Kita dan Anak Palestina


Pernahkah kita merenungi, ketika kita mempunyai harapan. Memiliki cita-cita yang tinggi. Atau memiliki impian yang indah. Tiba-tiba semuanya buyar dan sirna. Harapan pupus, Cita-cita hanya anganan hampa, dan impian menjadi mimpi yang tidak terealisasi.Beginilah Sekarang Pemuda Palestina. Ada apa dengan mereka ? Bukankah mereka sama seperti kita ? Sama-sama memiliki naluri keunggulan, kemerdekaan, dan kebahagiaan.
Orang tua mereka yang seharusnya menghibur, menjadi pelindung dan penyemangat, tak mampu membuka mata lagi untuk anaknya. Mereka dibantai Sang negara Tiran. Sekolah-sekolah dan rumah-rumah mereka hancur berkeping rata dengan tanah. Tiada yang tersisa.
Mereka harus rela kehilangan semua itu. Kehilangan mimpi-mimpi tentang masa depan yang sudah lama dirajut lenyap bersama dentuman peluru dan hantaman Rudal Israel bangsa Penjajah. Dalam hitungan detik, ribuan harapan itu hilang. Sirna. Tiada berbekas.
Namun taukah kita, dibalik hilangnya mimpi-mimpi tentang masa depan itu, tumbuh semangat yang tinggi. Yang lebih tinggi dari sekedar peredaran awan di angkasa. Yang lebih terang dari sekedar cahaya matahari. Yang lebih luas dari sekedar luasnya sahara. Yang lebih dalam dari sekedar lautan atlantik. Yang lebih indah dari sekedar hayalan musim semi para pecinta.
Ya. Semangat itu tumbuh terpatri di dada pemuda Palestina bak Cawan di musim hujan. Tiba-tiba mimpi untuk bahagia, harus rela mereka gadaikan demi sejengkal tanah yang dirampas. Kehidupan damai yang diharapkan, harus mereka tukar dengan kematian. Kematian untuk menuju kehidupan yang lebih indah dan di sisi Rabbnya.
Kini mereka telah menjadi sosok-sosok dewasa yang tangguh. Tangan mungil mereka telah menjadi kekar dengan melempar batu ke tentara dan tank-tank baja Israel. Langkah-langkah kecil mereka menerjang melaju, menghentak-hentak menggetarkan bumi. Pekikan-pekikan lantang bergemuruh, hingga seluruh penghuni langit dan syurga mendengarnya.
Begitulah seterusnya. Dan akan terus begitu. Sampai Yahudi berlari ketakutan, dan angkat kaki dari bumi para nabi ini. Sampai hak-hak tanah mereka dikembalikan kepemilikannya kepada Palestina. Bahkan sampai syahid menjemput Ruh dari raganya.
Lalu, bagaimana dengan kita yang masih hidup ditengah kedamaian dan ketenangan ? Sampai saat ini, wajah kita masih ceria dihiasi senyuman bersama keluarga dan saudara. Kita juga sampai saat ini masih bisa merasakan lezatnya makanan, walaupun hanya sekedar Indomie dan Telur. Sampai saat ini kita juga masih bisa merasakan keceriaan dunia pendidikan, untuk menggapai cita-cita menjadi orang besar. Menjadi Dokter, Pengusaha, sampai menjadi pejabat.
Adakah dalam hati dan pikiran kita tempat untuk orang-orang Palestina ? Apakah disetiap shalat kita ada terselip doa untuk mereka ? Apakah disetiap makan kita ada wajah bocah-bocah Palestina yang bergelut dengan kelaparan dan haus ? Adakah terbayang Palestina yang dirampas cita-citanya di bangku kelas kita ?
Tanyakan pada diri. Kalau mereka tidak ada di sana, ada yang salah dalam keberimanan kita. Bukankah rasulullah telah mengatakan :
“Tidaklah sempurna keberimanan seorang, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
Mereka tidak akan pernah tau, sampai kapan mimpi mereka akan direnggut. Mereka tidak akan pernah tau, sampai kapan harapan-harapan mereka dirampas. Mereka tidak akan pernah tau sampai kapan cita-cita mereka dihancurkan.
Kehidupan mereka tidak sama seperti kita. Hari-hari mereka tidak seindah hari-hari kita. Yang pada pagi hari kita bangun dengan tenang dari tidur nyenyak. Mendengarkan kicauan burung dibalik pohon yang indah. Malam-malam kita yang masih dihiasi putihnya cahaya rembulan, dengan kelap-kelip cahaya gemintang.
Tidak ada yang tersisa dari mereka. Yang ada, hanyalah bongkahan batu digenggaman. Yang ada hanyalah teriakan-teriakan gemuruh. Dengannya, mereka akan mencoba mengambil kembali mimpi-mimpi itu. Merebut kembali harapan dan cita-cita mereka.
Bersyukurlah akan semua itu. Dan ingatkanlah kenikmatan yang kita miliki, dengan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina. Jangan sampai kita terjebak dalam jeratan kenikmatan yang menipu. Karena saat-saat indah yang kita rasakan hari ini, bisa jadi hilang di esok harinya. Atau hilang dalam menit-menit berikutnya. Bahkan detik-detik berikutnya.
Adakah kita untuk mereka ?

0 komentar: