Amanah Itu Berat sekaligus Mengasyikan

Kalau pada tulisan yang lalu saya menulis tentang pemimpin baru di Unhas, yang tentunya akan menjalankan amanah baru, maka yang saya tulis kali ini adalah tentang pemimpin yang baru saja menyerahkan amanahnya kepada pemimpin baru itu.
Tanggal 27 januari 2009, tepatnya Selasa malam usai mengikuti Tatsqif pekanan di masjid Al-Aqsha Ramsis putra Unhas, saya dan beberapa orang Ikhwah menyempatkan untuk bincang-bincang sebelum kembali ke rumah dan tempat masing-masing. Mereka adalah ketua LDK dan beberapa pengurus KAMMI yang baru saja didemisioner 2 hari sebelumnya.
“Akhiy, lega rasanya bebas dari amanah sebagai ketua LDK” katanya memulai.
Seorang Ikhwah yang juga didemisioner dari pengurus KAMMI menyambut
“Ya. Serasa seperti mahasiswa baru (MABA). Gak ada beban organisasi”
Mantan ketua LDK menimpali lagi
“Tapi antum tau akhi, 2 hari ini serasa ada yang hilang dari hidupku. Berat memang punya amanah. Tapi ane rasakan lebih berat gak ada amanah. Gak ada aktivitas. Hampa. Serasa ada yang hilang” katanya menggambarkan kehampaannya selama 2 hari terakhir. Antara ada tan tiada amanah dalam hidup
Begitulah kata Rijal Allah yang menghajatkan keseriusan yang begitu tinggi terhadap jalan yang telah diwariskan oleh Rasulullah saw dalam memperjuangkan dakwah Islam. Jalan seperti ini merupakan pilihan bagi semua manusia. Tapi hanya manusia-manusia pilihanlah yang akan siap menerimanya, dengan segala resiko yang akan dihadapi. Hanya orang-orang seperti merekalah yang akan bertahan dari ancaman dan tusukan duri-duri dakwah.
Jalan seperti ini, juga pernah dilakoni oleh Rasulullah bersama para sahabat. Jalan yang menjadikan mereka abadi tertulis disepanjang sejarah peradaban dunia. Bahkan sampai hari kiamatpun, mereka tidak akan terlupakan. Mereka akan terus dicintai dan diteladani. Kerinduan akan sosok-sosok mereka akan terus didambakan kehadirannya.
Tahukah kita, bahwa sesungguhnya jalan yang Rasul dan para sahabat rintis pada masanya tentu tidak sama dengan masa kita sekarang. Perjalanan dakwah dan perjuangan mereka, melaui masa yang tingkat kesulitannya berlipat dari saat ini. Jalan yang bukan saja mengorbankan harta semata, tetapi mereka juga harus mengikhlaskan jiwa-jiwa mereka. Jalan yang talah banyak mencucurkan keringat dan darah. Tapi kemudian dengan siraman keringat dan darah itu, bunga islam dan dakwah terus tumbuh bermekaran sampai sekarang. Dan begitu seterusnya. Sampai cita-cita untuk menjadikan Islam sebagai peradaban terbesar (ustadziatul ‘alam) terwujud. Sampai tidak ada lagi kemungkaran dimuka bumi ini. Sampai Allah meniadakan kahidupan di dunia ini.
Kalau memang demikian gambaran beratnya membawa amanah, mengapa ada saja orang yang mau memikulnya ? karena mereka memang sadar dan yakin, bahwa dengan memikul amanah dakwah ini, mereka akan mendapatkan kekuatan yang begitu hebat. Yang tidak akan pernah didapat dan dirasakan oleh orang-orang yang hanya berdiam diri dan berleha-leha tanpa ada pekerjaan yang mereka lakukan. Selalu ada semangat yang melahirkan optimisme dan rasa juang yang tinggi. Menjdikan diri sadar akan arti penciptaan hidup manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Orang yang tidak sanggup memikul amanah dakwah dengan alasan ketidak mampuan hanyalah mereka yang memiliki keimanan yang lemah. Bukankah As-Syahid Seikh Ahmad Yasin adalah seorang yang memiliki keterbatasan yang kompleks. Bukankah matanya buta tidak bisa melihat ? Bukankah tubuhnya yang kaku lumpuh memaksanya tinggal di kursi roda sampai akhir hayatnya ? Tapi semangat pengorbanan tidak pernah padam di dalam dadanya. Semangat juang dan pembelaan yang telah terpatri dalam jiwanya, telah menggentarkan dan berguncangkan dunia. Telah menjadikan musuh-musuh islam panik ketakutan.
Potensi semangat dan kekuatan yang ada pada diri Syeikh Ahmad Yasin, sesungguhnya ada juga pada diri kita. Dan dengannya, kita bisa menuliskan tinta sejarah perjuangan kita seperti para pembangun peradaban. Yang terpenting adalah, kita harus menanamkan keyakinan dan keberanian dalam diri kita untuk melalukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang mereka lakukan. Tapi rasa itu tidak akan pernah muncul tanpa ada kesungguhan dan keikhlasan. Atau mungkin, kita terjebak dengan perasaan ketidak mampuan dengan keterbatasan yang kita miliki. Sehingga melupakan potensi-potensi keunggulan yang kita miliki.
Amanah Dakwah memang akan selalu terasa nikmat dan menyenangkan rasanya, apabila dijalani dengan kesungguhan dan keikhlasan. Walaupun berat menimpa tubuh. Bahkan lebih berat dari batu besar sekalipun. Seandainya ia diletakkan diatas pundak kita untuk dipikul, maka tulang-tulang kita akan patah, atau mungkin hancur tertindih. Dan beratnya akan terus dan terus bertambah seiring berkembangnya medan dakwah yang akan terus berkembang meliputi dunia ini.
Allahu 'alam

0 komentar: