Meluruskan 'Fitnah' Soal Pernyataan Presiden PKS

Meluruskan 'Fitnah' Soal Pernyataan Presiden PKS [Tabayyun Dong, Jangan Asal Nyebarin:-( Jun 3, '09 3:19 AM
for everyone Bismillahirrohmanir rhiim.
Saya gerah juga melihat orang biaca ini itu tanpa tabayyun dan tanpa fakta yg akurat asal neybar dan ngulas saja soal pernyataan Presiden PKS: Ir.Tifatul Sembiring.
Nah, saya dan Kang Akmal, sudah mendapat tabayyun yg jelas dari yg bersangkutan. Kalau Kang Akmal dari Ustadz-nya yg dapat SMS dari Ir.Tifatul. Alhamdulillah, saya dapat baru saja dari Ir.Tifatul Sembiring.
Saya sedih karena itu sudah disebar kemana2 padahal yg menyebar belum tabayyun. Jk yg menyebar itu kaum munafik sih ga masalah [ingat haditsul 'ifki ya-red] tapi kalau yg menyebar itu ikhwah Muslim yg sama berjuang agar ISLAM bisa tetap tinggi. Itu yg buat saya sedih.

selamat membaca ya;-(
jangan termakan isu jk anda tak tahu apa2 soal PKS. Saya juga ga tahu apa2 tentang PKS:-(
Tapi saya ga asal tulis ini dan itu juga, kalau saya salah tulis, saya ada yg menasehati secara langsung dengan adab yg ALLOH ajarkan.
***

assalaamu’alaikum wr. wb.

Di abad informasi ini, berita dari New York bisa sampai di Indonesia jauh lebih cepat daripada pesawat yang paling cepat sekalipun. Seorang istri ditampar suaminya, sejam berikutnya ribuan orang sudah baca curhatnya. Barangkali itulah sebabnya pihak manajemen RS Omni begitu khawatir pada tulisan Ibu Prita. Internet memang membuat batasan-batasan geografis menjadi tidak relevan.

Kecepatan menjadi kata kunci dalam segala hal. Bermunculanlah situs-situs berita yang mengandalkan kecepatan. Tentu mereka tak perlu bilang bahwa pada level tertentu, kecepatan bisa mengorbankan akurasi. It’s bad marketing, of course. That’s why it’s never been said. Tapi kenyataan itu terjadi berulang kali. Dan kenyataannya, seperti yang berulang kali ditunjukkan dalam tulisan-tulisan Sirikit Syah, seorang pakar jurnalistik, menuntut tanggung jawab media atas pemberitaan yang dilakukannya sangat mudah. Belum apa-apa sudah dituduh memasung kebebasan berbicara. Tapi menyatakan pendapat dan mewartakan kebohongan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Maka kecepatan pun menjadi kata kunci bagi para konsumen berita. Pokoknya asal cepat. Semua ingin jadi yang paling pertama tahu, entah kenapa. Maka jatah siaran infotainment pun diperbanyak, mulai dari pagi, siang, sore, malam, dan konon tengah malam pun ada. Semua ingin cepat-cepat mengetahui, apakah artis A jadi cerai atau tidak, apakah artis B sedang cari jodoh atau masih betah sendiri, atau ingin tahu detil cerita tentang kejutan di acara ulang tahunnya artis C. Tidak masalah beritanya penting atau tidak, yang penting jadi yang pertama mendengarnya. Pada titik ini, akurasi berita sudah hilang sama sekali dari prioritas.

I think about these kinds of things a lot. Kadang jadi masalah sepele, kadang rumit juga, bahkan adakalanya menjadi gawat. Berbeda dengan pola pikir liberal murni yang membatasi hidup pada seputar dirinya saja, kita sebagai Muslim punya tuntutan untuk berpikir sebagai satu tubuh yang saling menunjang. Oleh karena itu, respon terhadap berita yang mungkin mengganggu stabilitas tubuh ini mesti ditanggapi dengan serius. Saya akan menggelar sebuah studi kasus untuk mempermudah kita memahaminya.

Studi Kasus
Senin malam, 1 Juni 2009 yang lalu. Saya sedang pergi keluar, mencari makan malam. Sampailah pesan singkat itu di ponsel saya. Beginilah kutipannya :

Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Majalah Tempo, 7 Juni 2009 : “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik? Soal selembar kain saja kok dirisaukan?”

Begitulah kutipan beritanya. Analisisnya? Tenang, masih ada lanjutannya :

Astaghfirullah! Bagaimana jika pertanyaan itu dilanjutkan : “Apa kalau capresnya shalat, puasa, zakat, dan berhaji lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?” Sama dengan shalat, puasa, zakat dan berhaji, jilbab itu perintah Qur’an. Demi koalisi dengan SBY-Boediono, Tifatul tega mereduksi perintah Qur’an jadi “soal selembar kain”. Astaghfirullah!

Pesan singkat di atas tidak saya ubah sama sekali, kecuali beberapa kata yang sebelumnya disingkat, karena untuk kebutuhan SMS memang biasanya orang melakukan penyingkatan kata. Tapiinsya Allah isinya demikian adanya.

Saya cuma geleng-geleng kepala membaca pesan singkat itu. Sayang, pulsa sudah habis untuk menjawabnya.

Keesokan paginya, dari berbagai milis, berita yang sama pun beredar kembali. Ust. Tifatul Sembiring telah melecehkan kewajiban Muslimah untuk mengenakan jilbab, hanya demi koalisi dengan SBY-Boediono. Begitulah cemoohan orang-orang. Penjilat, oportunis, pragmatis, berbagai predikat pun melayang bebas. Muncul pula pertanyaan seputar aqidah ust. Tifatul. Nampaknya inilah titik ekstremnya.

Sebagai penutup kasus, perlu disampaikan pula bahwa pada sore harinya klarifikasi yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Seseorang meneruskan pesan singkat yang dikirimkan oleh Ust. Tifatul sendiri kepada seorang ustadz lainnya yang meminta klarifikasi. Begini bunyinya (sekali lagi, penulisan saya benahi karena konteksnya berubah, dari format pesan singkat menjadi format blog) :

Antum percaya Tempo atau ana? Antum baca deh artikel yang menyerang PKS di Tempo. Dia tanya, “Apakah PKS menekan SBY agar Bu Ani pakai jilbab?”, saya bilang “bukan!”. Dia tanya, “Apakah Bu Ani berjilbab lantaran alasan politik?”, saya jawab “Nggak tahu, tanya langsung ke orangnya!” “Anda ini rewel banget,” kata saya, “urusan selembar kain diatas kepala wanita, die gak pake kerudung ente ributin, dah pake kerudung diributin juga!”. Itu bahasa saya ke Tempo, yang saya tahu wataknya tidak Islami. Nah, percaya siapa?

Klarifikasi datang, kasus ditutup. Tapi yang ingin saya bicarakan bukan kasusnya, melainkan hal-hal kecil yang seringkali terlupakan di sekitarnya.

Ukhuwwah : Sebuah Uji Konsistensi
Setelah klarifikasi datang, terjadilah arus balik. Mereka yang mencemooh kini harus menghadapi nasib sebagai yang dicemooh balik. Kenapa sembarangan mengambil berita? Mengapa Tempo dianggap lebih tsiqah daripada Ust. Tifatul? Mengapa tidak kembali pada materi-materi ukhuwah yang sudah dipelajarinya bertahun-tahun? Mengapa tidak kembali ke ashalah dakwah yang mendahulukan husnuzhzhan dan tabayyun, sebelum ambil kesimpulan dan mem-forward e- mail dan SMS kesana kemari?

Ada yang berkelit, katanya ini bentuk ukhuwwah juga. Kalau ada yang mengkritik PKS, itu artinya dia sayang pada PKS. Yang mencela sebenarnya tengah mengekspresikan ekspektasinya yang sangat tinggi pada PKS, sehingga urusan jilbab ini menjadi sangat penting baginya.

Alhamdulillaah, rupanya ukhuwwah masih disinggung-singgung . Masih ada yang ingat pada ukhuwwah. Tapi bagaimanapun harus dicek konsistensi ucapan dan perbuatannya.

Allah dan Rasul-Nya menghendaki umat Islam ini menjadi satu keluarga besar. Semuanya harus saling memperlakukan bagai saudara, bahkan dalam analogi yang paling tingginya, bagaikan satu tubuh. Kita cukupkan pada analogi ‘saudara kandung’ saja, agar mudah membayangkannya.

Bayangkanlah suatu hari Anda pulang ke rumah, lalu dalam perjalanan disapa oleh seorang penjaga warung yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Anda. Lalu ia bercerita bahwa adik Anda yang terkenal alim itu diam-diam suka berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahram- nya ketika Anda tidak sedang di rumah. Kemudian dengan perasaan marah, Anda pulang ke rumah. Mendapati adik sedang santai-santai di depan teras, ia langsung didamprat di tempat. “Dasar nggak tahu malu! Ternyata kamu begini ya kelakuannya. Main perempuan seenaknya di rumah. Apa kata tetangga? Bikin malu orang tua aja!!!” Tetangga-tetangga dalam radius 30 meter pun ikut menyimak Anda memarahi adik sendiri.

Lima menit kemudian, lewatlah sang penjaga warung dan berkata : “April Mop!” Sayangnya tidak banyak yang mendengar. Sudah banyak yang kembali ke urusannya masing-masing, dengan menyimpan ‘pengetahuan’ bahwa adik Anda ternyata suka main perempuan.

Beginikah yang namanya saudara? Lebih percaya pada orang lain, daripada adik sendiri? Langsung mempermalukannya di depan umum, dan bukannya mengajaknya bicara dari hati ke hati?

Jawaban Ust. Tifatul di atas sebenarnya cukup untuk membuat hati teriris-iris, kalau memang kita merasa bersaudara. Bagaimana perasaan Anda kalau adik, kakak, anak, atau orang tua Anda bertanya dengan getir, “Kamu percaya pada saya atau pada mereka?” Hilangnya kepercayaan orang adalah salah satu hal yang paling menyakitkan yang bisa terjadi di dalam keluarga. Betapa perihnya hati begitu mengetahui bahwa saudara kita sendiri tidak percaya pada kita. Saya harap mereka yang terlanjur mencemooh Ust. Tifatul (dengan alasan “ukhuwwah”) juga merasakan getirnya jawaban beliau.

Dunia Maya dan Tanggung Jawab Moral
Mari berpikir lebih teknis. Begitu dengar berita miring, Anda langsung kirim e-mail ke berbagai milis, SMS ke handai-taulan, bahkan kalau perlu pasang juga di blog atau di Facebook. Ketika Anda mengirimkan sebuah berita, maka Anda pun telah memicu sebuah reaksi berantai. Katakanlah, dalam waktu 2 jam setelah Anda menyebarluaskan berita itu, sudah 1000 orang yang menerima berita itu dan menganggapnya sebagai berita yang benar. Dari 1000 orang itu, ada yang ikut mencemooh, ada pula yang cuma diam saja dan menyimpan informasinya dalam benak.

Dua jam setelah Anda menyebarluaskan berita, muncullah klarifikasinya. Ternyata itu semua bohong belaka! Kalau bicara tanggung jawab moral, maka Anda punya kewajiban untuk menyebarluaskan klarifikasi itu kepada orang-orang yang sebelumnya telah Anda kirimi berita. Tapi apa bisa?

Ya, Anda bisa kirim lagi e-mail dan SMS ke orang-orang dan milis-milis yang sama. Tapi ada dua masalah. Pertama, berita itu sudah bukan hanya berada di tangan orang-orang yang Anda kirimi berita, karena mereka bisa saja sudah meneruskannya ke orang lain. Anda bisa saja bilang bahwa mereka pun bertanggung jawab untuk menghentikan peredaran berita bohong itu, tapi Anda tetap akan dimintai pertanggungjawabann ya, karena Anda-lah yang telah menyebarluaskan berita sejak awal tanpa berpikir panjang siapa yang akan menerima berita tersebut.

Masalah kedua : bisa jadi diantara 1000 orang itu ada yang tidak menerima berita klarifikasinya. Jadi bagi mereka, berita yang dipandang shahih adalah berita yang pertama. Sebab, mereka tidak pakai Outlook atau aplikasi semacamnya. Mereka baca berita miring soal Ust. Tifatul kebetulan ketika sedang online. Ketika klarifikasinya datang, kebetulan mereka sedang tidak online. Kemungkinannya lebih besar lagi kalau Anda posting berita itu di blog. Yang membaca posting pertama bisa jadi tidak membaca posting kedua. Akhirnya mereka pun terus menyebarluaskan berita yang sebenarnya sudah diralat itu. There’s nothing you can do about it! Itulah konsekuensi mengikuti milis dan menulis di blog. Yang menakutkannya, kemungkinan besar Anda masih akan dituntut pertanggungjawabann ya kelak.

Siapakah Pendusta Itu ?
Peradaban Islam memiliki perangkat yang lengkap dalam menyikapi informasi. Umat ini semestinya adalah yang paling siap dalam menghadapi era globalisasi, begitulah teorinya. Mulai dari prinsipukhuwwah, mekanisme husnuzhzha n dan tabayyun, larangan untuk mengatakan apa-apa yang tidak kita paham betul, dan masih banyak lagi prinsip lainnya yang seharusnya memberikan kita kekebalan lebih baik dalam menyikapi fenomena bebas beredarnya informasi di masa kini.

Barangkali ada baiknya jika saya menutup uraian ini dengan sebuah hadits shahih yang nampaknya sangat relevan untuk kita jadikan cermin saat ini :

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Cukuplah bagi orang itu disebut pendusta apabila dia membicarakan setiap (berita) yang dia dengar.” (HR. Muslim)

wassalaamu’alaikum wr. wb

2 komentar:

neilhoja mengatakan...

assalamu'alaikum.

kenapa pks gak menggunakan hak jawab kepada Tempo saja, bahwa yang dimuat di tempo gak seperti itu?

kok gak dimuat di situs resmi pks? kenapa harus kepada orang2 internal saja? kenapa? apa orang2 di luar pks juga tidak dianggap sehingga informasinya dibiarkan sesat begitu saja? kenapa gak klarifikasi umum tandingan?

ustadz.. ditunggu klarifikasinya di website pks.

shandy mengatakan...

"Mengapa Pak *** tidak membuat klarifikasi saja di media yang sama, melalui hak jawab? Karena beliau adalah pemimpin sebuah partai besar, tidak mungkin disepelekan. Atau minta pada Tempo untuk memberikan rekaman wawancara, convert sebagai MP3 dan dimuat di website ***. Lagu dangdut saja ada di website ***, masa wawancara lengkap presidennya tidak bisa?"

'''''
"... ke peristiwa haditsul ifk, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wassalam sudah mengetahui kebenaran peristiwa itu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka beliau mengumumkannya secara tabligh, secara terbuka, kepada rakyat Madinah, bukan hanya kepada sahabat-sahabat terdekatnya saja.

Dalam kasus 'selembar kain' ini, kalau kita berasumsi Pak T** adalah pihak yang benar, maka Pak T** juga harusnya mengumumkan kebenaran itu secara tabligh, secara luas, secara terbuka, bukannya hanya membantah bahwa wawancaranya diplintir, dan menyebarkannya via SMS ke sohib dan kader saja. Mudah-mudahan ini bisa diperbaiki ke depannya.

Janganlah setiap isu ditanggapi dengan "ini adalah pemelintiran berita dari wartawan", atau tuduhan "tidak berwatak islami", atau tuduhan "media kafir", dst. Ini adalah konsekwensi masuk ke mihwar siyasi, maka jagalah lisan Anda wahai para pejabat publik P**, jagalah lisan para qiyadah itu, agar tidak mengeluarkan pernyataan yang mengambang, multitafsir, bahkan memang keliru.

Selain itu, yang menjadi keprihatinan saya adalah, kalau belum berkuasa begini, lalu nanti kalau sudah berkuasa mau bagaimana pula? Sudah konsekwensi menjadi pemimpin harus menghadapi persepsi macam-macam atas penyebaran informasi yang macam-macam pula. Perkataan seorang pemimpin bisa berakibat sangat besar buat rakyatnya. Presiden salah bicara, gubernur BI salah bicara, menteri keuangan salah bicara, bisa-bisa rupiah melemah habis-habisan terhadap valas, bisa-bisa ada komplikasi diplomatik dengan negara tetangga, dll. Seandainya itu terjadi, lalu ketika rakyat protes, kader-kader partai pemerintahnya mengeluarkan dalil-dalil terkait haditsul ifk, ya sungguh tidak nyambung.

Kalau pemimpin hanya menjelaskan kepada kader-kader partainya, agar kesolidan partai terjaga, tapi tidak memperhatikan jutaan rakyat pembayar pajak yang juga punya hak untuk informasi itu, maka pemimpin seperti itu sudah memiliki indikasi kesengajaan membiarkan informasi sesat beredar."
Sumber : http://pkswatch.blogspot.com/2009/06/selembar-kain-itu-bukan-masalah.html