Menjadi Orang Romantis

T, A, R, dan Aku malam itu bersama menginap di kamarku. Maklum, kamarku sudah terbiasa menampung para ikhwah jomblo dan mahasiswa terlantar seperti mereka. Makanya aku sedang merancang Undang-Undang untuk itu. “Ikhwah jomblo dan mahasiswa terlantar dipelihara di kamarku”. Nanti diplenokan.
Obrolan tentang “masa depan” itulah tema pembicaran malam itu. Dengan sekantong Tahu isi + tempe tepung goreng menemani, mengurangi rasa dingin.
Sebelum obrolan inti terjadi, sebelum A datang ;
R : “Dari mana nt ?” tanyanya kepada T ketika pintu kamarku tiba-tiba dibuka dengan kedatangannya.
T : “Biasa akhiy, pertemuan meja bundar”
Aku : “Lho, kok cepat sekali ? Perasaan baru 15 menit yang lalu nt pergi dari sini ?”
R : “ Memang Apa agenda pertemuannya nt kah ? Jangan sampai Cuma Tilawah, salam, setelah itu Doa Robitha ?” menambahkan
“Whahahahaha........” Ketiganya tertawa lebar. Tanpa sadar belum ada yang sikat gigi. 3 sumber bau bercampur menjadi satu. Bau kangkung, bau ayam sabili, bau indo mie. Kalau bau yang masih alami mah, tidak apa-apa. Tapi ini bau yang ditimbulkan oleh makanan yang sudah diolah di dalam lambung berjam-jam yang lalu. Kira-kira terbentuk bau apa ya ??? bayangkan saja sendiri !
T : “bah, kan ane pergi jam 8 tadi dan sekarang sudah jam 11. Jangan-jangan kalian ini sudah pikun ya ?” katanya sambil tersenyum merasa menang.
Malam itu hujan turun dengan sederhana. Hanya rintik kecil yang ditiup angin pelan, menimbulkan suara berisik beraturan.
R : “Akh T, dengar-dengar sekarang nt masuk sebuah organisasi kepenulisan ya ? Ane jadi curiga nih”
T : “Curiga apaan ?”
Aku :”jujur saja T ! apa motif nt masuk lembaga kepenulisan itu ? Mau jadi cerpenis ? Atau ada motif lain ?”
T : “kalian ini selalu curiga padaku. Ada dendam apakah ? Kenapa setiap kali akau datang ke kamar ini, selalu aku yang kalian jadikan objek penderita ? Kalau benci, bilang benci. Kalau marah, bilang marah. Ada apakah sebenarnya ?” Katanya dengan nada yang tidak serius
R : “Aneh saja aku lihat. Tidak seperti T yang aku kenal”
T : “Nt ini selalu cari-cari masalah denganku. Suka sekali nt sengaja menggodaku, menjatuhkanku. Semua yang aku lakukan, pasti nt komentari dengan komentar yang aneh-aneh” kali ini sedikit serius. Eh, sedikiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttt..... serius. Dan aku pikir, lebih banyak yang tidak seriusnya.
Suasana hening sesaat. Hanya sesaat. Ketika kembali R berkomentar kepada T ketika T mengambil satu buah buku di lemari bukuku. “Ayat Amat Cinta” Itulah judul buku yang dia ambil.
R : “Tuh kan bener. Dulu nt paling tidak suka membaca buku yang ada kata cintanya. Kalau nt ambil buku di rak itu, pasti buku-buku tentang pergerakan, muhasabah, atau fiqh” komentarnya membenarkan kecurigaannya
T : “Inikan buku humor R. Bukan buku cinta yang serius.”
R : “Jangan malu-malu ! kalau mau pinjam buku tentang cinta, bilang saja !”
Dan benar saja. Tidak lama setelah R mengeluarkan pernyataan itu, kini di tangan T sudah bertambah satu buku lagi. kali ini judulnya “Ayat-Ayat Cinta”.
T : “Ada lagi buku lain tentang cinta yg nt punya ?” tanyanya padaku. Dia tidak bergeming mendengar komentar R
Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia bertanya apakah aku punya film KCB atau tidak. Katanya dia mau menontonnya. Padahal waktu aku dan R menontonnya dulu, T adalah orang yang paling banyak mengkritisi kenapa fil seperti itu menjadi tontonan kami. Bahkan dengan nada menjatuhkan, film-film bernuansa cinta dan romantis seperti itu, seharusnya dihindari.
R : “Whahahahaha.......... Ada apa denganmu kawan ??? Mahluk halus apa yang telah merasukimu? Ini bener dengan akh T kah ? atau saya sedang bermimpi ?”
T hanya tersenyum simpul (simpul mati). Mungkin sedikit sungkan bercampur malu setelah di tertawakan oleh R. Dan kini tidak ada pembelaan yang ia lontarkan.
Aku : “Banyak di sana. Cari saja sendiri ! Buku Cinta yang bagaimana ? Yang Melankolis, Romantis, atau yang membangun” jawabku dengan senyuman geli mendukung tawaan R.
T : “Pokoknya buku tentang cinta. Yang romantis kalau bisa”
R : “T.....T.... Itu buku sudah selesai di baca berabad-abad yang lalu. Nt ? baru baca sekarang. Itulah maksud kecurigaanku. Jujurlah ! Apa sebenarnya motifmu masuk ke organisasi kepenulisan itu ?”
Aku : “jangan-jangan ada............???” selidikku
T : “Kenapa sih, kalian ini suka sekali berpikir yang aneh-aneh kepadaku ? Begini salah, begitu salah. Jadi bingung” kali ini seriusnya lebih banyak. Tapi masih lebih banyak tidak seriusnya.
R : “cie....cie....cie....! mau berkelit ? sudahlah ! jangan cari-cari pembenaran ! ada apa sebenarnya ?” masih menyelidiki dengan senyuman isengnya menggoda
Mendengar celotehan kecurigaan itu, T menjadi gerah. Dia merasa tidak tahan lagi dengan desakan-desakan yang menyudutkannya. Tidak ada yang membelanya. Akhirnya dengan segala keterpaksaannya, dia melemah. T menarik napas panjang
T : “begini teman-teman, aku sekarang bercita-cita ingin membuat sebuah buku. Sudah ada idenya di kepalaku. Buku itu nanti akan bercerita tentang nt-nt semua dengan segala sifatnya. Nt tau apa judulnya ?” mencoba membuat Aku dan R penasaran.
Tapi aku tidak sedikitpun merasa penasaran. Mungkin begitu juga dengan R. Bahkan tidak pernah mengharapkan pertanyaan itu keluar.
Aku : “apa judulnya ?”
T : “Bujang-Bujang Melajang”
“Whahahahahaha..............!” Judul itu memecah tawaku dan R
Aku :”Jadul !” kataku sambil tertawa dengan pandangan ke arah T
T : “Kenapa tertawa ? Nanti di dalamnya akan ada cerita tentang R yang politikus yang ‘unik’, D yang romantis dengan ide-ide cintanya, A dengan segala pengabdiannya kepada sebuah cabang yayasan, S dengan jiwa khayal dan imajinasinya yang mengagumkan, Ss dengan kedewasaan dan kata-kata bijaknya yang ‘unik’ juga”
Aku dan R : “Dan tentang nt sang lelaki pemendam rasa. Whahahahahaha........” menambah volume tawaku dan R. Smentara T senyum-senyum mengiringi tawa kami berdua, sambil tertunduk asyik membaca buku.
Terpukul dan menderita, itulah kondisi T malam itu. Tidak berdaya. Apalagi kata-kata lelaki pemendam rasa yang baru saja dia dengar. Kata yang beberapa waktu lalu sempat menjadi status di wall Facebooknya. Kata T sih, status itu bukan dia yang tulis. Tapi temannya yang iseng. Seolah tidak peduli, sejak itu aku dan R sering memanggilnya dengan status itu.
R : “Tapi ah, aku masih tidak percaya kalau itu tujuanmu yang sebenarnya. Pasti ada tujuan lainnya ini. Ya Kan ?”
Aku : “Ya ! Masa mau buat tulisan seperti itu cari-cari buku cinta ? yang romantis lagi. Apa hubungannya ?”
T : “Wah, kalau sudah begini kalian memang selalu berpikir CURIGAISASI sama saya”
Aku : “berpikir apa nt bilang ?”
T : “Berpikir CURIGAISASI”
R : “Wah, istilah apa itu T ? Baru kudengar. Nt ambil dari kamus mana ? Kok tambah menjadi anggota organisasi kepenulisan, bahasanya nt jadi aneh-aneh ?”
T : “Itu ada di kamus Bahasa Indonesia akhiy. Makanya sering-sering buka kamus. Itu sama dengan kata Panfletisasi, spandukisasi, lifletisasi” katanya, merasa lebih dari T
Aku : “Jangan sampai sama juga dengan Organisasi, transmigrasi, irigasi ?” kataku memihak kepada R
“Whahahahaha..........” untuk kesekian kalinya aku dan R tertawa dan tentu ke arah T
T : “Terserahlah ! apa yang mau kalian bilang. Yang jelas sekarang aku mau jadi seorang penulis, cerpenis. Aku akan memasukkan tulisanku nanti di penerbitan kampus untuk di muat”
R : “Eiitttsss.... Urusan belum selesai. Pertanyaan kami belum nt jawab. Apa tujuan lain nt masuk organisasi penulisan itu ? Jangan-jangan nt mau jadi primadona ???
T : “apa lagi ? Sudah ku jelaskan. Tujuanku masuk organisasi kepenulisan itu adalah, aku ingin jadi penulis. itu saja”
Aku : “Terus, buku-buku tentang Cinta ?”
Tidak berdaya lagi. T mencari alasan baru
T : “Begini teman. Sebenarnya aku merasa ada yang kosong dan hampa dalam diriku ini. Dan aku ingin mengisinya” jelasnya dengan ekspresi wajah yang serius. Ah, tapi tidak serius-serius amat tuh.
Sementara Aku dan R mendengarkan dengan raut wajah yang menahan-nahan tawa. Kali ini ada sedikit penasaran. Penasaran tentang kosong dan hampa yang dimaksud T
T : “Aku merasa kosong dengan romantisme. Makanya aku mau mengisinya, supaya aku menjadi manusia yang romantis”
“Whahahahaha..........” Tawaku dan R yang kami sudah tidak tau untuk yang keberapa kalinya.
Kali ini tawa kami parah. Aku tertawa sambil memegang perutku. Sementara R tertawa sambil memukul-mukul lantai dengan telapak tangannya.
R : “T.....T.....nt aneh memang malam ini. Seorang kalem bicara Cinta. Dari anti cinta menjadi cari cinta” suaranya mengikuti irama tawanya.
Di tengah-tengah tawa kami, seseorang mengetok pintu kamarku. Aku segera membukanya. Dan ternyata A yang datang................
BERSAMBUNG................... (Curhat Umar Bakriy)

LaNjUT......

Obrolan Dodol my Family

“Rahiiiiiimmmmmmmm......... Angkat seng sms ta’ kodongE”

“Oooooo.... Rahimmm...... Angkat seng sms ta’ kodongE”
“Ngarro Q anak-anak kodongE”
“Tena apa-apa. Ooooo...... Rahim......... Angkat seng sms ta’ kodongE”
“Oooooo..... Rahim..... Eeeeeeeee....”
(maaf kalau salah tulis. Tapi seperti itulah yang kudengar ^_^)
Begitulah kira-kira nada sms hpku malam itu. Yang intinya arti nada sms itu, meminta Rahim untuk segera angkat sms. Memelas sekali. Diiringi nada yang mengharukan. Coba saja anda dengar nada sms ini, pasti anda mengeluarkan air mata. Bukan karena terharu, tapi karena ketawa mendengar suaranya. Lucu menggelitik
Ku angkat Hpku. Ku baca pesan yang ada di dalamnya.
“Asw. Kak, telepon dong ! Gak ada pulsa nih. Penting !” (Huuhhh.... payah ! Bikin malu gue aja. Hari gini gak ada pulsa ?) Ternyata sms dari adikku.
Dan tanpa basa-basi, perintah sms itu aku lakukan. Dan tidak perlu menunggu terlalu lama, aku sudah terhubung dengan adikku di seberang sana.
“Assalamualikum..........!” sapa adikku
“Wa’alaikum Salam......!” jawabku
“Bagaimana kabar puang.....??”
“Alhamdulillah baji-baji ji. Tambah tampan, tambah gagah, tambah keren, tambah cakep, tambah apa lagi ya....” jawabku yang membuat adikku tertawa.!

Aku tidak tau kenapa dia tertawa. Padahal menurutku gak ada yang lucu. Masa Cuma menjawab seperti itu saja langsung bikin ketawa ? Ternyata katanya, karena aku ini narsis pisan euy. Ah, tapi masa sih itu dibilang narsis ?? Kan aku Cuma jawab sesuai kenyataannya. Seadanya githu lhohhh. Kan dilarang bohong oleh agama. Nanti dapat dosa. Benerkan ???
“Bagaimana Boss ? Kapan ujiannya ? Kapan jadinya Wisuda ? Kapan pulang ke kampung ? Kapan kerja ? Kapan menikah ? Sudah lama mau punya kakak perempuan. Sudah lama juga aku ingin timang keponakan” tanyanya bertubi-tubi.
Ssssrrrrrrr........................ Pertanyaan-pertanyaan yang membuatku gagap. Pertanyaan sensitif. Kapan dan kapan. Jadi menyesal menelponnya. Seandainya saja aku tau kalau dia cuma mau bertanya seperti itu. Kagak bakalan aku telepon. Aku tertipu dengan kata penting.
Tapi sebenarnya inti dari pertanyaannya adalah “kapan” yang terakhir. “Kapan Menikah?”. Karena mungkin menurutnya, kalau pertanyaan “kapan” yang terakhir terjawab, maka pertanyaan “kapan” sebelumnya sudah terjawab dengan sendirinya. Karena “kapan” sebelumnya, harus terjadi sebelum “kapan” terakhir.
Tapi kalau aku mah, gak perduli “kapan” yang mana yang harus di dahulukan. Kalau bisa, “kapan” yang terakhir, dikasih maju lagi ke depan. Minimal sebelum “kapan pulang ke kampung?”. Mupeng diriku......Hehehe....!!! (Mupeng, minjam istilah yang kudapat dari seorang teman)
“Hehehe....” itu jawaban yang bisa kuberikan
“kenapa sih nt bertanya itu-itu terus ? Gak ada obrolan yang lebih menarik kah?” Protesku
“Kan adek sudah terlanjur bilang dan ceritakan sama semua teman-teman adek, kalau adek mau ke Makassar bulan .............. Eh, malah diundur lagi ke bulan .......” jawabnya
(Setelah bulan itu sengaja di kasih titik-titik. Rahasia perusahaan)
Bah ! Mati aku. Rencana wisudaku sudah tersebar di teman-teman adikku. Yang ternyata tidak jadi. Untung saja aku tidak dekat dan tidak bertemu dengan mereka. Kalau itu terjadi, mau aku sembunyikan dimana mukaku ? Dibalik diputar saja kali ya ? Tapi kalau disembunyikan di kantong, boleh juga tuh. Kan kantong kosong gak ada isinya. Maklum, bukan Boss yang penuh dengan lembaran-lembaran cokelat, hijau, merah, kuning. (emang pelangi ?)
“Salah sendiri. Kenapa terlalu cepat nyebarin hal yang belum pasti ?” dalihku membela diri
“Tapi kan kakak sendiri yang bilang kalau mau wisuda bulan........ Kakak juga bilangnya dulu dengan suara yang meyakinkan dan tegas”
“Ya udah, bilang saja sama teman-temanmu. Kalau wisudanya ditunda karena kesalahan teknis. Lagian kalau ke Makassar bulan itu, sedang musim badai laut dan udara” aku berkelit lagi
“Weeek..... dasar ! :-P” tanggap adikku
“Ngemeng-ngemeng, sampai di mana nih pembicaraan dengan inaq dan amaq ?” dia berpindah ke pembicaraan yang lain
“Pembicaraan apa”
“Pembicaraan yang itu tuh....”
“Yang mana ?”
“Yeeeee.... pura-pura tidak tau lagi. Bilang saja ! jangan malu-malu. Moso sama saya malu-malu?” selidiknya
Wah, kalau sudah begini aku tau pembicaraan apa yang dia maksud. Pasti tentang itu. Dasar anak kecil. Mau tau saja urusan orang dewasa. Coba waktu itu dia di dekatku. Pasti kujitak kepalanya sampai benjol-benjol seperti yang di film Sinchan.....
“Tanya aja sendiri sama inaq dan amaq !” ketusku sinis
“Oke !”
“Kak, tolong sambungin ke rumah dong ! Conference ! Adek mau bicara sama inaq dan amaq. Rindu banget nih” Mintanya
“Enak aja ! Pulsaku Cuma tersisa berapa nih” Alasanku supaya tidak Conference.
Karena aku tau kalau itu aku lakukan, pasti dia akan melakukan apa yang aku khawatirkan. Bicara ceplas-ceplos. Memaksa. Membujuk. Merayu. Yang akhirnya akan membuat rahasiaku terbongkar.
“Ayolah kak. Sekali ini saja. Please ! Kan gratis kalau pakai GSM ini.” Dia memaksa
“Pokoknya tidak mau. Isi pulsa sendiri !”
“Mohon sekali kak. Please. Rindu sekali sama inaq dan amaq”
Tidak berdaya aku mendengar bujukannya. Akhirnya ku ikuti lagi apa yang dia minta. Dan benar saja. Aku tertipu lagi. Kali ini dengan kata rindu.
Kini aku tidak bicara berdua dengan adikku, tapi bicara bertiga dengan amaq bersama inaq di sampingnya. Conference.
“Amaq, bagaimana tuh kak Dede ? Kok tidak jadi-jadi sarjana ? Bagaimana mau nikahnya kalau begini ?” adunya.
Wah, langsung to the point nih. Langsung menyerang tanpa aba-aba. Tadi katanya rindu, sekarang ??? Bener-bener ini bocah satu. Tambah gereget mau jitak kepalanya.
“Ya nak. Amaq juga tidak tau apa masalahnya. Kayaknya memang dia bakalan Mosot (jadi bujang tua) tuh. Kalau begini terus” bapak membenarkan
Tidaaaaaaakkkkkkkkkkk...................!!! Kata-kata bapakku ??? Mudah-mudahan tidak terjadi Ya Robb
Wah gak adil nih, masa aku di serang sama semuanya ? Tidak ada yang berpihak padaku. Tidak ada yang membelaku. Tapi kudengar sayup-sayup suara inaq yang saat itu duduk di samping bapakku dan menyimak.
“Sabar saja nak. InsyaAllah akan tiba masanya. Dan inaq yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik” ibuku membela
Terima kasih Inaq. Sedikit lega. Ibu selalu menjadi malaikat penolongku. Tidak pernah menyalahkanku. Selalu memberikan motivasi yang membengkitkan. Ada damai dan tenteram saat mendengar nasihatnya. Ada Syurga saat mendengar Doa-Doanya. I Love You inaq.
Aku hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka di balik telepon. Menunggu moment untuk angkat bicara
“Amaq, kalau belum ada yang cocok buat kakak, biar aku saja yang mencarikannya ?? InsyaAllah dijamin !” tawar adik ke bapakku
“Boleh lah. Tidak apa-apa. Tapi tetap penentu adalah amaq. Baik menurutmu, belum tentu baik menurutku. Dan buruk menurutmu, belum tentu buruk menurutku. Jadi, juri penentu ada sama amaq. Oke ?”
“Sissspppplah.... Tapi aku jamin, pilihanku tidak jauh beda dengan apa yang amaq inginkan sebagai menantu” ucap adikku kegirangan
Tidah tahan mendengar mereka, aku mulai angkat bicara
“Wah, enak aje. Emang yang mau menikah siapa ? Saya yang mau menikah kok kalian yang pusing denan kriteria ? Suka-suka saya dong. Kan aku yang akan menjalankan”
“Tidak bisa begitu bro ! Amaq yang menentukan. Kalau ibaratnya KDI, amaq itu komentator yang paling berpengaruh. Terserah gua dong. Anak, anak gua.” suara amaq bersikeras dengan nada bicara pelawaknya yang khas (gua itu sebenarnya gue maksudnya. Tapi bahasanya orang yang sudah tua, ya begitulah)
Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata amaq. Karena aku tau dia tidak serius. Dalam hal ini, bapakku sangat demokratis. Walaupun memang semuanya tentang itu aku serahkan sepenuhnya kepada orang tuaku.
“Wah, bahaya ini cess kalau begini. Kembali ke zaman Siti Nurbaya dong?” kataku membela diri
“Bukan begitu Choy ! Amaq Cuma mau memilihkan yang terbaik. Supaya nanti kalau ada orang yang melihat dan bertanya : Wah mantu siapa tuh ? Kemudian ditau amaq yang punya mantu, kan amaq menjadi lega dan bangga. Ya kan Boss?
“Emang Isteriku untuk ditonton sama orang-orang kampung ? Enak aja !
Mendengar obrolan dodol itu, ibuku ikut ambil bagian. Ibu angkat bicara
“Kenap sih kalian ini ? Githu aja kok repot. Nak, ikuti kata-kata ibu. Nanti kalau kamu menikah, cari isteri yang ...............&..................&.....................&....................bla...bla...bla...”
Wah, aku kira ibu mau memberikan solusi. Malah menambah banyak perdebatan dengan kriteria masing-masing.
Lucu, seru, kocak, pokoknya membuatku tertawa tiada henti malam itu.
Semakin “sengit” perdebatan. Semakin “keras” dengan pendapat masing-masing dengan tetap dibingkai lelucon dan tertawa-tawa. Semua mau jadi juri penentu. Tidak ada yang mau mengalah. Setelah berdebat dan saling “menjatuhkan” satu sama lain, akhirnya satu persatu melemah.
an pada akhirnya, bapak mengeluarkan kata-kata bijaknya. Yang merangkul semua pendapat. Bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika. Merapatkan barisan. Satukan tekad dan semangat untuk Indonesia jaya. Menjadi satu kesatuan yang utuh. Tanpa ada perbedaan dan sekat-sekat yang menhalangi. Merdeka !!! (Kok jadi semangat para pahlawan ya ??)
“Begini saja Nak, dan semuanya. Semua kita menjadi juri. Tapi menjadi juri untuk pilihan kita masing-masing. pilihan yang akan menjadi keluarga baru di rumah ini. Yang akan menjadi pendamping hidup si kakak. Semua berhak menilai”
“Maksudnya apa amaq ?” tanyaku bingung
“Maksudnya begini : Kalau nanti ada pilihan yang dipilih oleh kamu nak, ambil ! Tapi kalau ada pilihan yang dipilih oleh amaq, ambil ! Begitu juga kalau ada pilihan dari inaq, ambil ! Kalau juga ada pilihan dari adikmu, kita ambil juga ! Cukup Empat kan nak ?? Kalau belum Cukup, nanti kita minta pilihan lagi dari adik-adikmu yang lain. Dan kalau ada yang mereka pilih, ambil !”
“supaya nanti pesta kita tidak sampai 5 kali berulang-ulang. Langsung jadi kelima-limanya pada waktu yang sama. Juga tidak merepotkan dalam mengurus semuanya.”
“WHahahahahaha....................”
Semua terbahak mendengar kata-kata bijak amaq di akhir pembicaraan.

LaNjUT......

Diary 3

Sebelumnya di Diary 2... ! (kayak sinetron Terlanjur Cinta. Ada tayangan cerita pengulangannya)
Rencana-rencanapun dipersiapkan. Rencana anggaran dan biaya, perlengkapan, konsep acara, dan sebagainya. Bahkan kolega-kolega bapakku yang mengetahui hal tersebut, turut bahagia. Beberapa di antara mereka ikut memberikan ide. Dan menyiapkan rencana-rencana besar untukku. Semua bahagia, semua tersenyum, semua memberi selamat, semua telah dipersiapkan. Acaraku satu pekan lagi.
Episode 3 :
Bukan hanya orang-orang disekitarku yang tahu tentang rencana itu, bahkan teman-teman di kampusku sudah tahu tentangnya. Secara, saya kan artis jadi gosipnya cepat menyebar kemana-mana (wkwwkwk....).
Bahkan beberapa di antara mereka mengirim sms dengan bahasa yang berbeda
“Barokallohulaka wa baroka’alaika wa jama’abainakuma fi khair”
“Selamat menempuh hidup baru. Semoga sakinah, mawahdah, warohmah”
“Kenapa nt gak bilang-bilang kalau mau nikah ? nt nih, diam-diam menghanyutkan”
“Eh, kapan acaranya nt ? Undang-undang ya ?”
“......dan bla....bla....bla.....!!!”
Dan banyak lagi jenis sms yang lain. Aku heran dari mana mereka mendapatkan info itu. Tapi ah aku tidak peduli, karena aku tau kalau di kalangan aktifis kampus, info-info tentang pernikahan cepat sekali tercium. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang merah padam mukanya, menjadi panas darahnya, atau merasa dipukul dengan hantaman keras. Bukan karena menyesali pernikahan saudaranya, tapi karena merasa kalah dalam berlomba dalam kebaikan. Semuanya aku aminkan saja, tanpa harus memberi komentar apapun terhadap sms-sms itu.
3 hari lagi menjelang hari itu.
Ku buka-buka lagi buku Salim A. Fillah yang judulnya “Barokallohulaka Bahagianya Merayakan Cinta”, yang kumiliki sejak 1 tahun sebelumnya. Padahal sudah khattam 2 kali. Tapi masih saja perlu pemantapan. Bab per bab buku itu aku buka. Dari persiapan, pelaksanaan, dan seterusnya. Tidak lupa doa-doa dalam tahapan-tahapannya. Susah juga kalau menghapalnya. Mulai dari doa dipilihkan jodoh, doa akad, doa masuk kamar, dan doa-doa lainnya. Pokoknya komplit semua doa di dalamnya. Harus hapal dalam 2 hari. Seperti mau ujian saja. Padahal sudah dua kali khattam, tapi aku tidak pernah berpikir kalau inginku itu akan terjadi mendadak dengan waktu yang tidak ku sangka-sangka seperti ini. Tapi harus bisa. Supaya nantinya Cumlaude.
Dalam sujud-sujudku, dalam doa dan munajatku, dalam malam-malamku, ku mencurahkan segalanya kepada Sang penggenggam jiwa. Karena Dia lah yang telah mensekenario kehidupan yang sudah, sedang, dan yang akan di jalankan.
“Ya Allah, jika ini adalah JalanMu, maka aku Ridha dengannya. Berikanlah petunjuk dengan cahayaMu. Tetapkan langkahku dengan RahmatMu. Kuatkan hatiku dengan CintaMu. Agar bisa ku dapatkan berkah dan RidhoMu”
“Ya Allah, dalam hitungan hari dan menit, hambaMu ini akan segera menggenapkan setengah agamanya. Mengikuti jejak kekasihmu Rasulullah yang mulia. Maka hanya kepadaMu aku menyerahkan segalanya. Segala urusanku. Karena engkaulah yang berkuasa atas diri dan hidupku. Jika ini adalah jalan yang telah engkau tetapkan untukku. Maka berkahi aku dengan petunjukMu. Agar bahagia bisa ku dapat. Agar Syurga bisa ku raih”
Kira-kira begitulah bait doa yang akau panjatkan. Eh, ada lagi yang kelupaan. Ada doa khusus untuknya yang aku minta
“Ya Allah jika engkau telah menetapkan dia sebagai Pendampingku, aku ingin mencintanya seperti Muhammad mencintai Khadijah. Untuk itu ya Allah, jadikanlah dia seperti Khadijah untukku. Menemaniku dalam semua warna kehidupan. Mendukungku dalam setiap kebenaran. Meluruskanku dalam setiap salah. Menjadi penghibur dalam laraku......”
Dan masih panjang sebenarnya. Tapi cukuplah sampai di sana. Nanti para pembaca mencontek lagi kalimat-kalimat doaku. Hehehehe.....
1 Hari Lagi sebelum hari itu
Bertambah “gundah” diri ini. Kalau lagu-lagu bilang, jatuh cinta berjuta rasanya. Bukan. Bukan berjuta, tapi berjuta-juta, bahkan bermiliyaran. Berlebihan banget sih ??? Padahal tidak pernah kuhitung. Walaupun mungkin aku mengitungnya aku pasti tidak akan bisa. Karena rasa bukan benda. Ah, yang penting kan rasanya bung. Dan memang begitu rasanya. Semua rasa bercampur aduk. Kalau diibaratkan Es, pasti namanya Es Teler. Kalau diibaratkan makanan, pasti namanya Gado-Gado. Kalau istilah yang dipakai dalam masyarakat, namanya rasa yang plural.
Orang tuaku kelihatan sibuk. Menelepon kiri kanan. Sementara orang-orang memberikan selamat kepadaku. Yang lain memantapkan hatiku, meyakinkan untuk melanjutkannya. Aku hanya duduk-duduk tanpa banyak gerak. Duduk di ruang tamu dengan Barokallohulaka Bahagianya Merayakan Cinta setia di tangan.
Masih tidak percaya. Aku ambil air wudhu. Kembali memohon kepada Sang pemilik Waktu. Mungkinkah secepat itu ??? Mungkinkah besok adalah hari itu ??? Terasa hanya mimpi. Dengan takbir dan Bismillah,
“Ya Allah, aku sudah siap !
Malam sebelum esok. Sebelum hari itu
Ku lihat Ibuku menelpon entah dengan siapa
“Ooooo.... Begitu ?”
“Tidak apa-apa”
“InsyaAllah itu yang terbaik”
“Jam berapa besok ?”
“Waalaikumsalam”
Begitulah sayup-sayup ku dengar kata-kata ibuku mejawab suara dari teleponnya.
“Siapa Bu ?” Tanyaku mencoba menghilangkan penasaran.
“Tantemu menelpon”
“Oh, bicara tentang apa?”
“Bicara tentangmu”
“Bagaimana ?” Kejarku
“Begini nak. Jadi Besok, anaknya mau pulang dari Jakarta. Dan Tantemu sudah bicara dengannya tentang rencana ini”
“Terus ?”
“Dan katanya dia akan pulang tidak sendirian. Ada beberapa orang jakarta yang akan ikut pulang bersamanya. ”
“Siapa ?”
“Calon Suami dan Mertuanya !
“:-/ :-(“

Hanya ekspresi itu yang aku tampakkan setelah ibuku mengucapkan kata-katanya. Kalau di film-film, pasti waktu itu suasananya sedang hujan. Terus mati lampu dan gelap. Hanya suara hujan yang di dengar. Seketika Petir dan halilintar menyambar dengan suara gemuruhnya. Gorden-gorden dan kelambu jendela melayang-layang ditiup angin. Dan aku sebagai bintang film ceritanya, berdiri kaku dengan cahaya remang-remang seperti lampu kelap-kelip yang dihasilkan oleh kilat. Trus Shootingannya pasti di zoom berulang kali ke arahku. Musiknya juga pasti bikin terkejut-kejut. Terus setelahnya musik yang menggambarkan kesedihan dan kekecewaan. Seperti Syahrukh Khan di Film Kabhi Kushi Kabhi Gum. Whahahaha............
Setelah aku selidiki lebih dalam, aku bisa paham dan mengerti tentang semua yang terjadi. Ibuku menjelaskan panjang lebar tentang semuanya. Sampai akhirnya hari itu tidak ada.
Ikhlas ! Hanya itu jalan terbaik. Allah punya rencana yang jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan. Karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena begitulah jalan Allah, Akan Indah pada Waktunya. Kadang kita sedih, kecewa dan terluka, tapi jauh di atas segalanya, Allah sedang merajut yang terbaik untukku. Dan aku yakin itu. Suatu saat akan kutemukan dia. Dia yang akan menjadi Khadijah dalam hidupku. Kalau pada waktu ini hari itu tidak ada, maka di hari yang lainnya aku yakin hari itu akan ada.

LaNjUT......