Surat Dari Adikku

Untuk Kakakku Tercinta
Assalamualikum warah matullahi wabarakatuh....
Bismillahirrahmanirrahim.
Salam rindu untuk kakakku tersayang. Semoga Allah senantiasa menjadikan rasa cinta kita tetap dalam ikatan islam dan iman amiiieen... Saling mengingatkan dikala ada kesalahan, saling memberikan semangat dikala ada kerapuhan.
Afwan, celananya Cuma 3 lembar. Jadi, bajunya ada Dua lembar yang tidak punya pasangan. Tapi bisa dikombinasikan dengan celananya. Gak apa-apa kan kakak shaleh ??? Smoga celana dan baju yang adek Moni kirimkan sesuai dengan pesanan kakak.
Don’t forget, makanan has bandung juga !!! Weeeuuuunaaak pisaan eeeiii... Manteeep mentong... mak nyuuussss... don forget too, makanan bandungnya dibagikan ke teman-temannya juga giiiih....!!!!
Klo nambah lagi, ditunggu kedatangannya di Bandung City (Kota Kembang), Okeyy ???
NB : remember, salam buat calon kakak ipar !!! He...He...He...
Dari dek Moni shalehah

Wassalam

Aktris Monika Favorit Makbul

Begitutulah kata-kata surat tertulis di lembaran warna kuning yang terselip di dalam sebuah paket kiriman yang aku terima. Ya, surat itu ditulis oleh adikku yang sekarang kuliah di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung, Jawa Barat.
Ketika aku membaca kata tambahan dlm surat itu “......Salam buat calon kakak ipar....”, aku hanya tersenyum geli. Kata-kata yang “aneh”. Lucu. Tiba-tiba tubuh ini terasa ringan. Serasa ada sengatan yang mengalir deras dari ujung kaki menuju kepala.
Ungkapan yang sangat sensitif untuk dibahas. Yang aku pikirkan dan menjadi masalah adalah, kepada siapa salam ini harus aku sampaikan ? Kata-katanya itu menggambarkan sebuah keyakinan, bahwa sudah ada sosok yang akan menerima salamnya.
Mungkinkah adikku sudah menganggap kakaknya ini sudah layak untuk menjalankannya ? Ataukah ini isyarat bahwa adikku telah siap menerima kehadiran anggota keluarga baru di tengah-tengah keluarga kami ? Ataukah ini hanya ungkapan kerinduan akan kehadiran sosok kakak baru ? Hingga adikku memaksaku secara halus untuk segera melaksanakannya ? Mungkin Saja.
Tapi aku berharap semoga salam adikku segera tersampaikan kepadanya. Entah siapa, dimana, dan kapan. Wallahu ‘alam.

0 komentar: