Cerita di Atas PeTe-PeTe

Rabu malam selepas maghrib ketika aku berada di atas angkot menuju pengajian. Aku duduk di kursi paling belakang. Sibuk memencet tombol HP, membalas sms. Penumpang yang lain juga sibuk dengan urusannya masing-masing. Penumpang di depanku, seoarang wanita setengah baya berpangku tangan dengan pandangan kebelakang, melihat kendaraan yang sesak berkejaran. Disebelah kanannya, seorang gadis yang sedang asyik berbicara melalui telepon. Entah dengan siapa ia bicara. Yang jelas dari mulut dengan bibir merahnya terdengar tawa yang membuatku sedikit tidak nyaman.Disebelahnya lagi, seorang laki-laki yang umurnya tidak jauh dari gadis tadi. Dan sepertinya, mereka berdua saling kenal. Karena gadis itu tidak pernah melepaskan genggamannya dari lengan lelaki itu sejak aku naik. Dan disebelahku, seorang pemuda yang ku prediksi masih SMA. Dan persis di dekat pintu mobil, lelaki gondrong kriting rapi dengan celana jeans dan kemejanya. Yang selalu menggoyang-goyangkan kakinya mengikuti irama lagu ST12. PUSPA judulnya. Dan seorang lelaki tua duduk persis di dekat Sopir, dengan rokok dan sembulan asapnya.
“Kiri pak !”
Suara itu tiba-tiba membuat Mobil yang aku tumpangi berlahan melaju pelan, dan akhirnya berhenti. Ternyata Bapak tua yang duduk di depan samping sopir itu yang hendak turun. Persis di depan M-Tos (Makassar Town Square). Setelah memberikan ongkosnya, Bapak tua itupun berlalu menuju M-Tos tanpa peduli semua yang ada di belakangnya. Mobil kemudia melanjutkan perjalannan. Kini Lelaki Gondrong menggantikan posisi duduknya Bapak Tua.
Suasana kali ini berbeda karena dua penumpang baru mengisi bagian kursi yang masih kosong. Dan Si Gondrong dengan sopir juga terlihat akrab. Samar-samar aku mendengar mereka berbincang-bincang masalah kota Makassar dan beberapa aktivitas mereka.
“Apaji PKS, Gayana ji berselogan Bersih. Tapi kenyataannya, gak pernah mau mendukung calon yang bersih-bersih. Pemilihan Gubernur kemarin, ada calon seorang ustadz, eh malah mereka dukung yang bukan ustads. Padahal sudah jelas-jelas keshalihannya. Pemilu presiden sekarang, mereka dukung calon yang tidak ada nuansa-nuansa agamanya. Isteri yang mereka dukung saja tidak ada yang pakai jilbab” kata sopir tiba-tiba.
Aku tidak tau pasti alur pembicaraan mereka sehingga keluar pernyataan seperti itu dari sopir. Yang jelas aku menjadi tertarik mengikuti perbincangan mereka. Aktifitas sms aku hentikan dan mendengarkan perbincangan sopir dan si Gondrong Kriting lebih seksama. Sementara penumpang yang lain, masih sibuk dengan urusan masing-masing tanpa memperdulikan siapapun.
“Saya sebenarnya mendukung sekali PKS dari dulu. Tapi karena kelakuan mereka seperti itulah, makanya sekarang saya menjadi jengkel” sahut Gondrong Kriting
“Dan puncak kejengkelanku itu hingga pemilu kemarin saya tidak memilihnya adalah ketika mereka melakukan MUKERNAS di Bali, yang jelas-jelas disana tempatnya orang bermaksiat” Gondrong keriting menyambung perkataannya.
“Kalau begini caranya, bagaimana bisa menjadi bersih ? Jangan sampai Cuma selogannya ji bersih. Tapi kenyataannya ? Ya, seperti inilah jadinya. Katanya partai Islam” Sambung Sopir
Sopir melanjutkan “Saya pernah tanya ustadsnya PKS tentang keputusan-keputusan PKS yang demikian itu. Tapi mereka Cuma bilang, Mugkin ada pertimbangan lain. Cuma itu jawaban yang kudaptkan. Pertimbangan apalagi yang mesti dipertimbangkan. Gak jelas alasannya”
“Kalau begini terus, apaq gunanya pengajian yang mereka lakukan setiap hari jumat ?” Ujar Gondrong menimpali”
Aku hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka. Sampai akhirnya aku turun di tempat tujuan. Karena kebetulan saat itu aku pakai jaket PKS, ketika aku membayar ongkos mobil, si Gondrong Kriting dan Sopir menjadi salah tingkah. Suara mereka menjadi terbata-bata tak beraturan. Tapi aku hanya menganggukkan kepala kepada mereka berdua, sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih, dan berlalu tanpa berkomentar apapun.
Tidak tau mengapa perbincangan tadi mengisi pikiranku sepanjang jalan kaki menuju rumah ustadsku. Mungkin mereka ada benarnya. Tapi pembenaran mereka disebabkan karena kekurangan kita sebagai kader dalam mengkomunikasikan semua kebijakan yang diambil. Sehingga apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan baik dari media atau lapangan, itu adalah sebuah kebenaran.
Karena masyarakat pasti hanya akan melihat berita dan bukan melihat proses. Apalagi tujuan-tujuan dari kebijakan-kebijakan yang diambil. Benarlah yang dikatakan Hitler bahwa, kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus akan menjadi sebuah kebenaran.
Sehingga seorang teman mengatakan, bahwa PKS telah gagal dalam menjelaskan dirinya dan keputusan-keputusannya melalui media. Untuk itu, tugas kaderkader PKS sekarang adalah menyampaikan kebenaran atas keputusan dan kebijakan yang diambil. Supaya masyarakat tidak salah persepsi terhadap PKS. Sehingga mereka menjauh bahkan memusuhi PKS.
Perlu sosialisasi yang lebih masif lagi, baik melalui media maupun dari kader-kader untuk menyampaikan kebenaran itu kapada masyarakat. Bahwa ada tujuan-tujuan dakwah di setiap kebijakan yang diambil. Supaya masyarakat menjadi tau yang sebenarnya. Bahwa dakwah ini dibangun di atas landasan kebersihan. Terang dan jelas, sejelas Matahari. Putih, seputih Cahaya. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang dikurangi dan dilebihkan.
“Masyarakat butuh penjelasan”

1 komentar:

Berawal dari kerendahan Hati mengatakan...

mengapa pada saat dgr perbincangan mereka antum hanya diam aja?? kenpa gak mencoba utk ikut dlm perbincangan mereka, walaupun satu ato dua kata saja yg keluar dari mulut antum sbg kader PKS?
klo lain kali antum dgr perbincangan bgitu lagi, cobalah utk bisa memberi penjelasan kpd org2 yg gak mngenal dan memahami sepak terjang PKS dlam berdakwah,

setidaknya antum dan kita semua bisa memberikan sedikit penjelasan kpd org yg blum memahami PKS itu sendiri, sapa tau dgn sedikit penjelasan dari kita, org2 seprti mereka bisa langsung paham dan mengerti dgn setiap pertimbangan2 yg diambil oleh para qiyadah kita.