Doa Seorang Kekasih

Oh Tuhan, seandainya telah Kau catatkan
Dia milikku, tercipta untuk diriku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan

Ya Allah, ku mohon
Apa yang telah Kau takdirkan
Ku harap dia adalah yang terbaik buatku
Kerana Engkau tahu segala isi hatiku
Pelihara daku dari kemurkaanMu

Ya Tuhanku, yang Maha Pemurah
Beri kekuatan jua harapan
Membina diri yang lesu tak bermaya
Semaikan setulus kasih di jiwa

Ku pasrah kepadaMu
Kurniakanlah aku
Pasangan yang beriman
Bisa menemani aku
Supaya ku dan dia
Dapat melayar bahtera
Ke muara cinta yang Engkau redhai

Ya Tuhanku, yang Maha Pengasih
Engkau sahaja pemeliharaku
Dengarkan rintihan hambaMu ini
Jangan Engkau biarkan ku sendiri

Agarku bisa bahagia
Walau tanpa bersamanya
Gantikanlah yang hilang
Tumbuhkan yang telah patah
Ku inginkan bahagia
Di dunia dan akhirat
PadaMu Tuhan ku mohon segala

LaNjUT......

Iqro’ Club Melahirkan Pahlawan Baru Indonesia

Minggu, 24 Oktober 2010, Iqro’ Club Lombok Tengah mengadakan Training Pelajar Siswa SMA Se-Lombok tengah. Acara ini berlangsung dengan meriah. Lebih dari 600 pelajar hadir dalam acara tersebut. Acara yang bertemakan Be Amazing Young Generation ini bertujuan untuk memotivasi pelajar untuk menjadi lebih baik. Menurut ketua panitia Dede Tsabitul dalam sambutannya, acara ini dilaksanakan dalam rangka menyambut hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 oktober nanti. Oleh karena itu, acara ini diharapkan bisa membangkitkan semangat jiwa kepahlawanan bagi para pelajar, katanya.

Acara ini berlangsung di Gedung MUI Lombok tengah dan dibuka langsung oleh Bupati Lombok Tengah. Dalam sambutannya, Junaidi Nadjamuddin mengatakan bahwa generasi muda saat ini adalah harapan yang akan memperbaiki bangsa yang saat ini memprihatinkan. Dia menghimbau, supaya acara seperti ini rutin dilakukan untuk pencerahan para generasi muda.

Acara ini diikuti dengan antusias dan semangat oleh para peserta. Beberapa dari peserta mengajukan pertanyaan seputar bagaimana belajar efektif. dan menjadi orang sukses. Acara ini menghadirkan Trainer Mujahidin, S.Pd. Panitia juga membagi-bagikan sejumlah Door Prize barupa Buku, diary, dan beberapa souvenir kepada para peserta.

Dengan disuguhkan hiburan nasyid di sela-sela acara, para peserta semakin bersemangat dan terkesan dengan kegiatan tersebut. Seoarang peserta Dodi Saputra dari MAN 1 Praya mengatakan “Kami sangat menikmati acara ini. Tidak monoton dan tidak membosankan. Apalagi ditambah dengan penampilan pembawa acara dan pemateri yang sangat bersahabat dengan kami”

“kegiatan ini akan rutin kita laksanakan sebagai program kerja Iqro’ Club. Dan untuk acara berikutnya, kita akan adakan dengan bentuk acara yang lebih besar dan dengan jumlah peserta yang lebih banyak dari saat ini” kata Zaenuddin Efendi selaku ketua Iqra’ Club Lombok tengah

LaNjUT......

Lewat Hembusan Angin

17 Maret 2010
Assalamualaikum. Wr. Wb
Dear Sahabat….
qu ucapkan selamat atas
kelulusanmu….
Semoga sukses selalu
Jadi pengusaha sukses &
Punya isteri shaliha…
Hadiah kecil ini sebagai tanda indahnya
Ukhuwah yang terpisah
Jarak & waktu…
Walaupun ana blum pernah liat
nt… ana yakin nt orang baik
Isi surat yang dituliskan oleh seseorang kepadaku. Surat itu aku temukan terlipat rapi di dalam sebuah kotak bingkisan yang diluarnya jelas tertulis untukku. Di sana juga aku temukan sebuah batik berwarna cokelat, jaket hitam, Novel, dan sebuah kalender bergambarkan fotoku. Itulah yang dimaksudnya hadiah kecil. Mungkin juga kalian akan menganggapnya kecil. Tapi bagiku dia adalah hadiah yang istimewa. Bukan karena jenis hadiahnya, tapi kepercayaan dan ketulusan orang yang memberikan hadiah itu kepadaku.
Kira-kira sejak tiga tahun yang lalu aku bertemu dengannya. Lewat hembusan angin. Hembusan angin yang membawanya padaku dan mengantarku padanya. Entah di mana pertemuan itu, aku tidak tau. Mungkin hembusan-hembusan itu bertemu di birunya langit. Mungkin juga hembusan itu bertemu di hamparan hijau. Atau mungkin di atas landai bentang samudera. Atau mungkin juga hembusan itu bertemu di atap rumah. Atau bias jadi hembusan itu bertemu di dalam sebuah angkutan kota. Ah, tapi itu tidak penting. Yang penting adalah pertemuannya.
Pertemuan pertama, kumemintanya untuk membuka blogku. Alamat blog yang sekarang sedang and baca. Sebening Cinta.
Katanya, “Blog nt jelek. Melankolis. Aku gak suka cinta”
Kujawab, “Kenapa ??? Bukannya Cinta itu indah ? Bukankah semua orang mengharapkannya ? Bukankah itu juga alasan manusia untuk hidup ? Jalaluddin Rumi juga bilang kalau alas an semua pergerakan yang ada di bumi ini adalah karena alas an cinta ??”
Dia jawab “Pokoknya apapun alasannya, aku tidak suka cinta”
Kujawab “Tidak suka sedikitpun ???”
Dia jawab “Tidak ! Titik !”
Kujawab “Biarpun tidak suka, tapi cobalah baca blogku ! Mungkin bukan cinta seperti itu yang nt benci. Atau bisa jadi cinta yang nt benci adalah kebencian yang menyamar menjadi cinta??” aku nyengir
Dia jawab “Jangan memaksaku. Aku tidak mau ! Malas !” Sepertinya dia marah.
Itu adalah pertemuan kami yang pertama. Marah, memaksa, dan banyak perdebatan. Pertemuan kedua, ketiga, dan keempat masih seperti itu. Pertemuan setelahnya aku tidak ingat. Tapi mungkin dia ingat. Pertemuan lewat hembusan angin.
Entah tidak tau pada pertemuan yang keberapa kami mulai akrab. Tapi tetap ada nuansa perdebatan, ejekan, dan terkadang marah. Semakin lama kami semakin akrab. Bahkan kalau bertemu lewat hembusan angin, tidak enak rasanya kalau tidak ada perdebatan, ejekan, dan marah yang kadang-kadang.
Itu mungkin sebabnya kenapa dia pernah mengatakan, ukhuwah itu indah. Ukhuwah itu dekat dan erat. Ukhuwah itu unik. Ukhuwah itu tiada berujung. Ukhuwah itu tiada berpenghalang. Ukhuwah itu bukan musiman. Ukhuwah itu tiada berakhir. Ukhuwah itu saling memberi dan berbagi. Ukhuwah itu Cinta karena Allah. Dan begitulah selanjutnya. Dan akan tetap seperti itu. Seperti itu selamanya. Walaupun hanya lewat hembusan angina.
Aku dan dirinya masih seperti diriku dan dirinya yang dulu. Diriku dan dirinya hari ini.
Katanya, diriku orang jelek dan hitam. Kataku, dirinya orang gendut, tembem, dan gentong.

LaNjUT......

Dua Bocah

Kota bandung, Gerlong Girang. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah itu. Melihat keramaian dan kepadatannya. Bebukit, dingin, padat, dan orang-orangnya memang lembut cara bicaranya. Ternyata memang tidak sama dengan Kota Anging Mamiri, Makassar. Datar, panas, sedikit padat, dan orang-orangnya kata orang-orang agak kasar. Selembut-lembutnya orang Makasar, semarah-marahnya orang Bandung, katanya. Tapi aku tidak peduli. Di hatiku Makassar no 1.
Hampir 2 pekan aku berada di kota itu. Satu hari sebelum kepulanganku, Adikku mengajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan pakaian Pasar Baru. Membeli oleh-oleh untuk di bawa pulang. Katanya pakaian di Bandung haraganya murah-murah. Membawa duit secukupnya, berharap bisa membeli pakaian yang banyak untuk di bawa pulang. Dari satu lantai ke lantai yang lain kami berkeliling. Memlih, menawar, kemudian membayar. Hampir dua jam kami berada di dalam sampai akhirnya masuk waktu shalat Jumat. Kami menghentikan aktifitas, shalat jumat bersama di lantai paling atas. Khutbah Jumat waktu itu temanya keutamaan beramal dan berinfaq. Selesai shalat Jumat kami langsung pulang.
Di luar, kami menunggu angkutan kota. Memilih angkot yang penumpangnya sudah agak penuh supaya bias langsung berangkat. Tapi agak sulit menemukan kondisi angkot yang seperti itu. Dengan terpaksa kami menaiki angkot yang masih sepi, dan kamilah penumpang pertamanya. Tapi dengan tidak menunggu terlalu lama, angkot itu sudah terisi penumpang dengan cepat sampai akhirnya angkot itu sesak kelebihan penumpang.
Secara hati-hati sopir angkot menginjak gas mobilnya dan angkotpun berjalan secara perlahan.
Dengan secepat kilat, tiba-tiba aku melihat dua bocah menggapai, melompat menaiki angkot dan segera berdiri di pintunya. Kelihatannya mereka sudah terbiasa seperti itu. Karena kulihat tidak ada katekutan dan keragu-raguan saat dia menaiki mobil itu. Aku menatap mereka lekat. Seorang anak perempuan dan satu lagi anak laki-laki. Sepertinya mereka bersaudara. Karena kulihat ada kemiripan wajah dari keduanya.
Kuperkirakan umur anak perempuan itu sekitar 7 tahun. Saat itu dia memakai baju kaos warna putih, dan celana panjang warna merah. Tubuhnya seperti tidak terurus. Pakaian yang compang-camping. Wajah yang semestinya putih bersih dan ceria seperti anak-anak yang lain, terlihat hitam legam dengan banyak noda hitam yang membalutnya. Rambutnya kusam kemerah-merahan. Sebuah tas kecil diselendangkannya. Di tangannya ia memegang sebuah alat music. Tapi tidak tau harus kuberi nama apa alat music itu. Hanya terbuat dari beberapa tutup minuman botol yang terpaku pada sebuah kayu. Sekedar menghasilkan suara seadanya.
Dan bocah laki-laki itu baru berumur 4 tahun. Masih sangat lucu sekali. Ia mengenakan topi hijau dengan baju kemeja kumal kotak-kotak. Sesekali dia menerik napas panjang dan keras. Mencoba menarik sesuatu yang mau keluar dari hidungnya. Tangan mungilnya memegang sesuatu yang berbentuk gendang. Sepertinya alat music juga. Tapi sekali lagi aku tidak tau harus memberi nama apa pada alat music yang dibawanya.
Mereka tersenyum. Tapi aku tidak bias membaca arti senyuman itu. Bukan ! Bukan senyuman kebahagiaan. Sulit untuk menerjemahkannya. Dengan sorotan mata yang tajam, dua bocah itu menatap satu persatu penumpang di atas mobil itu.
Dengan suara yang sangat lirih mereka menyapa “assalamualaikum”. Setelah itu tanpa ada komando mereka memainkan alat musiknya. Dengan lincah bocah laki-laki itu memukul gendangnya, dan bocah perempuan memukulkan kayu kumpulan tutup botol yang terpaku ke tangannya.

“Yank, foto siapa di dompetmu
Yang, cobalah jujur padaku
Yang, masih pantaskah kau kupanggil saying”
“Aku tak mau bicara sebelum kau cerita semua
Apa maumu, siapa dirinya. tak pernah bilang ada yang lain
Jangan hubungiku lagi. Ini bias jadi yang terakhir
Aku ngerti kamu, kau tak ngerti aku. Sekarang atau tak selamanya”

Bocah perempuan itu menyanyi. Tepatnya sekedar menyanyi. Kalau saja itu adalah pentas Indonesian Idol, pasti merekalah yang akan mendapatkan kritikan yang sangat pedas dari Anang Hermansyah. Nadanya, napasnya, liriknya, temponya, pokoknya hancur tak beraturan. Tapi seolah tidak mempertimbangkan reaksi telinga para penumpang, mereka mengulangi lagu itu sampai dua kali. Melengking tercekik. Mungkin itu sebabnya ibu-ibu yang di dalam mobil tersenyum geli mendengarnya, begitu juga penumpang yang lain.
Mobil melaju kencang. Tapi dua bocah itu masih tetap bertahan di pintu mobil itu. Ya Allah, aku tidak bias membayangkan kalau sampai tubuh mungil itu terlempar dari tempatnya sekarang.
“terima kasih” dua bocah itu menutup lagunya. Dengan segera bocah laki-laki itu membuka topinya dan menyodorkannya kepada para penumpang. Berharap pemberian untuk membeli sesuap nasi hari ini. Aku dan para penumpang lain segera merogoh kantong. Memberi untuk mereka. Mereka tersenyum. Bahagia ku lihat di wajah mereka.
Pada saat mobil melaju kencang di sebuah tikungan, di tengah-tengah keramaian jalan raya, tiba-tiba saja mereka melompat saling berpegangan. Kami semua berteriak. Terkejut. Takut sesuatu akan terjadi pada mereka. Tapi tidak. Mereka berdiri dengan sigap. Semua mengurut dada lega.
Bocah perempuan itu masih saja memegang tangan adiknya. Dan mobil yang kami tumpangi berlalu meninggalkan jejak suara cempreng dua bocah itu.
Ya Allah, di balik suara nyaringnya aku mendengar hati mereka bernyanyi. Nyanyian tangis yang menyayat. Ada impian di balik senyumnya. Ada harapan di sudut tatap matanya. Mereka ingin bahagia. Mereka ingin ceria. Karena mereka punya impian dan cita-cita. Ya Allah lindungi mereka dari keserakahan duniaMu.

LaNjUT......

Menjadi Orang Romantis

T, A, R, dan Aku malam itu bersama menginap di kamarku. Maklum, kamarku sudah terbiasa menampung para ikhwah jomblo dan mahasiswa terlantar seperti mereka. Makanya aku sedang merancang Undang-Undang untuk itu. “Ikhwah jomblo dan mahasiswa terlantar dipelihara di kamarku”. Nanti diplenokan.
Obrolan tentang “masa depan” itulah tema pembicaran malam itu. Dengan sekantong Tahu isi + tempe tepung goreng menemani, mengurangi rasa dingin.
Sebelum obrolan inti terjadi, sebelum A datang ;
R : “Dari mana nt ?” tanyanya kepada T ketika pintu kamarku tiba-tiba dibuka dengan kedatangannya.
T : “Biasa akhiy, pertemuan meja bundar”
Aku : “Lho, kok cepat sekali ? Perasaan baru 15 menit yang lalu nt pergi dari sini ?”
R : “ Memang Apa agenda pertemuannya nt kah ? Jangan sampai Cuma Tilawah, salam, setelah itu Doa Robitha ?” menambahkan
“Whahahahaha........” Ketiganya tertawa lebar. Tanpa sadar belum ada yang sikat gigi. 3 sumber bau bercampur menjadi satu. Bau kangkung, bau ayam sabili, bau indo mie. Kalau bau yang masih alami mah, tidak apa-apa. Tapi ini bau yang ditimbulkan oleh makanan yang sudah diolah di dalam lambung berjam-jam yang lalu. Kira-kira terbentuk bau apa ya ??? bayangkan saja sendiri !
T : “bah, kan ane pergi jam 8 tadi dan sekarang sudah jam 11. Jangan-jangan kalian ini sudah pikun ya ?” katanya sambil tersenyum merasa menang.
Malam itu hujan turun dengan sederhana. Hanya rintik kecil yang ditiup angin pelan, menimbulkan suara berisik beraturan.
R : “Akh T, dengar-dengar sekarang nt masuk sebuah organisasi kepenulisan ya ? Ane jadi curiga nih”
T : “Curiga apaan ?”
Aku :”jujur saja T ! apa motif nt masuk lembaga kepenulisan itu ? Mau jadi cerpenis ? Atau ada motif lain ?”
T : “kalian ini selalu curiga padaku. Ada dendam apakah ? Kenapa setiap kali akau datang ke kamar ini, selalu aku yang kalian jadikan objek penderita ? Kalau benci, bilang benci. Kalau marah, bilang marah. Ada apakah sebenarnya ?” Katanya dengan nada yang tidak serius
R : “Aneh saja aku lihat. Tidak seperti T yang aku kenal”
T : “Nt ini selalu cari-cari masalah denganku. Suka sekali nt sengaja menggodaku, menjatuhkanku. Semua yang aku lakukan, pasti nt komentari dengan komentar yang aneh-aneh” kali ini sedikit serius. Eh, sedikiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttt..... serius. Dan aku pikir, lebih banyak yang tidak seriusnya.
Suasana hening sesaat. Hanya sesaat. Ketika kembali R berkomentar kepada T ketika T mengambil satu buah buku di lemari bukuku. “Ayat Amat Cinta” Itulah judul buku yang dia ambil.
R : “Tuh kan bener. Dulu nt paling tidak suka membaca buku yang ada kata cintanya. Kalau nt ambil buku di rak itu, pasti buku-buku tentang pergerakan, muhasabah, atau fiqh” komentarnya membenarkan kecurigaannya
T : “Inikan buku humor R. Bukan buku cinta yang serius.”
R : “Jangan malu-malu ! kalau mau pinjam buku tentang cinta, bilang saja !”
Dan benar saja. Tidak lama setelah R mengeluarkan pernyataan itu, kini di tangan T sudah bertambah satu buku lagi. kali ini judulnya “Ayat-Ayat Cinta”.
T : “Ada lagi buku lain tentang cinta yg nt punya ?” tanyanya padaku. Dia tidak bergeming mendengar komentar R
Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia bertanya apakah aku punya film KCB atau tidak. Katanya dia mau menontonnya. Padahal waktu aku dan R menontonnya dulu, T adalah orang yang paling banyak mengkritisi kenapa fil seperti itu menjadi tontonan kami. Bahkan dengan nada menjatuhkan, film-film bernuansa cinta dan romantis seperti itu, seharusnya dihindari.
R : “Whahahahaha.......... Ada apa denganmu kawan ??? Mahluk halus apa yang telah merasukimu? Ini bener dengan akh T kah ? atau saya sedang bermimpi ?”
T hanya tersenyum simpul (simpul mati). Mungkin sedikit sungkan bercampur malu setelah di tertawakan oleh R. Dan kini tidak ada pembelaan yang ia lontarkan.
Aku : “Banyak di sana. Cari saja sendiri ! Buku Cinta yang bagaimana ? Yang Melankolis, Romantis, atau yang membangun” jawabku dengan senyuman geli mendukung tawaan R.
T : “Pokoknya buku tentang cinta. Yang romantis kalau bisa”
R : “T.....T.... Itu buku sudah selesai di baca berabad-abad yang lalu. Nt ? baru baca sekarang. Itulah maksud kecurigaanku. Jujurlah ! Apa sebenarnya motifmu masuk ke organisasi kepenulisan itu ?”
Aku : “jangan-jangan ada............???” selidikku
T : “Kenapa sih, kalian ini suka sekali berpikir yang aneh-aneh kepadaku ? Begini salah, begitu salah. Jadi bingung” kali ini seriusnya lebih banyak. Tapi masih lebih banyak tidak seriusnya.
R : “cie....cie....cie....! mau berkelit ? sudahlah ! jangan cari-cari pembenaran ! ada apa sebenarnya ?” masih menyelidiki dengan senyuman isengnya menggoda
Mendengar celotehan kecurigaan itu, T menjadi gerah. Dia merasa tidak tahan lagi dengan desakan-desakan yang menyudutkannya. Tidak ada yang membelanya. Akhirnya dengan segala keterpaksaannya, dia melemah. T menarik napas panjang
T : “begini teman-teman, aku sekarang bercita-cita ingin membuat sebuah buku. Sudah ada idenya di kepalaku. Buku itu nanti akan bercerita tentang nt-nt semua dengan segala sifatnya. Nt tau apa judulnya ?” mencoba membuat Aku dan R penasaran.
Tapi aku tidak sedikitpun merasa penasaran. Mungkin begitu juga dengan R. Bahkan tidak pernah mengharapkan pertanyaan itu keluar.
Aku : “apa judulnya ?”
T : “Bujang-Bujang Melajang”
“Whahahahahaha..............!” Judul itu memecah tawaku dan R
Aku :”Jadul !” kataku sambil tertawa dengan pandangan ke arah T
T : “Kenapa tertawa ? Nanti di dalamnya akan ada cerita tentang R yang politikus yang ‘unik’, D yang romantis dengan ide-ide cintanya, A dengan segala pengabdiannya kepada sebuah cabang yayasan, S dengan jiwa khayal dan imajinasinya yang mengagumkan, Ss dengan kedewasaan dan kata-kata bijaknya yang ‘unik’ juga”
Aku dan R : “Dan tentang nt sang lelaki pemendam rasa. Whahahahahaha........” menambah volume tawaku dan R. Smentara T senyum-senyum mengiringi tawa kami berdua, sambil tertunduk asyik membaca buku.
Terpukul dan menderita, itulah kondisi T malam itu. Tidak berdaya. Apalagi kata-kata lelaki pemendam rasa yang baru saja dia dengar. Kata yang beberapa waktu lalu sempat menjadi status di wall Facebooknya. Kata T sih, status itu bukan dia yang tulis. Tapi temannya yang iseng. Seolah tidak peduli, sejak itu aku dan R sering memanggilnya dengan status itu.
R : “Tapi ah, aku masih tidak percaya kalau itu tujuanmu yang sebenarnya. Pasti ada tujuan lainnya ini. Ya Kan ?”
Aku : “Ya ! Masa mau buat tulisan seperti itu cari-cari buku cinta ? yang romantis lagi. Apa hubungannya ?”
T : “Wah, kalau sudah begini kalian memang selalu berpikir CURIGAISASI sama saya”
Aku : “berpikir apa nt bilang ?”
T : “Berpikir CURIGAISASI”
R : “Wah, istilah apa itu T ? Baru kudengar. Nt ambil dari kamus mana ? Kok tambah menjadi anggota organisasi kepenulisan, bahasanya nt jadi aneh-aneh ?”
T : “Itu ada di kamus Bahasa Indonesia akhiy. Makanya sering-sering buka kamus. Itu sama dengan kata Panfletisasi, spandukisasi, lifletisasi” katanya, merasa lebih dari T
Aku : “Jangan sampai sama juga dengan Organisasi, transmigrasi, irigasi ?” kataku memihak kepada R
“Whahahahaha..........” untuk kesekian kalinya aku dan R tertawa dan tentu ke arah T
T : “Terserahlah ! apa yang mau kalian bilang. Yang jelas sekarang aku mau jadi seorang penulis, cerpenis. Aku akan memasukkan tulisanku nanti di penerbitan kampus untuk di muat”
R : “Eiitttsss.... Urusan belum selesai. Pertanyaan kami belum nt jawab. Apa tujuan lain nt masuk organisasi penulisan itu ? Jangan-jangan nt mau jadi primadona ???
T : “apa lagi ? Sudah ku jelaskan. Tujuanku masuk organisasi kepenulisan itu adalah, aku ingin jadi penulis. itu saja”
Aku : “Terus, buku-buku tentang Cinta ?”
Tidak berdaya lagi. T mencari alasan baru
T : “Begini teman. Sebenarnya aku merasa ada yang kosong dan hampa dalam diriku ini. Dan aku ingin mengisinya” jelasnya dengan ekspresi wajah yang serius. Ah, tapi tidak serius-serius amat tuh.
Sementara Aku dan R mendengarkan dengan raut wajah yang menahan-nahan tawa. Kali ini ada sedikit penasaran. Penasaran tentang kosong dan hampa yang dimaksud T
T : “Aku merasa kosong dengan romantisme. Makanya aku mau mengisinya, supaya aku menjadi manusia yang romantis”
“Whahahahaha..........” Tawaku dan R yang kami sudah tidak tau untuk yang keberapa kalinya.
Kali ini tawa kami parah. Aku tertawa sambil memegang perutku. Sementara R tertawa sambil memukul-mukul lantai dengan telapak tangannya.
R : “T.....T.....nt aneh memang malam ini. Seorang kalem bicara Cinta. Dari anti cinta menjadi cari cinta” suaranya mengikuti irama tawanya.
Di tengah-tengah tawa kami, seseorang mengetok pintu kamarku. Aku segera membukanya. Dan ternyata A yang datang................
BERSAMBUNG................... (Curhat Umar Bakriy)

LaNjUT......

Obrolan Dodol my Family

“Rahiiiiiimmmmmmmm......... Angkat seng sms ta’ kodongE”

“Oooooo.... Rahimmm...... Angkat seng sms ta’ kodongE”
“Ngarro Q anak-anak kodongE”
“Tena apa-apa. Ooooo...... Rahim......... Angkat seng sms ta’ kodongE”
“Oooooo..... Rahim..... Eeeeeeeee....”
(maaf kalau salah tulis. Tapi seperti itulah yang kudengar ^_^)
Begitulah kira-kira nada sms hpku malam itu. Yang intinya arti nada sms itu, meminta Rahim untuk segera angkat sms. Memelas sekali. Diiringi nada yang mengharukan. Coba saja anda dengar nada sms ini, pasti anda mengeluarkan air mata. Bukan karena terharu, tapi karena ketawa mendengar suaranya. Lucu menggelitik
Ku angkat Hpku. Ku baca pesan yang ada di dalamnya.
“Asw. Kak, telepon dong ! Gak ada pulsa nih. Penting !” (Huuhhh.... payah ! Bikin malu gue aja. Hari gini gak ada pulsa ?) Ternyata sms dari adikku.
Dan tanpa basa-basi, perintah sms itu aku lakukan. Dan tidak perlu menunggu terlalu lama, aku sudah terhubung dengan adikku di seberang sana.
“Assalamualikum..........!” sapa adikku
“Wa’alaikum Salam......!” jawabku
“Bagaimana kabar puang.....??”
“Alhamdulillah baji-baji ji. Tambah tampan, tambah gagah, tambah keren, tambah cakep, tambah apa lagi ya....” jawabku yang membuat adikku tertawa.!

Aku tidak tau kenapa dia tertawa. Padahal menurutku gak ada yang lucu. Masa Cuma menjawab seperti itu saja langsung bikin ketawa ? Ternyata katanya, karena aku ini narsis pisan euy. Ah, tapi masa sih itu dibilang narsis ?? Kan aku Cuma jawab sesuai kenyataannya. Seadanya githu lhohhh. Kan dilarang bohong oleh agama. Nanti dapat dosa. Benerkan ???
“Bagaimana Boss ? Kapan ujiannya ? Kapan jadinya Wisuda ? Kapan pulang ke kampung ? Kapan kerja ? Kapan menikah ? Sudah lama mau punya kakak perempuan. Sudah lama juga aku ingin timang keponakan” tanyanya bertubi-tubi.
Ssssrrrrrrr........................ Pertanyaan-pertanyaan yang membuatku gagap. Pertanyaan sensitif. Kapan dan kapan. Jadi menyesal menelponnya. Seandainya saja aku tau kalau dia cuma mau bertanya seperti itu. Kagak bakalan aku telepon. Aku tertipu dengan kata penting.
Tapi sebenarnya inti dari pertanyaannya adalah “kapan” yang terakhir. “Kapan Menikah?”. Karena mungkin menurutnya, kalau pertanyaan “kapan” yang terakhir terjawab, maka pertanyaan “kapan” sebelumnya sudah terjawab dengan sendirinya. Karena “kapan” sebelumnya, harus terjadi sebelum “kapan” terakhir.
Tapi kalau aku mah, gak perduli “kapan” yang mana yang harus di dahulukan. Kalau bisa, “kapan” yang terakhir, dikasih maju lagi ke depan. Minimal sebelum “kapan pulang ke kampung?”. Mupeng diriku......Hehehe....!!! (Mupeng, minjam istilah yang kudapat dari seorang teman)
“Hehehe....” itu jawaban yang bisa kuberikan
“kenapa sih nt bertanya itu-itu terus ? Gak ada obrolan yang lebih menarik kah?” Protesku
“Kan adek sudah terlanjur bilang dan ceritakan sama semua teman-teman adek, kalau adek mau ke Makassar bulan .............. Eh, malah diundur lagi ke bulan .......” jawabnya
(Setelah bulan itu sengaja di kasih titik-titik. Rahasia perusahaan)
Bah ! Mati aku. Rencana wisudaku sudah tersebar di teman-teman adikku. Yang ternyata tidak jadi. Untung saja aku tidak dekat dan tidak bertemu dengan mereka. Kalau itu terjadi, mau aku sembunyikan dimana mukaku ? Dibalik diputar saja kali ya ? Tapi kalau disembunyikan di kantong, boleh juga tuh. Kan kantong kosong gak ada isinya. Maklum, bukan Boss yang penuh dengan lembaran-lembaran cokelat, hijau, merah, kuning. (emang pelangi ?)
“Salah sendiri. Kenapa terlalu cepat nyebarin hal yang belum pasti ?” dalihku membela diri
“Tapi kan kakak sendiri yang bilang kalau mau wisuda bulan........ Kakak juga bilangnya dulu dengan suara yang meyakinkan dan tegas”
“Ya udah, bilang saja sama teman-temanmu. Kalau wisudanya ditunda karena kesalahan teknis. Lagian kalau ke Makassar bulan itu, sedang musim badai laut dan udara” aku berkelit lagi
“Weeek..... dasar ! :-P” tanggap adikku
“Ngemeng-ngemeng, sampai di mana nih pembicaraan dengan inaq dan amaq ?” dia berpindah ke pembicaraan yang lain
“Pembicaraan apa”
“Pembicaraan yang itu tuh....”
“Yang mana ?”
“Yeeeee.... pura-pura tidak tau lagi. Bilang saja ! jangan malu-malu. Moso sama saya malu-malu?” selidiknya
Wah, kalau sudah begini aku tau pembicaraan apa yang dia maksud. Pasti tentang itu. Dasar anak kecil. Mau tau saja urusan orang dewasa. Coba waktu itu dia di dekatku. Pasti kujitak kepalanya sampai benjol-benjol seperti yang di film Sinchan.....
“Tanya aja sendiri sama inaq dan amaq !” ketusku sinis
“Oke !”
“Kak, tolong sambungin ke rumah dong ! Conference ! Adek mau bicara sama inaq dan amaq. Rindu banget nih” Mintanya
“Enak aja ! Pulsaku Cuma tersisa berapa nih” Alasanku supaya tidak Conference.
Karena aku tau kalau itu aku lakukan, pasti dia akan melakukan apa yang aku khawatirkan. Bicara ceplas-ceplos. Memaksa. Membujuk. Merayu. Yang akhirnya akan membuat rahasiaku terbongkar.
“Ayolah kak. Sekali ini saja. Please ! Kan gratis kalau pakai GSM ini.” Dia memaksa
“Pokoknya tidak mau. Isi pulsa sendiri !”
“Mohon sekali kak. Please. Rindu sekali sama inaq dan amaq”
Tidak berdaya aku mendengar bujukannya. Akhirnya ku ikuti lagi apa yang dia minta. Dan benar saja. Aku tertipu lagi. Kali ini dengan kata rindu.
Kini aku tidak bicara berdua dengan adikku, tapi bicara bertiga dengan amaq bersama inaq di sampingnya. Conference.
“Amaq, bagaimana tuh kak Dede ? Kok tidak jadi-jadi sarjana ? Bagaimana mau nikahnya kalau begini ?” adunya.
Wah, langsung to the point nih. Langsung menyerang tanpa aba-aba. Tadi katanya rindu, sekarang ??? Bener-bener ini bocah satu. Tambah gereget mau jitak kepalanya.
“Ya nak. Amaq juga tidak tau apa masalahnya. Kayaknya memang dia bakalan Mosot (jadi bujang tua) tuh. Kalau begini terus” bapak membenarkan
Tidaaaaaaakkkkkkkkkkk...................!!! Kata-kata bapakku ??? Mudah-mudahan tidak terjadi Ya Robb
Wah gak adil nih, masa aku di serang sama semuanya ? Tidak ada yang berpihak padaku. Tidak ada yang membelaku. Tapi kudengar sayup-sayup suara inaq yang saat itu duduk di samping bapakku dan menyimak.
“Sabar saja nak. InsyaAllah akan tiba masanya. Dan inaq yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik” ibuku membela
Terima kasih Inaq. Sedikit lega. Ibu selalu menjadi malaikat penolongku. Tidak pernah menyalahkanku. Selalu memberikan motivasi yang membengkitkan. Ada damai dan tenteram saat mendengar nasihatnya. Ada Syurga saat mendengar Doa-Doanya. I Love You inaq.
Aku hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka di balik telepon. Menunggu moment untuk angkat bicara
“Amaq, kalau belum ada yang cocok buat kakak, biar aku saja yang mencarikannya ?? InsyaAllah dijamin !” tawar adik ke bapakku
“Boleh lah. Tidak apa-apa. Tapi tetap penentu adalah amaq. Baik menurutmu, belum tentu baik menurutku. Dan buruk menurutmu, belum tentu buruk menurutku. Jadi, juri penentu ada sama amaq. Oke ?”
“Sissspppplah.... Tapi aku jamin, pilihanku tidak jauh beda dengan apa yang amaq inginkan sebagai menantu” ucap adikku kegirangan
Tidah tahan mendengar mereka, aku mulai angkat bicara
“Wah, enak aje. Emang yang mau menikah siapa ? Saya yang mau menikah kok kalian yang pusing denan kriteria ? Suka-suka saya dong. Kan aku yang akan menjalankan”
“Tidak bisa begitu bro ! Amaq yang menentukan. Kalau ibaratnya KDI, amaq itu komentator yang paling berpengaruh. Terserah gua dong. Anak, anak gua.” suara amaq bersikeras dengan nada bicara pelawaknya yang khas (gua itu sebenarnya gue maksudnya. Tapi bahasanya orang yang sudah tua, ya begitulah)
Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata amaq. Karena aku tau dia tidak serius. Dalam hal ini, bapakku sangat demokratis. Walaupun memang semuanya tentang itu aku serahkan sepenuhnya kepada orang tuaku.
“Wah, bahaya ini cess kalau begini. Kembali ke zaman Siti Nurbaya dong?” kataku membela diri
“Bukan begitu Choy ! Amaq Cuma mau memilihkan yang terbaik. Supaya nanti kalau ada orang yang melihat dan bertanya : Wah mantu siapa tuh ? Kemudian ditau amaq yang punya mantu, kan amaq menjadi lega dan bangga. Ya kan Boss?
“Emang Isteriku untuk ditonton sama orang-orang kampung ? Enak aja !
Mendengar obrolan dodol itu, ibuku ikut ambil bagian. Ibu angkat bicara
“Kenap sih kalian ini ? Githu aja kok repot. Nak, ikuti kata-kata ibu. Nanti kalau kamu menikah, cari isteri yang ...............&..................&.....................&....................bla...bla...bla...”
Wah, aku kira ibu mau memberikan solusi. Malah menambah banyak perdebatan dengan kriteria masing-masing.
Lucu, seru, kocak, pokoknya membuatku tertawa tiada henti malam itu.
Semakin “sengit” perdebatan. Semakin “keras” dengan pendapat masing-masing dengan tetap dibingkai lelucon dan tertawa-tawa. Semua mau jadi juri penentu. Tidak ada yang mau mengalah. Setelah berdebat dan saling “menjatuhkan” satu sama lain, akhirnya satu persatu melemah.
an pada akhirnya, bapak mengeluarkan kata-kata bijaknya. Yang merangkul semua pendapat. Bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika. Merapatkan barisan. Satukan tekad dan semangat untuk Indonesia jaya. Menjadi satu kesatuan yang utuh. Tanpa ada perbedaan dan sekat-sekat yang menhalangi. Merdeka !!! (Kok jadi semangat para pahlawan ya ??)
“Begini saja Nak, dan semuanya. Semua kita menjadi juri. Tapi menjadi juri untuk pilihan kita masing-masing. pilihan yang akan menjadi keluarga baru di rumah ini. Yang akan menjadi pendamping hidup si kakak. Semua berhak menilai”
“Maksudnya apa amaq ?” tanyaku bingung
“Maksudnya begini : Kalau nanti ada pilihan yang dipilih oleh kamu nak, ambil ! Tapi kalau ada pilihan yang dipilih oleh amaq, ambil ! Begitu juga kalau ada pilihan dari inaq, ambil ! Kalau juga ada pilihan dari adikmu, kita ambil juga ! Cukup Empat kan nak ?? Kalau belum Cukup, nanti kita minta pilihan lagi dari adik-adikmu yang lain. Dan kalau ada yang mereka pilih, ambil !”
“supaya nanti pesta kita tidak sampai 5 kali berulang-ulang. Langsung jadi kelima-limanya pada waktu yang sama. Juga tidak merepotkan dalam mengurus semuanya.”
“WHahahahahaha....................”
Semua terbahak mendengar kata-kata bijak amaq di akhir pembicaraan.

LaNjUT......