.

Saya cuma geleng-geleng kepala membaca pesan singkat itu. Sayang, pulsa sudah habis untuk menjawabnya.

Keesokan paginya, dari berbagai milis, berita yang sama pun beredar kembali. Ust. Tifatul Sembiring telah melecehkan kewajiban Muslimah untuk mengenakan jilbab, hanya demi koalisi dengan SBY-Boediono. Begitulah cemoohan orang-orang. Penjilat, oportunis, pragmatis, berbagai predikat pun melayang bebas. Muncul pula pertanyaan seputar aqidah ust. Tifatul. Nampaknya inilah titik ekstremnya.

Sebagai penutup kasus, perlu disampaikan pula bahwa pada sore harinya klarifikasi yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Seseorang meneruskan pesan singkat yang dikirimkan oleh Ust. Tifatul sendiri kepada seorang ustadz lainnya yang meminta klarifikasi. Begini bunyinya (sekali lagi, penulisan saya benahi karena konteksnya berubah, dari format pesan singkat menjadi format blog) :

Antum percaya Tempo atau ana? Antum baca deh artikel yang menyerang PKS di Tempo. Dia tanya, “Apakah PKS menekan SBY agar Bu Ani pakai jilbab?”, saya bilang “bukan!”. Dia tanya, “Apakah Bu Ani berjilbab lantaran alasan politik?”, saya jawab “Nggak tahu, tanya langsung ke orangnya!” “Anda ini rewel banget,” kata saya, “urusan selembar kain diatas kepala wanita, die gak pake kerudung ente ributin, dah pake kerudung diributin juga!”. Itu bahasa saya ke Tempo, yang saya tahu wataknya tidak Islami. Nah, percaya siapa?

Klarifikasi datang, kasus ditutup. Tapi yang ingin saya bicarakan bukan kasusnya, melainkan hal-hal kecil yang seringkali terlupakan di sekitarnya.

Ukhuwwah : Sebuah Uji Konsistensi
Setelah klarifikasi datang, terjadilah arus balik. Mereka yang mencemooh kini harus menghadapi nasib sebagai yang dicemooh balik. Kenapa sembarangan mengambil berita? Mengapa Tempo dianggap lebih tsiqah daripada Ust. Tifatul? Mengapa tidak kembali pada materi-materi ukhuwah yang sudah dipelajarinya bertahun-tahun? Mengapa tidak kembali ke ashalah dakwah yang mendahulukan husnuzhzhan dan tabayyun, sebelum ambil kesimpulan dan mem-forward e- mail dan SMS kesana kemari?

Ada yang berkelit, katanya ini bentuk ukhuwwah juga. Kalau ada yang mengkritik PKS, itu artinya dia sayang pada PKS. Yang mencela sebenarnya tengah mengekspresikan ekspektasinya yang sangat tinggi pada PKS, sehingga urusan jilbab ini menjadi sangat penting baginya.

Alhamdulillaah, rupanya ukhuwwah masih disinggung-singgung . Masih ada yang ingat pada ukhuwwah. Tapi bagaimanapun harus dicek konsistensi ucapan dan perbuatannya.

Allah dan Rasul-Nya menghendaki umat Islam ini menjadi satu keluarga besar. Semuanya harus saling memperlakukan bagai saudara, bahkan dalam analogi yang paling tingginya, bagaikan satu tubuh. Kita cukupkan pada analogi ‘saudara kandung’ saja, agar mudah membayangkannya.

Bayangkanlah suatu hari Anda pulang ke rumah, lalu dalam perjalanan disapa oleh seorang penjaga warung yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Anda. Lalu ia bercerita bahwa adik Anda yang terkenal alim itu diam-diam suka berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahram- nya ketika Anda tidak sedang di rumah. Kemudian dengan perasaan marah, Anda pulang ke rumah. Mendapati adik sedang santai-santai di depan teras, ia langsung didamprat di tempat. “Dasar nggak tahu malu! Ternyata kamu begini ya kelakuannya. Main perempuan seenaknya di rumah. Apa kata tetangga? Bikin malu orang tua aja!!!” Tetangga-tetangga dalam radius 30 meter pun ikut menyimak Anda memarahi adik sendiri.

Lima menit kemudian, lewatlah sang penjaga warung dan berkata : “April Mop!” Sayangnya tidak banyak yang mendengar. Sudah banyak yang kembali ke urusannya masing-masing, dengan menyimpan ‘pengetahuan’ bahwa adik Anda ternyata suka main perempuan.

Beginikah yang namanya saudara? Lebih percaya pada orang lain, daripada adik sendiri? Langsung mempermalukannya di depan umum, dan bukannya mengajaknya bicara dari hati ke hati?

Jawaban Ust. Tifatul di atas sebenarnya cukup untuk membuat hati teriris-iris, kalau memang kita merasa bersaudara. Bagaimana perasaan Anda kalau adik, kakak, anak, atau orang tua Anda bertanya dengan getir, “Kamu percaya pada saya atau pada mereka?” Hilangnya kepercayaan orang adalah salah satu hal yang paling menyakitkan yang bisa terjadi di dalam keluarga. Betapa perihnya hati begitu mengetahui bahwa saudara kita sendiri tidak percaya pada kita. Saya harap mereka yang terlanjur mencemooh Ust. Tifatul (dengan alasan “ukhuwwah”) juga merasakan getirnya jawaban beliau.

Dunia Maya dan Tanggung Jawab Moral
Mari berpikir lebih teknis. Begitu dengar berita miring, Anda langsung kirim e-mail ke berbagai milis, SMS ke handai-taulan, bahkan kalau perlu pasang juga di blog atau di Facebook. Ketika Anda mengirimkan sebuah berita, maka Anda pun telah memicu sebuah reaksi berantai. Katakanlah, dalam waktu 2 jam setelah Anda menyebarluaskan berita itu, sudah 1000 orang yang menerima berita itu dan menganggapnya sebagai berita yang benar. Dari 1000 orang itu, ada yang ikut mencemooh, ada pula yang cuma diam saja dan menyimpan informasinya dalam benak.

Dua jam setelah Anda menyebarluaskan berita, muncullah klarifikasinya. Ternyata itu semua bohong belaka! Kalau bicara tanggung jawab moral, maka Anda punya kewajiban untuk menyebarluaskan klarifikasi itu kepada orang-orang yang sebelumnya telah Anda kirimi berita. Tapi apa bisa?

Ya, Anda bisa kirim lagi e-mail dan SMS ke orang-orang dan milis-milis yang sama. Tapi ada dua masalah. Pertama, berita itu sudah bukan hanya berada di tangan orang-orang yang Anda kirimi berita, karena mereka bisa saja sudah meneruskannya ke orang lain. Anda bisa saja bilang bahwa mereka pun bertanggung jawab untuk menghentikan peredaran berita bohong itu, tapi Anda tetap akan dimintai pertanggungjawabann ya, karena Anda-lah yang telah menyebarluaskan berita sejak awal tanpa berpikir panjang siapa yang akan menerima berita tersebut.

Masalah kedua : bisa jadi diantara 1000 orang itu ada yang tidak menerima berita klarifikasinya. Jadi bagi mereka, berita yang dipandang shahih adalah berita yang pertama. Sebab, mereka tidak pakai Outlook atau aplikasi semacamnya. Mereka baca berita miring soal Ust. Tifatul kebetulan ketika sedang online. Ketika klarifikasinya datang, kebetulan mereka sedang tidak online. Kemungkinannya lebih besar lagi kalau Anda posting berita itu di blog. Yang membaca posting pertama bisa jadi tidak membaca posting kedua. Akhirnya mereka pun terus menyebarluaskan berita yang sebenarnya sudah diralat itu. There’s nothing you can do about it! Itulah konsekuensi mengikuti milis dan menulis di blog. Yang menakutkannya, kemungkinan besar Anda masih akan dituntut pertanggungjawabann ya kelak.

Siapakah Pendusta Itu ?
Peradaban Islam memiliki perangkat yang lengkap dalam menyikapi informasi. Umat ini semestinya adalah yang paling siap dalam menghadapi era globalisasi, begitulah teorinya. Mulai dari prinsipukhuwwah, mekanisme husnuzhzha n dan tabayyun, larangan untuk mengatakan apa-apa yang tidak kita paham betul, dan masih banyak lagi prinsip lainnya yang seharusnya memberikan kita kekebalan lebih baik dalam menyikapi fenomena bebas beredarnya informasi di masa kini.

Barangkali ada baiknya jika saya menutup uraian ini dengan sebuah hadits shahih yang nampaknya sangat relevan untuk kita jadikan cermin saat ini :

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Cukuplah bagi orang itu disebut pendusta apabila dia membicarakan setiap (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim)

wassalaamu’alaikum wr. wb

LaNjUT......

Tulisan Jadul Tak Berjudul

Penanti menanti yang dinanti di Penantian ini
Penunggu menunggu yang di tunggu di penungguan itu
Pencari mencari yang dicarai di pencarian kini

Penantian, Penungguan, Pencarian, usai sudah
Karena yang dinanti, yang ditunggu, yang dicari,
telah datang, hadir, dan didapatkan
Sang Penanti, Sang Penunggu, dan sang Pencari kini bahagia
Menanti, menunggu, dan mencari sudah tiada lagi

Sang Penanti, Menanti, yang dinanti, penantian, hanyalah semu
Penunggu, menunggu, yang ditunggu, penungguan, adalah palsu
Pencari, mencari, yang dicari, pencarian semuanya abstrak

LaNjUT......

Pertemuan Pertama

Hari itu, untuk pertamanya aku menginjakkan kaki di tanah gunung itu. Ditempat baru yang harus aku tinggali Dua bulan lamanya. Tidak ada seorangpun yang aku kenal. Selain Bang Malik dan tiga orang temanku yang waktu itu masih belum aku tau namanya. Semakin sedih terasa, jauh dari komunitas biasanya. Dua Bulan. Adalah waktu yang lama kami rasakan. Aku cemas menunggu kedatangan hari yang terakhir itu. Aku berpikir, apakah aku akan siap menghadapi hari-hariku selama 60 hari di tempat itu ? Tempat yang jauh dari keramaian. Yang jauh dari bising kota. Yang jauh dari pasilitas perkotaan. Yang jauh dari teman-teman yang aku kenal. Sekali lagi, pasrah. Hanya itu yang bisa dirasakan waktu itu.
“Kita Sudah sampai. Inilah rumah Kepala Desa. Rumah yang akan kalian tempati selama berKKN” Kata Bapak pengemudi yang belakangan aku tau namanya Pak Ukkas, sambil menunjuk sebuah rumah persis dimana tempat kami berhenti.
Rumah panggung. Sederhana dan mungil, bersih dan tertata rapi. Dihalamannya terdapat aneka bunga segar dengan bermacam warna. Sepetak tempat penampungan air yang terbuat dari keramik. Dan sebuah makam yang dari ukurannya adalah makam anak bayi yang terpagari rapi.
Di depan pintu seorang wanita setengah baya tersenyum ramah ke arah kami. Ada tatapan bahagia dimatanya. Ada sentuhan kebaikan dibalik senyumnya. Ada sentuhan kasih sayang di sapaannya. Ada uluran tangan keiklasan menerima kedatangan kami. Dia adalah Ibu desaku. Ya. Isteri Kepala desa Umpungeng. Yang mungkin akan menjadi ibu kami selama dua bulan kedepan. Yang rumahnya akan menjadi rumah kami juga.
Aku dan teman-temanku yang lain menurukan barang masing-masing dari mobil. Satu persatu tas-tas yang berisi perlengkapan selama dua bulan itu diturunkan. Ketika aku menurunkan tas yang terakhir, aku merasa kewalahan. Pasalnya, tas yang satu ini ukurannya berbeda dengan yang lainnya. Apalagi beratnya. Pasti juga jauh lebih berat dari tas-tas yang lain. Tas yang tidak normal, pikirku. Aku meminta bantuan temanku yang lain. Wah, ternyata masih kewalahan juga. Hingga Bang Malik turun tangan mengatasinya (Bang Malik jadi Hero). Kami Mengangkatnya bertiga. Tapi beratnya masih juga tersa. Terlebih ketika kami membawanya naik menaiki tangga rumah.
“Kayaknya di dalamnya ini ada kulkas atau mesin cuci, atau televisi, atau dapur, atau pembantunya sekalian dibawa” Cetusku. Mencoba menguasai suasana.
Yang lain serentak tertawa setelah mendengar guyonan kecil dariku. Apalagi si peilik tas. Ikut tertawa mendengar tuduhan yang dilontarkan padanya.
“Bisanya itu. Cuma pakaian dan perlengkapan wanita isinya. Gak ada yang lain” jawabnya membantah tebakanku sambil tertawa kecil.
Dalam hatiku “Dasar cewek. Gak pernah mau kekurangan apalagi ditinggalkan sama perkakasnya”
Huh, sedikit capek. Lumayan membuat napas ngos-ngosan. Kami dipersilahkan duduk di kursi ruang tamu. Suasana hening sejenak. Yang terdengar hanya suara napas yang berhembus kencang. Namun suasan itu segera saja mencair, ketika Ibu desa mengeluarkan minuman pelepas dahaga untuk kami.
Tidak tau dari mana awal mulanya, suasana antara kami semakin akrab terasa. Semakin banyak topik pembicaraan yang kami perbincangkan. Walaupun aku, masih belum tau nama persis tiga temanku yang lain. Aku tidak mencoba menanyakannya lagi. Tapi aku membiasakan diri mendengar dan menghapal nama mereka ketika satu persatu dari mereka mengenalkan diri pada penghuni rumah itu.
Denny Saskin (Biasa saya dipelesetkan Denny miskin) yang selanjutnya akan berperan sebagai Koordinator Desa. Evianti yang aku panggil dengan sebutan dua huruf saja, EV yang akan berperan sebagai Bendahara Desa. Dan Yemima yang kemudian akrab aku panggil dengan nama MIM yang selama berKKN akan bertugas sebagai sekretaris Desa. Aku dan Bang Malik ? Ah, kami sepakat memilih untuk tidak mengambil peran kecuali sebagai anggota saja. Dengan alasan-alasannya tersendiri.
Kamipun dipersilahkan masuk ke dalam kamar masing-masing. Kami tiga orang laki-laki mendapatkan kamar depan, yang berdekatan dengan ruang tamu. Sedangkan dua teman cewek mendapatkan kamar dibagian belakang, yang berbatasan langsung dengan dapur. Bukan Cuma mereka berdua. Ternyata ada seorang perempuan pemilik kamar bersama mereka juga. Perempuan itu adalah sepupu Bapak Desa yang sudah tinggal lama disana. Matahari nama lengkapnya. K’ Ita, itulah panggilan akrab kami memanggilnya.
Pekerjaan yang aku lakukan untuk pertama kalinya adalah mendeteksi keberadaan Sinyal. Terutama di dalam kamarku. Karena sejak dipertengahan jalan, sinyal sudah pergi meninggalkan HP kami. Benar saja yang dibilang isterinya Pak Ukkas. Di Jolle tidak ada sinyal kecuali dengan memakai antena. Hanya orang-orang beruntung saja yang mendapatkan sinyal tanpa menggunakan antena. Itupun keberuntungannya tidak akan berlangsung lama. Karena sinyalnya datang dan pergi sesuka hati. Sementara antena satu-satunya di rumah pak desaku hanya berada di kamarnya teman-teman cewek. Inilah ketidak beruntungan pertama yang kami daptkan.
Aku mondar mandir di dalam kamar mendeteksi sinyal dengan HP. Dari satu sudut ke sudut yang lainnya. Bahkan aku mencoba mencari jaringan di kolong ranjang. Alfa. Tidak ada yang terdeteksi. Aku juga mencobanya di belakang pintu. Sia-sia. Tidak ada hasil. Akupun mencobanya di balik lemari. Hasilnya tetap sama. Sinyal sudah tidak tidak lagi bersahabat denga HPku. Kalau bahasa pernikahannya, talak tiga. Oh tuhan, apa salahku dan salah ibuku (kayak Wali) hingga tidak ada kutemukan sinyal walau sebatangpun, atau hanya setengah batang saja.
Tidak ada harapan. Degaga harapang. Sinyal tidak juga aku temukan. Serasa sedikit kehidupan telah hilang dariku. Karena tidak ada bagian nyawa yang tersisa disana. HP yang tidak bersinyal.
“Susah menjadi orang kaya di desa ini. Tidak bisa bergaya” Gumamku sambil masih berusaha mencari jaringan. Ampun ma’ ! kata itu lagi yang terlontar dariku untuk mengungkapkan keputus asaan.
Satu titik dalam kamar itu yang belum aku datangi. Di Jendelanya. Ya. Jendela Naco yang letaknya persis disamping ranjangku. Aku mensetting pengaturan Hpku di posisi mencari jaringan secara manual. “Mencari jaringan” Begitu tulisan di Hpku setelah itu. Aku letakkan Hpku diantara kaca jendela, sambil menjaganya. Karena salah sedikit, HP bisa jatuh terlempar keluar. Dan nasibnya setelah itu tidak tau akan bagaimana.
Dengan harap-harap cemas, aku menunggu laporan hasil dari pencarian jaringan di Hpku. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, 3 operator ditemukan. Indosat, Xlindo, dan tentunya Telkomel.
“Alhamdulillah.....Horee.........Asyik.........dsb. aku mendapatkan sinyal”. Semua ungkapan kegirangan terlontar dari mulutku.
Walaupun yang aku dapatkan hanya satu batang sinyal. Tapi kadang-kadang naik menjadi dua, bahkan tiga. Tapi tidak pernah full menjadi empat batang. Bagian nyawaku yang hilang kembali lagi. Karena setelah sinyal aku temukan, sms beruntun masuk berlomba memasuki Hpku, menambah kotak masuk.
Aku adalah orang pertama yang menemukan sinyal di jendela itu. Walaupun tidak sehebat Einsten dan ilmuan yang lainnya, tapi aku merasa bahagia sebagai penemu tempat sinyal pertama di kamar itu. Karena setidaknya, dua temanku yang lain bisa menikmati hasil penemuanku. Yang bagiku sangat berarti keberadaannya, begitu juga temanku yang lain.



LaNjUT......

Serial KKN : Catatan Perjalanan ke Lokasi

Mulanya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang Indah. Tempat itu bahkan bagiku tidak layak untuk aku tinggali. Mengarungi gunung, melewati hutan belantara melalui jalan meliuk-liuk ditambah beberapa kubangan dengan berbagai ukuran di atasnya. Sepi. Sunyi. Kosong. Hampa. Seperti tiada kehidupan. Dingin. Suhunya mendekap tubuh.Yang terdengar hanyalah suara-suara binatang mengerik di pucuk balik dahan pepohonan. Diiringi dengan suara gesekan pepohonan yang berhimpitan ditiup angin.
Disela-sela itu, terdengar suara Mobil Carry meraung kepayahan. Seperti tua yang terbatuk-batuk karena umurnya. Asap putih mengepul dimuntahkan dari arah belakang mobil. Memaksakan untuk bisa mengalahkan medan yang sedang dijalani. Medan yang sulit dan berat untuk sebuah carry tua. Tapi dengan santai dan sigap sang pengemudi menginjak gas melaju tanpa khawatir.
Di dalam mobil itulah aku dan 4 orang temanku yang lain, sedang was-was menahan napas. Entah apa yang aku pikirkan. Yang jelas waktu itu aku merasa seperti tawanan perang yang akan diasingkan ke tempat terasing dan terpencil. Bahkan perasaan ekstrimku merasakan bahwa aku dan teman-temanku yang lain seakan dibawa untuk dieksekusi mati. Pikirku, takdirku kini berada antara hidup dan mati.
Semakin jauh perjalanan yang kami tempuh. Semakin tinggi gunung yang kami susuri. Semakin sunyi hutan yang kami lewati. Semakin bersahabat dingin mendekap tubuh kami. Pasrah. Hanya itu ungkapan yang aku bisa terlontar saat itu.
Ada aku dan Empat temanku yang lain. Tiga diantara mereka, adalah asing bagiku. Bahkan nama mereka tidak aku ingat lagi setelah mereka menyebutkannya beberapa saat sebelumnya. Sedangkan satu lainnya, aku sudah kenal sebelumnya. Sangat kenal bahkan. Malik namanya. Usianya memang agak jauh lebih tua dariku (Ups, ada perjanjian dilarang sebut umur). Makanya aku memanggilnya Bang. Bang Malik.
Aku dan Bang Malik duduk di kursi bagian paling belakang. Saling memandang dengan senyuman sinis, berbisik bisikan menyerah. Dan tiga teman asingku duduk di kursi bagian tengah. Satu diantara mereka adalah laki-laki, dan dua diantaranya adalah perempuan. Dan yang duduk di bangku paling depan adalah seorang laki-laki yang kuperkirakan umurnya sudah 40-an ke atas, sebagai pengemudi. Dan disebelahnya adalah isteri dan anak perempuannya yang masih anak-anak.
Melaju pelan tapi pasti. Carry Hijau tua itu membawa kami. Suara obrolan mencoba menjalin keakraban terdengar dari para penumpangnya. Sedangkan aku dan Bang Malik, masih dalam suasanaku sebelumnya. Tapi kami berdua mendengar jelas pembicaraan mereka. Sesekali aku dan Bang Malik menimpali. Bahkan sesekali aku mengeluarkan lelucon yang mungkin Cuma lucu untuk diriku sendiri.
“Wah, kalau rumah mertuakau disini, mungkin aku Cuma akan mendatanginya satu kali setahun saja. Atau bahkan tidak datang-datang menjenguknya” Selaku ditengah obrolan-obrolan mereka.
Dengan segera Bang Malik mencubit ringan pahaku. Mungkin dia takut kalau ada yang tersinggung. Maklum, saya orangnya ceplas-ceplos. Tapi tidak ada perubahan suasana yang berarti dari kata-kataku itu. Seperti angin berlalu. Semakin lama obrolan semakin hangat. Keakraban di atas mobil mulai terasa. Seiring dengan semakin jauhnya jarak yang kami lalui.
Carry Hijau itu terus melaju dengan tenaga tuanya yang tersisa. Suara baut dan besi longgarnya sesekali terdengar saat rodanya terperangkap kubangan jalan. Ribut berisik. Perutku pun terasa di kocok dibuatnya. Dada terasa sesak. Keluhan aduh sepontan keluar dari mulutku. Ampun ma’ !
Handphoneku berbunyi dengan suara khas nada smsnya. “Ooooo.......Rahim...... Angkatseng sms ta’ kodong ! Ngarro Q anak-anak kodongE. Oooooooo.........Rahim........Angkatseng sms ta’ kodongE. Tena tong apa-apa. Ooooo..........Rahim........KodongE.......”
Ah, ternyata sms dari temanku yang di Makassar menanyakan keberadaanku. Aku jawab saja seadanya dan berharap ada balasan lagi darinya. Tapi Handphoneku tidak lagi berdering dalam waktu yang lama. Hingga aku mengeceknya kembali.
“Haaaaaaaaaa..................Tidakkkkkkkkkkk..............” Teriakku seketika.
Tentu saja teman-temanku langsung bertanya padaku
“Sinyal..... Sinyal.....Sinyal....Habis. Tidak ada yang tersisa walau sebatang”
Serentak mereka melihat Handphonenya masing-masing. Hal yang sama terjadi pada Handphone mereka. Tapi Seorang temanku mengangkat Hpnya seraya berkata girang “Aku dapat sinyal. Masih ada. Tapi tinggal satu bat.....”
Belum selesai ia berkata, menyelesaikan kalimatnya, muncul kaliat baru. Kali ini nadanya agak lirih “Aihhhh, hilang juga kasihan”
Ternyata apa yang dibilang Ibu yang duduk di depan terbukti. Kalau tempat yang kami tuju, tidak ada sinyalnya. Bahkan Ibu itu telah memberikan warning sebelumnya, sejak kami masih di daerah perkotaan.
Semakin jauh Mobil melaju. Hingga kini ia berhenti sempurna di depan sebuah rumah. Rumah yang selanjutnya akan menjadi Posko KKN kami selama dua bulan. Dusun Jolle, Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng.
Sekali lagi, pada awalnya tidak ada yang istimewa. Tidak ada keindahan. Yang ada hanyalah keterpasungan dan keterasingan. Hanya ada sepi dan gelap. Hanya ada dingin dan angin. Hanya ada pasrah dan menyerah.
Tapi disinilah awal cerita itu. Cerita yang tidak akan habis kata-katanya tentang keindahan, keistimewaan, kebebasan, keleluasaan, kedamaian, ketenteraman, kenyamanan, kebahagiaan, dan Cinta.

LaNjUT......

Cerita di Atas PeTe-PeTe

Rabu malam selepas maghrib ketika aku berada di atas angkot menuju pengajian. Aku duduk di kursi paling belakang. Sibuk memencet tombol HP, membalas sms. Penumpang yang lain juga sibuk dengan urusannya masing-masing. Penumpang di depanku, seoarang wanita setengah baya berpangku tangan dengan pandangan kebelakang, melihat kendaraan yang sesak berkejaran. Disebelah kanannya, seorang gadis yang sedang asyik berbicara melalui telepon. Entah dengan siapa ia bicara. Yang jelas dari mulut dengan bibir merahnya terdengar tawa yang membuatku sedikit tidak nyaman.Disebelahnya lagi, seorang laki-laki yang umurnya tidak jauh dari gadis tadi. Dan sepertinya, mereka berdua saling kenal. Karena gadis itu tidak pernah melepaskan genggamannya dari lengan lelaki itu sejak aku naik. Dan disebelahku, seorang pemuda yang ku prediksi masih SMA. Dan persis di dekat pintu mobil, lelaki gondrong kriting rapi dengan celana jeans dan kemejanya. Yang selalu menggoyang-goyangkan kakinya mengikuti irama lagu ST12. PUSPA judulnya. Dan seorang lelaki tua duduk persis di dekat Sopir, dengan rokok dan sembulan asapnya.
“Kiri pak !”
Suara itu tiba-tiba membuat Mobil yang aku tumpangi berlahan melaju pelan, dan akhirnya berhenti. Ternyata Bapak tua yang duduk di depan samping sopir itu yang hendak turun. Persis di depan M-Tos (Makassar Town Square). Setelah memberikan ongkosnya, Bapak tua itupun berlalu menuju M-Tos tanpa peduli semua yang ada di belakangnya. Mobil kemudia melanjutkan perjalannan. Kini Lelaki Gondrong menggantikan posisi duduknya Bapak Tua.
Suasana kali ini berbeda karena dua penumpang baru mengisi bagian kursi yang masih kosong. Dan Si Gondrong dengan sopir juga terlihat akrab. Samar-samar aku mendengar mereka berbincang-bincang masalah kota Makassar dan beberapa aktivitas mereka.
“Apaji PKS, Gayana ji berselogan Bersih. Tapi kenyataannya, gak pernah mau mendukung calon yang bersih-bersih. Pemilihan Gubernur kemarin, ada calon seorang ustadz, eh malah mereka dukung yang bukan ustads. Padahal sudah jelas-jelas keshalihannya. Pemilu presiden sekarang, mereka dukung calon yang tidak ada nuansa-nuansa agamanya. Isteri yang mereka dukung saja tidak ada yang pakai jilbab” kata sopir tiba-tiba.
Aku tidak tau pasti alur pembicaraan mereka sehingga keluar pernyataan seperti itu dari sopir. Yang jelas aku menjadi tertarik mengikuti perbincangan mereka. Aktifitas sms aku hentikan dan mendengarkan perbincangan sopir dan si Gondrong Kriting lebih seksama. Sementara penumpang yang lain, masih sibuk dengan urusan masing-masing tanpa memperdulikan siapapun.
“Saya sebenarnya mendukung sekali PKS dari dulu. Tapi karena kelakuan mereka seperti itulah, makanya sekarang saya menjadi jengkel” sahut Gondrong Kriting
“Dan puncak kejengkelanku itu hingga pemilu kemarin saya tidak memilihnya adalah ketika mereka melakukan MUKERNAS di Bali, yang jelas-jelas disana tempatnya orang bermaksiat” Gondrong keriting menyambung perkataannya.
“Kalau begini caranya, bagaimana bisa menjadi bersih ? Jangan sampai Cuma selogannya ji bersih. Tapi kenyataannya ? Ya, seperti inilah jadinya. Katanya partai Islam” Sambung Sopir
Sopir melanjutkan “Saya pernah tanya ustadsnya PKS tentang keputusan-keputusan PKS yang demikian itu. Tapi mereka Cuma bilang, Mugkin ada pertimbangan lain. Cuma itu jawaban yang kudaptkan. Pertimbangan apalagi yang mesti dipertimbangkan. Gak jelas alasannya”
“Kalau begini terus, apaq gunanya pengajian yang mereka lakukan setiap hari jumat ?” Ujar Gondrong menimpali”
Aku hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka. Sampai akhirnya aku turun di tempat tujuan. Karena kebetulan saat itu aku pakai jaket PKS, ketika aku membayar ongkos mobil, si Gondrong Kriting dan Sopir menjadi salah tingkah. Suara mereka menjadi terbata-bata tak beraturan. Tapi aku hanya menganggukkan kepala kepada mereka berdua, sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih, dan berlalu tanpa berkomentar apapun.
Tidak tau mengapa perbincangan tadi mengisi pikiranku sepanjang jalan kaki menuju rumah ustadsku. Mungkin mereka ada benarnya. Tapi pembenaran mereka disebabkan karena kekurangan kita sebagai kader dalam mengkomunikasikan semua kebijakan yang diambil. Sehingga apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan baik dari media atau lapangan, itu adalah sebuah kebenaran.
Karena masyarakat pasti hanya akan melihat berita dan bukan melihat proses. Apalagi tujuan-tujuan dari kebijakan-kebijakan yang diambil. Benarlah yang dikatakan Hitler bahwa, kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus akan menjadi sebuah kebenaran.
Sehingga seorang teman mengatakan, bahwa PKS telah gagal dalam menjelaskan dirinya dan keputusan-keputusannya melalui media. Untuk itu, tugas kaderkader PKS sekarang adalah menyampaikan kebenaran atas keputusan dan kebijakan yang diambil. Supaya masyarakat tidak salah persepsi terhadap PKS. Sehingga mereka menjauh bahkan memusuhi PKS.
Perlu sosialisasi yang lebih masif lagi, baik melalui media maupun dari kader-kader untuk menyampaikan kebenaran itu kapada masyarakat. Bahwa ada tujuan-tujuan dakwah di setiap kebijakan yang diambil. Supaya masyarakat menjadi tau yang sebenarnya. Bahwa dakwah ini dibangun di atas landasan kebersihan. Terang dan jelas, sejelas Matahari. Putih, seputih Cahaya. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang dikurangi dan dilebihkan.
“Masyarakat butuh penjelasan”

LaNjUT......

Di Penghujung Jalan Itu

Berjuang di jalan kebenaran, berjihad dengan bersungguh-sungguh secara terus-menerus, tanpa kenal lelah dan mengeluh, ibarat seorang yang sedang berjalan melewati gunung dan hutan. Hingga akhirnya sampailah ia ke tempat tujuan. Tempat indah yang menjadi impiannya.Tempat tujuan yang menjadikan semangat dalam dirinya hidup. Yang selalu menciptakan optimisme dalam setiap langkah dan perjuangannya. Walaupun jarak yang dilaluinya jauh dan berliku. Ataupun banyak duri dan bebatuan tajam yang menghalangi. Meskipun rasa sakit menjamah tubuhnya.
Perjalanan jauh hanya bisa dilakukan dengan kesabaran dan kewaspadaan. Walaupun langkah tertatih dan kaki terasa tidak mampu lagi untuk berjalan. Tapi tertatihnya langkah bukan berarti menghentikan kaki kita untuk terus menapak.
Seperti para pendaki gunung. Mereka senantiasa akan terus berjalan sampai ia menaklukkan hambatan dan rintangan di sepanjang jalan yang mereka telusuri. Mereka diterpa rasa haus. Mereka dihantui kegelapan. Bahkan tidak jarang, banyak hewan buas yang siap memangsa mereka. Alhasil, setelah mereka sampai puncak, kelelahan dan keletihan yang melanda tubuh menjadi tiada terasa. walaupun mereka disambut dengan suhu dingin yang menggigit. Ada bahagia yang datang menggantikan lelah. Ada senyuman menghiasi wajah menggantikan keluh.
Selamanya, tidak akan pernah sama orang-orang yang berjuang dengan orang-orng yang hanya duduk berdiam diri saja. Kebahagiaan dan senyuman hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bersungguh-sungguh dalam berjuang. Tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang setengah-setengah dalam berjuang. Tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang banyak mengeluh apalagi mereka yang tidak pernah merasakan perjuangan.
Tapi tentu keteguhan dan konsistensi tidak mudah dilakukan. Siapapun yang ingin konsistensi menuju sebuah tujuan besar, pasti harus melewati berbagai penderitaan, kesulitan, dan keadaan yang tidak disukai. Bahkan walaupun kesulitan dan keadaan yang dihadapi, mengancam jiwa. Tanpa konsistensi, tanpa optimisme, tanpa kesungguhan, target dari suatu tujuan yang ingin diraih, tidak akan berhasil.
Ada Kebahagiaan di Setiap akhir perjuangan !!!

LaNjUT......

Keadilan

Aku berjalan ditengah sunyinya malam
Menembus hitam pekat kegelapan
Menerobos suhu dingin menusuk
Mencari segenggam cahaya keadilan di negeri ini
Keadilan yang selalu dirindukan oleh setiap orang
Keadilan yang dibutuhkan oleh jiwa yang alami
Keadilan yang seharusnya ada pada diri pemimpin negeri ini
Inilah gejolak abdi sepanjang masa
Inilah suara hati yang tulus, kekal, dan murni dari fitrah dasar setiap jiwa di negeri ini

Tapi kini ia telah menghilang entah kemana
Tidak lagi kutemukan keadilan pada pemimpin negeri ini
Ia ditelan kekuasaan yang menggoda
Direnggut keangkuhan yang melahap nurani
Dibelenggu kerakusan di dalam penjara kemunafikan

Yang kutemukan di negeri ini hanyalah keserakahan yang menggerogoti hak-hak rakyat
Bukannya mengayomi atau memberi, tapi merampas kemerdekaan
Bukannya mengasihi, yang terjadi adalah penganiayaan
Bukannya menyantuni, yang terjadi adalah penindasan dan kedzaliman

Bukankah, kedudukan mereka hari ini diberikan atas dasar kepercayaan dari rakyat ?
Lalu dimana mereka simpan semua itu ?
Tidak malukah mereka ?
Tidak adakah tersisa nurani dalam diri pemimpin negeri ini ?
Mengapa mereka selalu mengambil jauh lebih banyak, dari apa yang seharusnya diterima oleh rakyat ?
Akankah negeri ini akan mendapatkan keberkahan ?
Mungkinkah keajaiban itu muncul dinegeri ini ?
Akankah kerinduan ribuan, bahkan jutaan rakyat akan pemimpin yang adil akan terwujud ?
Ataukah orang-orang seperti itu hanya akan kita temukan dalam catatan lembaran sejarah masa lalu ?
Atau hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak manusia ?

Ya Allah, tidak akan adakah lagi sosok Abu Bakar yang terlahir di negeri ini
Yang selalu memberi ketenangan untuk rakyatnya
Menyejukkan hati ketika memandangnya
Memberi kedamaian dengan kehadirannya
Ikhlas mengabdi kepada rakyat, Allah, dan Rasulnya

Tidak akan adakah lagi sosok Umar bin Khattab yang akan memimpin negeri ini
Yang dengan kezuhudannya, telah memberikan kesejahteraan pada rakyatnya
Yang ketundukan pada Rabbnya, telah mengharamkan diri dan keluarganya untuk hidup bermegah-megahan
Yang kecintaan pada rakyatnya, telah meninggalkan bekas hitam dipundaknya demi memenuhi hak-hak rakyatnya
Yang dengan kesadaran akan amanah, ia melayani dan mengorbankan hidupnya untuk rakyatnya

Ya Allah, inilah harapan dan doa hambamu yang teraniaya zaman di negeri ini
Dengarkanlah jeritan kami.
Rakyat yang terdzalimi, yang akan selalu berharap dan meminta hanya kepadaMu

LaNjUT......

Ony, Pesona Gadis Desa

Wajahnya bundar, putih bercahaya. Memberi panorama indah kemesraan para pecinta. Membentuk warna pelangi menghiasi pegunungan pinus. Cerah berseri, seperti langit yang baru saja menampakkan diri setelah ditutupi awan hitam. Basah, seperti mata air pegunungan yang menerobos pori-pori tanah. Menjalar melewati ruas-ruas akar pohon tegar.
Matanya bening, sayu bercahaya. Memancarkan tatapan menyejukkan. Tajam. Seperti anak panah yang siap dilepaskan dari busurnya. Menembus ketandusan hati. Membelah kesepian jiwa.Menerobos mengiringi aliran darah, mengalir menyusuri nadi.
Kulitnya putih bercahaya. Memberi warna terang pada pekat warna hitam. Halus bagaikan sutera. Lembut, selembut Angin gunung saat membelai sang dahaga. Bersih, sebersih embun zam-zam yang melekat di kelopak mawar.
Suaranya syahdu. Menghadirkan ketenteraman bagi yang mendengarnya. Pikiran jadi tergelayuti dibuatnya. Mengisi ruang-ruang hampa di setiap saraf otak. Menjadikan darah mendesir dengan kecepatan berlipat-lipat. Menjadikan jantung memompa darah lebih cepat untuk segera dialairkan ke semua pembuluhnya.
Senyumnya menawan. Siap menawan setiap mata yang memandang, dan terjebak dalam perangkapnya. Bagai secawan anggur bagi penikmatnya. Menjadikannya mabuk, tidak sadarkan diri. Seperti madu murni dari sari bunga edelweis. Seperti mawar yang bermekaran di musim semi.
Gerakannya gemulai. Melebihi indahnya riakan air Saraspati yang ditiup angin. Mendayu, seperti alunan seruling di subuh hari. Seperti petikan gitar para penyair.
Masih murni. Masih alami. Polos. Ia memancarkan pesona gadis desa. Tidak terkotori oleh debu zaman yang menakutkan. Menyatu dengan alam. Bersahabat dengan musim. Ia adalah bunga yang bermekaran di musim semi. Ia adalah hamparan padi berisi bagi para petani.
Sore itu ia sedang duduk bersama neneknya di teras rumahnya. Sejuknya cuaca gunung Umpungeng menambah kedamaian suasana. Warna putih pakaian yang membaluti tubuhnya, terlihat bersih. Aku pastikan, baru saja ia mengenakannya. Raut wajahnya nampak lembap merona. Meyakinkanku bahwa ia baru saja selesai mandi sore.
Aku mendekatinya. Berharap ada senyum dibibirnya untukku. Berharap keramahan menyapaku. Kuucapkan salam perjumpaan padanya diiringi senyum bujukan. Ia terperanjat, menyiskan warna memerah di pipinya. Pucat. Tapi tidak mengurangi rupa manis wajahnya. Mata beningnya terbelalak lebar. Memandangku lekat-lekat. Bagaimana tidak ? Karena aku adalah asing baginya. Hari itu, adalah pertama kali aku berjumpa dengannya.
Ia berlindung di balik neneknya. Berharap sang nenek akan menjadi pelindung baginya. Tangannya menjuntai-juntai meraih sang nenek. Seakan ia ingin meminta tolong untuk menghalauku. Aku semakin mendekat, dan semakin dekat di depannya. Ia semakin takut dan bersembunyi. Menjauhkan wajahnya dari pandanganku. Hanya suara jeritan lirih yang terdengar dari mulutnya.
Aku menyapa dengan menanyakan namanya. Pertanda aku ingin berkanalan dengannya. Tapi ia terdiam tidak menghiraukan sapaanku. Aku mencobanya untuk yang kedua kalinya. Tapi reaksi yang aku dapatkan sama. Sampai berulang kali aku mencobanya. Bahkan, neneknyapun ikut membantuku membujuknya supaya ia menyebutkan namanya. Tidak berhasil. Tiada daya yang bisa aku lakukan.
Neneknypun memberikan jawaban kepadaku, sebagai keterwakilan jawaban gadis desa itu.
‘Ony’. Itulah namanya. Aku tidak menanyakan nama lengkapnya dan tentangnya yang lain. Karena aku sibuk berusaha memberikan rayuan dan kata-kata manis supaya ia menerimakau. Nihil. Gak ada hasil.
Ony, Gadis desa berumur 1 tahun. Lucu, imuts, dan menggemaskan. Aku tertarik padanya saat aku melihatnya. Mungkin karena memang aku suka pada anak-anak batita (bawah 3 tahun). Apalagi yang imuts dan montok. Enak dicubit. Sekali-kali juga kalau aku ketemu dengan anak seperti itu, aku gigit pipi atau tangannya. Gemezzzzzzzzz.....!!!
Adikku saja, ketika ia masih kecil dulu, aku sering cubitin pipinya sampai merah. Ibuku yang melihat tingkahku itu, pasti marah-marah dan membentakku. Tapi kebiasaanku itu tidak bisa kuhentikan. Walaupun Ibu ngomel-ngomel memarahi. Kebiasaan ini pasti aku lakukan kalau bertemu sama anak kecil. Gak peduli ibunya mau bilang apa. Tapi itu aku lakukan pada saat pertemuan pertama saja. Setelah itu, dielus, disayang dengan cinta.
Kisahku dengan Ony, sampai aku membuat tulisan ini, belum akrab. Belum “mesra”. Ia masih takut digendong olehku. Kesel. Sepertinya aku harus melalukan usaha ekstra. Kerja keras untuk merebut hati Ony. Tapi aku tidak akan menyerah dan berhenti. Karena hatinya pasti bisa aku taklukkan suatu hari nanti.
Tunggu ya Ony..........!!!

LaNjUT......

NARSIS !

Tahukah Anda apa itu narsis? istilah ini sangat berkembang belakangan ini, jika Anda belum tau apa itu narsis berikut kisahnya yang saya kutip dari Anthony Dio Martin untuk Bisnis.com.
Bahasan tentang narsisme tidak lepas dari mitologi Yunani kuno. Alkisah ada seorang dewa bernama Narcissus. Parasnya tampan. Saking rupawannya, banyak dewi-dewi kena panah asmaranya. Termasuk Dewi Echo.
Suatu hari, Dewi Echo mengutarakan isi hatinya kepada Narcissus. Tapi, lelaki ini menampiknya dengan kasar. Dewi Echo pun hengkang dengan hati penuh luka sampai ajalnya tiba. Melihat ini, Dewa Apollo marah besar dan mengutuk sang dewa ganteng itu, bahwa hingga akhir hidupnya, Narcissus tidak akan pernah mengetahui cinta manusianya. Kutukan pun jadi kenyataan.
Suatu hari, Narcissus kehausan. Dia sampai di sebuah kolam yang airnya sangat jernih. Di tepi kolam itu, dia kemudian berjongkok dan ingin meminum airnya. Saat berjongkok, dia pun melihat bayangan dirinya di permukaan kolam itu. Langsung saja, saat melihat bayangan dirinya yang tampan, Narcissus jatuh cinta pada bayangan itu. Namun, bayangan itu tidak memberinya respons sama sekali. Konon akhirnya Narcissus kemudian mati di tepi kolam tersebut.
Inilah kisah mitologi kuno yang pada 1898 oleh seorang psikolog dari Inggris bernama Havelock Ellis dijadikan sebagai simbol untuk orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri. Sejak itulah dikenal istilah narsistik yang menggambarkan manusia yang hanya berfokus pada dirinya sendiri serta menikmati pujaan dari orang lain kepadanya.
Bahkan, sekarang ini, dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR) dikenal pula adanya Narcissistic personality disorder (NPD) yang dianggap sebagai salah satu dari gangguan kepribadian.
Membanggakan diri
Orang-orang yang narsis mempunyai ciri-ciri senang menjadi pusat perhatian dan senang membangga-banggakan dirinya secara berlebihan. Orang narsis berbeda dengan orang yang percaya diri, karena hampir setiap hari dia hanya berbicara soal kehebatan, kelebihan, dan selalu membutuhkan orang lain untuk memuja dirinya.
Di sisi lain, dia mengeksploitasi orang lain agar selalu merasa bangga dan menyukai dirinya. Pada saat orang mulai tidak tertarik kepadanya, dia akan segera mencari korban lain yang akan senang memberikan pujaan bagi dirinya.
Permasalahan terbesar pada orang yang narsis adalah dirinya hanya mengambil dari orang-orang di sekelilingnya, tetapi tidak memberikan balik secara tulus.
Kalaupun dia memberi untuk orang lain, yang dia harapkan adalah pujian dan pemujaan terhadap dirinya. Terkadang, orang narsis ini bisa berlaku sangat baik dan sempurna kepada orang lain, tertapi terhadap orang-orang di sekelilingnya, terhadap anak buahnya ataupun keluarganya, dia bisa jadi sangat kejam bahkan terkesan jahat.
Orang narsis pun tidak segan-segan meneror orang lain yang bermasalah dengannya dengan sms, email ataupun telepon yang membuat orang tersebut bergantung padanya. Atau, setidak-tidaknya membuat mereka merasa bersalah.
Bicara soal membangga-banggakan diri pada orang narsis ini, saya teringat dengan kisah Anna Edson Taylor yang pada 1901 menjadi orang yang pertama kali mampu menyusuri air terjun Niagara dan terjun dari atas air terjun itu hingga ke bawah dengan hanya masuk ke dalam sebuah tong!
Anna tetap hidup dan atas prestasinya tersebut, Anna sering menceritakannya. Pokoknya, hampir kepada semua orang yang pernah bertemu dengannya Anna menceritakan prestasinya tersebut.
Anna menceritakan hal ini di pertemuan minum teh, di acara makan malam, di pesta, di pertemuan bisnis ataupun dalam rapat serikat kerja.
Dia pun menceritakan kisah ini kepada para editor dan wartawan, hingga lama-kelamaan orang pun mulai muak. Tapi, Anna tidak peduli. Hingga akhirnya, sebuah surat kabar tua Denver Republican dalam ulasan editorialnya mengatakan dengan pahit kepada Anna, “Anna Edson Taylor sudah mengambil semua penghargaan dan pujian yang mestinya diberikan kepada tong kayu yang telah menyelamatkannya”.
Berbicara soal manusia narsis sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari masa lalu mereka. Beberapa teori psikologi, khususnya yang beraliran Freud, mengatakan bahwa kebanyakan mereka yang narsistik tidak mendapatkan penghargaan yang layak sewaktu kecil.
Akibatnya, hal ini menjadi unfinished business dalam kehidupan mereka. Mereka pun lantas berusaha mendapatkannya dari orang-orang di sekelilingnya ketika mereka sudah beranjak dewasa.
Dalam dunia bisnis, orang-orang narsis bisa menjadi masalah besar, khususnya dalam tim. Mereka bisa menjadi bos yang sangat pelit memberikan pujian dan penghargaan bagi timnya.
Kalaupun memberi, harapannya adalah supaya timnya bergantung padanya dan selalu memujanya. Dia pun jadi senang mengumbar prestasinya ke semua orang dan memastikan bahwa dia adalah orang yang hebat.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa prestasinya tidaklah sebaik apa yang dia klaim. Akibatnya, orang pun jadi sadar bahwa dirinya hanya membesarkan apa yang terjadi tetapi tidak sesuai dengan realitas. Lama kelamaan akhirnya orang menjauhinya.
Menghadapi orang yang narsis sebenarnya cukup mudah karena dia senang dihargai dan dipuja. Itulah yang menyebabkan orang narsis kadang mudah dikelabui. Namun, tidak selamanya orang narsis harus dipenuhi keinginannya karena dirinya tidak pernah ada puasnya.
Terkadang, mereka pun perlu diberitahu dan belajar ‘mencintai’ serta memberikan perhatian tanpa bersyarat kepada orang lain. Dalam taraf yang ekstrim, orang seperti ini butuh bantuan.
Namun, tetap perlu diperhatikan bahwa tidak semua sikap seperti self promotion ataupun rasa percaya diri yang kita tunjukkan pasti berarti narsistik. Setiap orang harus memiliki kadar mencintai dirinya sendiri. Itu adalah hal wajar. Kalau tidak, semua orang mungkin sudah bunuh diri.
Bukankah saat kita melihat foto kita, orang yang pertama kali kita lihat adalah wajah kita sendiri. Inilah insting kehidupan kita. Hanya saja, jika insting ini berubah menjadi obsesi yang berlebihan, ia pun menjadi wajah narsistik yang merusak. Marilah kita mencintai diri dan bangga dengan diri kita, secara positif!

LaNjUT......