Ke Makam Bunda

Nasyid by : UNIC

Kami mengunjungi pusara bunda
Sunyi pagi disinari surya
Wangi berseri puspa kamboja
Menyambut kami mewakili bunda

Tegak kami di makam sepi
Lalang-lalang tinggi berdiri
Dua nisan terkapar mati
Hanya papan dimakan bumi

Dalam kenangan kami melihat
Mesra kasih bunda menatap
Sedang lena di dalam rahap
Dua tangan kaku berdekap


Bibir bunda bersih lesu
Pernah dulu mengecupi dahiku
Kini ku rasakan kasihnya lagi
Meski jauh dibatasi bumi

Nisan batu kami tegakkan
Tiada lagi lalang memanjang
Ada doa kami pohonkan
Air mawar kami siramkan

Senyum kemboja menghantar kami
Meninggalkan makam sepi sendiri
Damailah bunda dalam pengabdian
Insan kerdil menghadap Tuhan

Begitu bakti kami berikan
Tiada sama bunda melahirkan
Kasih bunda tiada sempadan
Kemuncak murni kemuliaan insan

LaNjUT......

10 Jam Bersamanya

Lion Air itu berhenti sempurna. Bergegas aku berdiri brsiap untuk turun. Terasa waktu berjalan begitu lamban. Karena detik-detik saat itu adalah detik yang sangat berharga dalam hidupku. Semakin tidak sabar dan tidak tenang diri ini.
Sedikit lega setelah Pramugari memprsilahkan para penumpang turun. Pintu pesawat terbuka. Satu persatu anak tangga itu aku turuni dengan langkah yang sedikit tergesa. Jalan aku percepat. Melampaui para penumpang yang lainnya. Masuk ke ruang pengambilan barang bagasi. Lama. Tas para penumpang belum terlihat. Semakin cemas kurasakan.
Handphonku berdering dibalik saku celanaku.” Amaq memanggil”. Segera kujawab.
“Dimana nak ? Sudah Sampai bandara ?” suara bapakku menyapa dengan nada panik
“Alhamdulillah baru turun pesawat. Tinggal mengambil barang bagasi”
“Tidak bisa dipercepat ? Barang apakah yang di bagasi ?”
“Cuma tas yang berisi pakaian beberapa lembar”
“Sudah ! Tinggalkan saja. Nanti diganti”
“Aduh, tanggung amaq. Sebentar lagi”
“Ya sudah kalau begitu. Cepat dan segera !”
Semakin resah bercapur panik hatiku. Tanganku yang memgang Handphon, tanpa sadar mulai bergetar. Butiran-butiran keringatku mulai keluar melalui pori-pori kulitku. Membasahi kemeja putih lengan panjang yang aku kenakan saat itu.
Carousels mulai berjalan. Berdatangan satu persatu tas para penupang. Tapi belum juga nampak tasku. Kulirik jam tangan. Waktu menunjukkan Pukul 15.30. Taskupun datang . Segera kuambil dan keluar setelah memperlihatkan kartu bagasi kepada petugas. Tidak ku perhatikan lagi orang banyak disekitarku. Aku sibuk mencari jemputanku. Akupun bertemu dengannya dan segera naik ke atas mobil.
Kijang merah yang aku tumpangi berlahan keluar meninggalkan area bandara menuju RSUD Mataram. Jaraknya tidak begitu jauh dari Bandara. Dengan kecepatan penuh Kijang itu membawaku. Handphoneku berdering kembali.
“Dimana ?” kali ini bibi yang menelponku
“Sedang diperjalanan menuju RS”
“Cepat ! Jangan sampai kau terlambat !”
Semakin kencang degup jantungku. Aku hanya berdoa dan pasrah saat itu.
Kijang Merah itu masuk ke area parkir Rumah Sakit. Setelah berhenti sempurna, aku bergegas keluar berjalan ke dalam rumah sakit. Semua barang bawaanku aku tinggalkan di dalam mobil. Aku berlari-lari kecil mencari kamar 212.
Kesasar ! Lorong rumah sakit yang aku lewati, buntu. Pasalnya, baru pertama kali aku masuk ke dalam rumah sakit itu. Aku menelpon bapak. Katanya, menaiki tangga ke lantai 2 kemudian belok kanan. Aku ikuti petunjuk itu. Kunaiki tangga menuju lantai 2. Sama. Di lantai 2 semuanya sepi. Gelap. Tapi aku ikuti saja petunjuk bapak belok kanan. Kulihat hanya beberapa kamar yang menyala lampunya. Selainnya gelap. Tidak ada satu orangpun yang aku jumpai.
Aku turun kembali dan menelpon bapakku lalu mengatakan kalau petunjuk yang beliau kasih salah. Aku masuk melalui pintu yang lain. Yang akau dapati adalah ruang UGD. Aku bertanya pada suster yang aku temui. Tapi dia hanya menunjukkan sekenanya saja.
Aku keluar dari UGD, dan masuk lagi melalui pintu yang lain. Kembali aku menelpon bapak. Menanyakan jalan menuju kamar 212 Bangsal Mawar. Tanpa tanya lagi, aku suruh saja bapakku keluar. Tapi sebelum melanjutkan kata-kata, aku telah bertemu dengannya.
Segera bapak menuntunku berjalan menuju kamar 212 Berlari-lari kecil. Satu persatu kamar aku lewati sambil memperhatikan nomor yang ada di atas pintunya. 220, 219, 218, 217, 216, 215, 214, 213, Dan akhirnya aku menemukan nomor itu. Nomor kamar yang berada di ujung lorong RS itu.
Aku menarik napas panjang bersiap memasuki kamar itu. Ku Ucap salam. Seketika semua mata yang berada di kamar itu tertuju padaku. Mataku tertuju pada sosok kurus, lemah tak berdaya di atas ranjang di papah oleh 2 perempuan tua.
Pukul 16.00. Ya Allah, ternyata Ibuku. Hampir aku tidak mengenalinya. Tidak ada yang tersisa dari tubuhnya selain tulang yang dilapisi kulit. Mataku dan matanya beradu. Kulihat mata yang berkaca-kaca. Tatapan rindu yang meluap. Tatapan cinta yang menyimpan berjuta makna dan rahasia.
Aku memeluknya erat. Mencium keningnya dengan sepenuh cinta. Tidak bisa lagi aku menahan air mata yang menerobos keluar. Tapi segera ku hapus. Mencoba bersikap tenang.
Ibuku hanya bisa meringkih. Ringkihannya mengisyaratkan kalau dia juga menangis. Tapi sudah tidak sanggup lagi untuk bersuara. Yang terdengar hanya ringkihan. Matanyapun sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan airnya dalam jumlah yang banyak. Kecuali hanya beberapa tetes saja. Semua mata dalam ruangan itupun ikut meneteskan air mata. Sementara bapak dan bibiku keluar tidak bisa menyaksikan peristiwa saat itu.
Suasana sudah sedikit santai. Aku sibuk bertanya pada kedua perempuan tua itu tantang semuanya. Tentang ibuku. Mereka adalah nenek-nenekku. Sampai akhirnya bapak datang menemuiku dan berbicara denganku.
“Beberapa waktu sebelum kamu tiba, aku mengira kalau kamu tidak akan bertemu dengan ibumu. Pasrah dan berdoa. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Ibumu tidak sadarkan diri. Napasnya sudah mulai tersedat. Kukira dia akan pergi untuk selamanya sebelum kamu tiba di Rumah Sakit ini”
“Setelah kamu datang, baru dia membuka matanya dan tersadar. Bapak juga kaget. Tapi mungkin kamulah yang ibumu harapkan. Kamulah yang ibumu tunggu. Sekarang, rawatlah ibumu ! Jaga dia dengan sepenuh hatimu. Waktunya kamu mrnunjukkan kebaktianmu padanya”
Pukul 18.15, Adzan Maghrib terdengar. Aku masih menggenggam tangan ibuku sambil mengelu-elus kepalanya. Seperti yang beliau lakukan padaku ketika sehat dulu. Ku kecup Keningnya dan aku bergegas mengambil air wudhu untuk shalat maghrib. Sekalian aku Jamak untuk Isyanya.
Doa aku panjatkan kepada Sang Penggenggam Jiwa. Memohon kesembuhan untuk ibu tercinta. Menabahkannya. Melindunginya dengan kasih sayangnya. Mencintainya dengan ketinggian RahmatNya. Mengasihi dan menjaga di setiap napasnya.
Pukul 18.30, Terdengar suara isak tangis dari arah kamar tempat ibu dirawat. Aku bergegas berlari menuju ke arah itu. Ya Allah, Ibu tidak sadarkan diri. Napasnya tersengal. Tidak ada gerakan. Lemas terkulai tak berdaya. Aku mencoba menenangkan mereka yang menangis. Dengan tangan bergetar kubuka lembaran Al-Quran yang aku genggam. Satu-persatu ayat Surat yaasin aku baca.
“Maka Maha Suci Allah yang ditanganNya kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepadaNya kami dikembalikan”
Pukul 19.45Perlahan Ibu membuka mata. Napasnya sudah mulai normal kembali. Aku menuangkan beberapa sendok air putih ke mulutnya. Ibu menggenggam erat tanganku. Menatapku lekat-lekat. Aku tidak bisa membaca isyarat yang tersimpan di pandangnya. Aku membalas dengan senyuman, setelah itu ku kecup lagi dahinya.
Terdengar suara lemahnya berbisik kepadaku untuk melakukan sesuatu “Nak, tolong mengaji untuk ibu. Aku senang mendengarmu membaca Al-Quran”
Kusandarkan kepalanya di dadaku. Ku usap keringat di wajahnya. Membelai rambutnya sambil membacakan ayat demi ayat firman Rabb Penguasa Alam.
“Dan setiap ummat, semuanya akan di hadapkan kepada kami”
Tanpa kusadari, ibu tertidur lelap. Tidak tahu kenapa aku sangat takut melihatnya memjamkan mata, walaupun untuk tertidur. Tapi ku serahkan semuanya kepada keputusan dan ketentuan Sang Khalik. Ku lanjutkan tilawahku dengan suaraku yang sedikit serak diikuti dengan aliran air mata di pipiku.
“dan telah kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua”
Malam semakin larut. Suasana semakin sunyi. Semuanya tertidur. Hanya aku yang ditemani Ayat-Ayat Suci yang kubaca. Ku melirik kembali jam tanganku, pukul 22.30.
Ibu masih tertidur pulas di dadaku. Sesekali kuraba dadanya, memastikan jantungnya masih berdetak. Masih normal. Menghilangkan rasa cemas dan gelisah di dadaku. Ayat-ayat itu terus ku baca tanpa henti sembari membelai lembut rambut ibu.
“Melainkan kami selamatkan mereka karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu”
Ibu terbatuk. Bersamaan dengan itu, kedua matanya terbuka dari tidur lelapnya. Berat dan susah. Begitu gambaran yang terlintas di kepalaku ketika mendengar suara batuknya. Kini, untuk bersuara dalam batuknyapun ibu sudah tidak sanggup. Tercekik. Tak kuasa aku mendengarnya.
Kuambilkan kain untuk membersihkan mulutnya. Memaksanya untuk mengeluarkan lendir dari tenggorokannya. Tercekik menyakitkan. Tertahan di tenggorokan, susah untuk dikelurkan. Butuh waktu untuk itu. Ya Allah, Lindungilah Hambamu yang lemah tak berdaya ini.
“Nak, pijit-pijitkan kaki dan belakang ibu”
Dengan segera aku memenuhi permintaannya. Kali ini matanya tidak terpejam. Lekat memandangku. Tapi lagi hanya senyuman yang aku berikan untuk mengungkapkan tapsiranku terhadap tatapnya. Walaupun aku tidak pernah tau rahasia yang tersimpan dibalik tatapannya itu.
Sambil memijitnya, aku mencoba berdialog bersama ibu. Menawarkannya untuk makan sesuatu. Karena Persis selama dua minggu terakhir, ibu tidak pernah makan kecuali sedikit saja. Itupun hanya makan bubur.
“Bu, makan ya. Saya suapi”
Ibu menjawab dengan isyarat menggelengkan kepala. Dan aku tau apa maksudnya.
“Sidikit saja Bu. Supaya Ibu ada tenaganya. Supaya cepat sembuh. Supaya kita cepat keluar dari rumah sakit ini”
Dengan berbagi bujukan, akhirnya ibu mengangguk. Segera kuambilkan bubur dan kusuapi beberapa sendok setelah itu kutuangkan air minum untuk membantu menelan.
Alhamdulillah. Hatiku sedikit lega setelah melihatnya makan. Rona wajahnya pun mulai berubah. Berbeda dengan ketika aku datang. Aku melihat semangat di mata Ibu. Melihat ketegaran di wajahnya. Ada harapan di kerutan dahinya. Aku menarik napas panjang. Terima Kasih ya Allah telah menjaga Ibu dalam penjagaanMu yang sempurna.
Pukul 00.00 Handphoneku berdering. Satu pesan masuk. Kubaca pesan itu.
“Sekarang kau sudah bersam ibumu. Kasihi dan sayangi dia. Rawat Ia dengan sepenuh cintamu. Perhatikan Ia dengan seluruh kemampuanmu”
Itulah pesan yang tertulis di HP ku dari seorang teman. Tidak sampai disitu. Dia bahkan mengajariku cara merawat orang sakit. Memberiku saran supaya proses penyembuhan ibu cepat. Menghibur yang sakit sehingga tidak bosan. Dan banyak lagi. Aku berterima kasih padanya. Terima kasih teman.
Aku masih memijit Ibu. Aku mencoba berbicara berbincang dengannya. Walaupun aku sudah tau tidak akan ada respon suara yang akan aku dapatkan. Bahkan aku tidak yakin ibu bisa mendengarkannya dengan sempurna.
“Bu, besok aku mau ke Toko membeli perlengkapan hias untuk ibu. Aku mau membersihkan badan Ibu. Memadikan Ibu, menjadikan ibu harum, memakaikan Ibu parfum, memberi bedak pada pipi ibu. Memberi warna merah pada bibir ibu dengan kincu, akan ku sisiri rambut ibu yang kusut, memberinya minyak supaya kelihatan rapi. Menggantikan pakaian ibu dengan yang baru. Pokoknya, besok ibu akan kembali muda. Akan kembali cantik seperti biasanya. Bahkan lebih cantik dari miss univers tercantik sekalipun”
Aku melihat anggukan dan senyuman di bibirnya. Walaupun hanya sedikit. Tapi aku tau itu adalah senyuman. Kembali diri mengucapkan syukur pada Sang Penggenggam Jiwa. Ada harapan. Terima kasih ya Rabb.
Malam semakin larut. Lebih sunyi. Lebih sepi. Dan kini hawa dinginnya mulai terasa menyapa kulit. Aku masih memijit kaki dan bagian belakang ibu.
Kulihat tangannya mencoba menggapai. Bergetar hebat. Tidak ada lagi tenaga untuk mengangkatnya. Kusambut tangan itu dan menuntunnya untuk menggapai yang ia mau. Ke Arah wajahku. Kulekatkan tangannya ke wajahku. Lekat sekali. Menggenggamnya supaya ia tidak menjauh dari wajahku. Aku ingin tangan itu terus diwajahku. Aku ingin tetap seperti itu. Mengusap dahiku. Membelai pipiku. Sesekali tangannya menyentuh jenggot tipisku. Aku teringat lebaran satu tahun yang lalu ketika aku berbincang dengan ibuku.
Waktu itu Ibu merangkulku. Dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya sekarang terhadapku. Mengusap dahi dan kepalaku. Mengelus pipiku. Ada benjolan disana.
“De, ini milik siapa nak ?” Pertanyaan yang membuatku kikuk
“Ya Milikku lah bu, kan adanya di pipiku. Masa miliknya orang ?” Sambil tersenyum sipu aku menjawab
“Ah yang benar ? Biasanya kalau ada yang seperti itu di wajah, pasti ada kaitannya dengan hati. Hayoooo...... Siapa ?” Ibu mencoba menyelidiki
Aku hanya nyengir mendengar pertanyaan itu tanpa memberikan jawaban.
Kini ibu mengalihkan perhatiannya ke jenggotku. Merenggut-renggutnya lembut.
“Nak, janganlah kau terlalu cepat pakai jenggot ! Itu jenggot dicukurlah. Nanti kamu cepat kelihatan tua”
“Wah, ini jenggot aku pelihara dan kurawat dari dulu supaya dia tumbuh dengan cepat, Sekarang disuruh cukur sama ibu” Pikirku
“Bu, Rasul saja dulu Jenggotan. Lebat malah. Rhoma Irama juga terkenal, salah satunya karena jenggotnya. Kalau orang-orang bilang, disetiap helai jenggot itu, ada malaikat bergelantungan lho bu !” Aku mencoba membela diri.
“Ya udah. Gak apa-apa. Yang penting tetap rapi. Tapi jangan sampai kepanjangan ya ! Kalau sudah kelihatan panjang, dicukur” Jawab ibu diplomatis.
Pukul 01.00. waktu yang menandakan hari kemarin telah berganti hari ini. Hari Jumat 26 Juli 2009. Aku masih memijit Ibu. Tiba-tiba aku lihat mulutnya bergerak. Ingin mengucapkan sesuatu. Aku dekatkan telingaku di depan mulut Ibu.
“Nak, kayaknya sudah waktunya ibu meninggalkanmu. Ibu harus pergi mendahuluimu. Dan sepertinya, adikmu tidak akan sempat menjumpaiku lagi. Adikmu tidak akan mendapatkan napasku. Adikmu tidak akan bertemu denganku” suranya lemah berbisik
Serasa syaraf ini mau terputus. Desiran darahku seperti aliran seterum yang merambat dengan sangat cepat. Jantungku memompa dengan kecepatan tinggi. Kembali tubuh ini bergetar panik mendengar kata-kata itu
“Bu. Ibu tidak boleh berkata seperti itu. Ibu akan sehat. Ibu akan kembali kerumah bersama-sama lagi dengan keluarga. Bercanda dan tersenyum bersama. Harus yakin dan optimis Bu ! Allah itu Maha Pemurah dan Maha Perkasa” Aku mencoba menepis kata-kata itu dari pikirannya. Menyemangatinya dan memotivasinya untuk sembuh. Bahkan aku sampai menceritakan tentang mukjizat-mukjizat yang di dapatkan seorang yang telah divonis akan meninggal karena penyakitnya.
“Ibu akan datang ke acara wisudaku nanti. Ibu akan tersenyum dan bangga melihatku memakai toga. Ibu akan mendampingiku ketika aku di pelaminan bersama menantu ibu. Ibu akan menggendong cucu-cucu ibu. Bermain dengan mereka. Dan bercerita untuk mereka ketika mereka ingin tidur. Ibu juga nanti tempat mereka mengadu ketika mereka diganggu temannya. Ibu juga akan menyaksikan mereka menjadi sarjana bahkan mendampingi mereka saat pesta pernikahannya. Dan Ibu juga yang akan menggendong cucu-cucuku kelak”
Hanya anggukan dari ibu sebagai balasan atas kata-kataku.
Pukul 01.30 Ibu meminta untuk dipanggilkan nenek. Aku bangunkan nenekku dan semua yang tertidur. Ada perasaan lain dikepalaku. Ya Allah, aku mengharap kepadaMu semoga tidak akan terjadi apa-apa.
“Aslm.. Smga Allah mberi pelangi dlm stiap Bdai, sbuah senyum dlm stiap cobaan N sbuah jwban utk stiap dO’a.. Amiin..Slmt Qiyaumullail kk’ shaleh. Smga sgla hajat qt dikbulkn Allah, amiiin,. Doa’ bt bunda trsyg smga cpt smbuh,amiiin,.” Sms dari adikku

Semakin panik dan gusar. Ditambah dengan isakan tangis semua orang yang berada dalam ruangan malam itu. Aku kembali mengangkat kepala ibu dan menyandarkannya di dadaku. Ku buka kembali lembaran surah Yasiin yang telah aku baca beberapa kali.
“Istighfar Bu ! Asyhaduallailahaillallah wa Asyhaduannamuhammadurrasulullah” Aku membisikkan diteling ibu.
Semakin kritis keadaan ibu. Hanya mata putihnya yang terlihat. Napasnya sudah mulai tak beraturan. Denyut nadinya kadang berdetak kadang berhenti. Aku masih melanjutkan bacaanku. Meletakkan tanganku di dada ibu memastikan denyut jantungnya.
Kulihat ibu seperti berdialog. Tapi aku tidak tau dengan siapa. Hanya mulutnya yang bergerak dan matanya seperti memberikan isyarat.
Asyhaduallailahaillallah wa Asyhaduannamuhammadurrasulullah” Ibu mengucap kalimat itu.
Pukul 02.00. Dan matanya terpejam. Tidak terbuka lagi. Dan itu untuk selamanya. Jantungnya berdetak semakin lemah. Semakin lemah. Semakin lemah. Dan kemudian berhenti berdetak. Mulutnya dingin membeku. Tangannya terkaku bersedekap. Ruhnya terbang bersama Ayat-ayatNya mengantarkan ibu menghadap Rabbnya. Melintasi bintang dan angkasa. Menuju pertemuan yang indah yang menjadi tujuan.
“sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka”
“mereka dan pasang-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan”
“Di Surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan”
“kepada mereka dikatakan ‘salam’ sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang”

LaNjUT......

Tulisan di Balik Foto Ibu

Tulisannya Indah, Cantik. Secantik wajahnya. Hanya sedikit goresan. Hanya beberapa kata yang tertulis dibalik fotonya yang sudah usang. Bahkan wajahnya sudah tidak jelas terlihat. Beberapa bagian warna dari foto itu juga sudah luntur karena lembab. Fotonya yang memakai pakaian adat pesta pernikahan berwarna putih sambil memegang nampan di atas bahunya. Ada sedikit hiasan bunga yang sengaja diselipkan di rambutnya. Bahasanya tidak seindah bahasa seorang penyair atau sastrawan. Karena Ibuku hanya lulusan Sekolah Dasar.
Aku tidak pernah melihat tulisannya sebelumnya. Aku pikir Dia tidak bisa menulis. Karena dia hanyalah lulusan SD. Tamat Tsanwiyahpun tidak. Aku hanya duduk terdiam membacanya. Buliran-buliran bening jatuh membaca tulisan itu. Terharuku membuncah. Tidak ada kata yang bisa aku ucapkan. Dibalik fotonya tulisan itu terukir indah. Tulisan terakhir untuk anaknya. Untukku dan adik-adikku. Tulisan dan pesan terakhir yang ditinggalkannnya.
Di akhir kalimat-kalimat itu, tertera nama-nama anaknya. Aku dan adik-adikku. Aku tersenyum ketika aku melihat namaku. Dede Lestari. Nama yang tidak aku tau dari mana datangnya. Ah, mungkin ibuku sendiri tidak tau nama panjangku. Makanya diganti saja seperti itu.
Yang aku bingungkan adalah tanggal yang tertera didalamnya. 1996. Apakah mungkin tulisan itu ditulis pada tahun itu ? Aku tidak tau.

TH : 1996
Juniati
Lekor, Jeneper Loteng
Jaman jeleng, Tahun 1996 M
Oh, anak-anakku, simpanlah !
Gambarku ini jangan kau
Sia-siakan. Lemaq mate,
Ndeq’ arak taoq gitaq.
Ingat-ingatlah anak-anakku. Okay.....
1. Dede Lestari
2. Aktris Monica
3. Pakrur Rozy
4. Aulia
Juniati
Lekor /13/2/1996


Note : jeleng = miskin
Lemaq = Besok
Mate = Mati
Ndek’ = Tidak
Araq = Ada
Taoq = Tempat
Gitaq = Lihat

LaNjUT......

Insan Teristimewa

Parasnya cantik. Secantik Ainul Mardiyah Bidadari di syurga. Senyumnya manis. Bagiku tidak ada tandingannya. Walaupun aku tidak pernah melihat mudanya. Tapi aku tau, dari parasnya yang mulai menua, ibuku memang manis dan cantik. Dari dulu sampai sekarang. Sampai Ia bertemu dengan Rabbnya. Sampai ia menutup matanya. Sampai selembar kain putih menutup wajahnya untuk selamanya. Wajahnya masih cantik, putih bersih bercahaya.
“Ibumu dulu adalah orang yang sangat cantik. Cantik sekali. Dulu dia adalah bunga di desa ini. Makanya tidak heran kalau banyak lelaki yang mendatanginya setiap malam dengan beraneka bawaan di tangannya” Kata bibiku menceritakan.
“Pakaian yang Ibumu pakai, selalu rapi dan anggun. Tidak pernah berpakaian sembarangan, memakai pakaian yang lusuh. Dia selalu menjaga penampilannya. Apalagi kalau mau pergi ke suatu tempat atau acara-acara tertentu”
“Rambut ibumu Hitam Lurus. Berkilalu lebat dan panjang. Panjang sampai ke betisnya. Selalu ia rawat. Tidak pernah membiarkannya kusut, kering dan kusam. Walaupun perawatannya menggunakan minyak Orang-Aring saja. Makanya, banyak yang menyatakan cintanya pada ibumu hanya karena alasan rambutnya”
“Wajahnya putih bersih. Padahal, perawatan yang dia pakai, tidak selengkap pemutih atau perawatan masa kini. Bagian yang paling dia sukai adalah bagian mulut dan matanya. Selalu pakai celak hitamnya. Menambah memesona wajahnya. Giginya selalu dirawat. Sehingga terlihat putih berjejer beraturan”
“Sikapnya santun dan ramah kepada semua orang. Makanya sampai saat ini, belum pernah Bibi dengar dia punya musuh atau masalah dengan masyarakat yang lain. Selalu menyapa duluan ketika bertemu orang yang dikenalinya”
“Senyumnya selalu terbuka lebar. Senyuman tulus dan ikhlas. Memberi kehangatan bagi yang melihatnya. Mendatangkan kedamaian pada orang yang dituju. Selalu cerah dan berseri. Walaupun mungkin dia sedang menghadapi masalah. Tapi tidak dia tunjukkan kepada orang lain. Sikap dan sifatnya selalu sama dalam keadaan suka maupun duka”
“Dibalik kecantikannya, ibumu adalah seorang pekerja keras. Walaupun tidak lulus tsanawiyah, kinerjanya tidak kalah dengan orang-orang yang lebih tinngi pendidikannya. Selalu bersemangat dalam kerja. Selalu berjuang untuk sebuah tujuan. Baginya, bekerja adalah syarat untuk mencapai tujuan keberhasilan. Bahkan beberapa hari terakhir menjelang kepergiannya, ia masih menanyakan kondisi tanaman yang ia tanami di sawahnya. Bahkan, ia pernah mau keluar dari rumah sakit hanya untuk melihat perkembangan hasil kerjanya itu”
“Hingga akhirnya, ibumu menikah dengan bapakmu. Entah bagaimana ceritanya mereka berdua bisa menikah. Padahal pertemuannya tidak terlalu lama. Dibandingkan dengan orang lain yang sudah lama mau sama ibumu”
“Setelah menikahpun, ibumu tidak meninggalkan kebiasaan mudanya. Selalu dirawat dirinya. Hingga tidak menghilangkan pesona mudanya. Kerja kerasnyapun tidak pudar. Terlebih setelah kamu dan saudara-saudaramu lahir. Tujuannya hanya kalian. Alasannya hanya kalian. Keinginannya hanya kalian. Kerjanya hanya untuk kalian. Hanya untuk kalian. Aku pernah tinggal bersama ibu dan bapakmu sampai beberapa waktu sapai kamu terlahir”
Hanya butiran-butiran bening yang keluar dari mataku mendengar cerita tentang sosok Ibu.Dan sekarang, Ibu telah pergi bersma kecantikannya. Membawa segenggam cita-cita yang belum terlaksana. Meninggalkan kenangan yang tiada kan terulang.
Aku hanya bisa berdoa dan berharap, semoga kecantikannya akan ia bawa sampai ke syurga karena amalan-amalannya. Hingga mengalahkan kecantikan para bidadari-bidadari penghuninya.

LaNjUT......