Dari Ibuku

Pasti menagis terisak ketika Ia menyambut keadatanganku. Bukan. Bukan karena sedih, tapi itulah ekspresi bahagia yang paling tingginya untukku. Memelukku dengan rengkuhan sayangnya. Menciumku dengan kasihnya. Membelai lembut rambutku dengan cintanya. Selalu begitu ketika aku datang padanya dalam waktu yang lama. Menggandeng tangan dan menuntunku masuk ke dalam rumah. Bukan hanya sampai kedalam saja. Dia menuntunku sampai aku merasa nyaman.
Suara tangisnya sudah tidak terdengar lagi, kini ia menjadi sibuk. Sibuk mengurusi diriku. Membersihkan rambutku dari debu-debu jalanan ketika angin meniupkannya di kepalaku. Bahkan ketika rambutku ia rasakan kering, dengan segera ia mengambilkan minyak rambut tradisional. Orang biasa menyebutnya Orang-aring. Menata rapi rambutku, menyisirnya hingga tidak terlihat kering dan kusut lagi.
Membantu melepaskan jaket yang aku kenakan. Sambil meniup-niup, mencoba menghilangkan keringat di leherku. Mengambil benda yang terdekat yang bisa di jadikan kipas. Di kipas-kipaskan ke tubuhku. Bahkan dengan nada yang sedikit panik, ia menyuruhku pergi menyiramkan air ke tubuhku untuk menghilangkan rasa panas. “Panas nak. Makanya kamu keringatan begini”
Ekspresi wajahnya mulai berubah. Ketika ia sudah melihatku merasa nyaman. Kini senyuman manisnya dapat kulihat jelas. Ada rahasia yang tersimpan di matanya. Ada banyak cerita yang terdapat di keningnya. Mengelus-elus bagian belakang tubuhku seraya menatapku tajam penuh cinta dan bahagia. Sesekali ia mengusap wajah kusamku dengan kain yang ia kenakan. Atau semampunya menyapu-nyapu wajahku dengan tangan lembutnya. Selalu menanyakan “Punya siapa ini” ketika ia menemukan benjolan kecil di bagian wajahku.
“Nak, ternyata kau sudah besar. Terkadang ibu tidak percaya kalau engkau terlahir dari rahimku. Engkau bukanlah anakku yang kecil dulu. Yang wajahmu penuh dengan tanah-tanah bekas engkau bermain. Yang setiap kamu makan, pasti meminta telur rebus. Yang perutmu tidak pernah kosong oleh makanan. Hingga engkau disebut-sebut si Besar perut oleh teman-temanmu. Tapi kini engkau telah menjadi lelaki dewasa, kekar dan tegar. Kedewasaan dalam berpikir, kekar dalam menjalani dan menempuhnya, tegar dalam menghadapinya. Kini kau sudah besar”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Bukan lagi anakku yang beringus belasan tahun yang lalu. Yang pipimu pasti dipenuhi olehnya ketika engkau mencoba untuk membersihkannya. Bahkan terkadang engkau menggerutu ketika ibu menyuruhmu membersihkannya dengan baik. Karena asyik dengan aktifitas bermainmu. Hingga ibu membantumu membersihkannya dengan sedikit memaksa. Tapi sekarang tidak ada lagi kulihat kotoran di wajahmu. Ibu ingin wajahmu selalu begini. Bersih memancarkan aroma kebaikan. Jangan lagi ada cela yang membuat wajahmu tertutup oleh kotoran. Bersihkan dan jaga ia selalu”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Bukan lagi anakku yang suka bermain lumpur dan pasir. Yang setiap kamu pulang pasti merubah warna pakaianmu dengan warna tanah. Walaupun ibu mengganti dengan yang baru, pasti akan berulang lagi seperti itu pada bajumu. Hingga terkadang membuat ibu marah, dan menjewer telingamu. Atau menyambuk badanmu dengan lidi. Atau memukul lenganmu dengan tangan. Hingga engkau menagis meraung. Dengan wajah polosmu, engkau berulang kali meminta ampun, berjanji untuk tidak mengulanginya. Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Tapi sekarang engkau sudah tau cara berpakaian rapi, bersih, dan santun. Baumu harum dengan wewangian. Ketika ada setitik noda di bajumu, dengan segera engkau membersihkannya. Itu menandakan engkau bisa santun dan sopan dalam berpenampilan. Jangan terlalu berlebihan. Jangan memamerkan. Karena bersih bajumu, akan kotor di pandangan orang ketika kesombongan menguasaimu”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Dulu bicaramu tidak jelas dan tidak beraturan. Membuat terkadang dirimu menangis ketika ibu tidak mengerti apa yang kau mau dan maksudkan. Menangis keras. Keras sekali. Sampai orang-orang datang menanyakan pada ibu sebab tangismu itu. Tapi aku Ibumu, sangat tau apa yang harus aku lakukan supaya tangismu terhenti. Telur cumi-cumi. Ya. Telur cumi-cumi. Itulah pereda tangismu. Telur cumi-cumi dalam sebuah mangkok besar. Tapi sekarang bicaramu terarah, jelas dan tegas. Lantang dan bergeuruh. Nyaring dan berirama. Berintonasi dan bernada. Jangan biarkan nadanya membentuk irama-irama tak beraturan ”
“Nak, sekarang engkau telah besar. Lebih tinggi dari aku. Sudah dewasa dalam berpikir. Sedangkan Ibu sudah mulai menua. Engkau sekarang sudah bisa membedakan yang benar dan yang salah. Yang baik dan yang buruk. Yang pantas dan tidak pantas. Bahkan engkau sudah bisa mengenal Cinta dan benci. maka pilihlah pilihan yang terbaik di antara pilihan-pilihan itu”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Buakan lagi anakku yang selalu Ibu mandikan ketika bangun pagi. Yang selalu ibu suapi ketika engkau makan. Yang selalu ibu gendong dalam perjalanan jauh. Kini engkau sudah mandiri. Bisa melakukan banyak hal tanpa bantuan orang lain. Sudah bisa menatap masa depan dengan perencanaan-perencanaanmu. Sudah bisa berlari mengejar impianmu. Hingga menembus batas langit. Belari dan kejarlah terus ! Hingga dari kuku-kuku kakimu akan memercikkan percikan apai. Jangan menunggu orang lain. Jangan menjadi orang yang ketergantungan. Jangan menjadi manusia malas, lemah, dan pengecut. Karena engkau adalah seorang pemberani”
“Nak, Sekarang engkau sudah besar. Berpendidikan. Dan memiliki cita-cita. Sedangkan ibu sudah luput ditelan zaman. Tidak sehebat dirimu. Tidak sepintar dan secerdas dirimu. Karena ibu tidaklah berpendidikan sepertimu. Tapi dengan melihatmu kini, aku merasa menjadi ibu yang paling beruntung di dunia. Karena engkaulah titisan kehidupanku. Untuk itu, engkau harus menjaga keberuntunganku ini. jangan engkau mengecewakannya.”
“Nak, sekarang kau sudah besar. Bulu-bulu sudah mulai menumbuhi wajahmu. Kumismu, Jenggotmu. Atau mungkin cambangmu akan tumbuh sebentar lagi. Sama seperti bapakmu. Seperti itulah akan tumbuh juga kepribadian dirimu. Tuntun kepribadianmu itu. Tata rapi ia. Jangan biarkan kepribadianmu membawamu ke lumpu kesesatan. Bawa ia menuju cahaya. Cahaya yang tarang. Hingga disana ia akan menemukan jalan menuju cahaya di atas cahaya”

2 komentar:

Mutiah mengatakan...

ishbir akh.. innalaha ma'asshobirin...

SANG Pengembara mengatakan...

Cinta terlampau dalam merembes di setiap ukiranmu. Begitu bening, begitu jujur, begitu jauh menembus sumsum. Dengarkan jeritan...Maka ruang menebar pesona tentang seorang lelaki, mungkin pantas bagiku sahabat. Dia pergi dalam jeda singkat, menjemput cintanya di sebuah dermaga kusam. Di sana telah siaga Israil dengan tegar. Siaga menggenggam satu catatan. Akhirnya kutahu kau tak pernah kalah, tak mungkin kalah. Seperti sediakala, kita terlampau ingin tersenyum selalu dan selamanya.