Lewat Hembusan Angin

17 Maret 2010
Assalamualaikum. Wr. Wb
Dear Sahabat….
qu ucapkan selamat atas
kelulusanmu….
Semoga sukses selalu
Jadi pengusaha sukses &
Punya isteri shaliha…
Hadiah kecil ini sebagai tanda indahnya
Ukhuwah yang terpisah
Jarak & waktu…
Walaupun ana blum pernah liat
nt… ana yakin nt orang baik
Isi surat yang dituliskan oleh seseorang kepadaku. Surat itu aku temukan terlipat rapi di dalam sebuah kotak bingkisan yang diluarnya jelas tertulis untukku. Di sana juga aku temukan sebuah batik berwarna cokelat, jaket hitam, Novel, dan sebuah kalender bergambarkan fotoku. Itulah yang dimaksudnya hadiah kecil. Mungkin juga kalian akan menganggapnya kecil. Tapi bagiku dia adalah hadiah yang istimewa. Bukan karena jenis hadiahnya, tapi kepercayaan dan ketulusan orang yang memberikan hadiah itu kepadaku.
Kira-kira sejak tiga tahun yang lalu aku bertemu dengannya. Lewat hembusan angin. Hembusan angin yang membawanya padaku dan mengantarku padanya. Entah di mana pertemuan itu, aku tidak tau. Mungkin hembusan-hembusan itu bertemu di birunya langit. Mungkin juga hembusan itu bertemu di hamparan hijau. Atau mungkin di atas landai bentang samudera. Atau mungkin juga hembusan itu bertemu di atap rumah. Atau bias jadi hembusan itu bertemu di dalam sebuah angkutan kota. Ah, tapi itu tidak penting. Yang penting adalah pertemuannya.
Pertemuan pertama, kumemintanya untuk membuka blogku. Alamat blog yang sekarang sedang and baca. Sebening Cinta.
Katanya, “Blog nt jelek. Melankolis. Aku gak suka cinta”
Kujawab, “Kenapa ??? Bukannya Cinta itu indah ? Bukankah semua orang mengharapkannya ? Bukankah itu juga alasan manusia untuk hidup ? Jalaluddin Rumi juga bilang kalau alas an semua pergerakan yang ada di bumi ini adalah karena alas an cinta ??”
Dia jawab “Pokoknya apapun alasannya, aku tidak suka cinta”
Kujawab “Tidak suka sedikitpun ???”
Dia jawab “Tidak ! Titik !”
Kujawab “Biarpun tidak suka, tapi cobalah baca blogku ! Mungkin bukan cinta seperti itu yang nt benci. Atau bisa jadi cinta yang nt benci adalah kebencian yang menyamar menjadi cinta??” aku nyengir
Dia jawab “Jangan memaksaku. Aku tidak mau ! Malas !” Sepertinya dia marah.
Itu adalah pertemuan kami yang pertama. Marah, memaksa, dan banyak perdebatan. Pertemuan kedua, ketiga, dan keempat masih seperti itu. Pertemuan setelahnya aku tidak ingat. Tapi mungkin dia ingat. Pertemuan lewat hembusan angin.
Entah tidak tau pada pertemuan yang keberapa kami mulai akrab. Tapi tetap ada nuansa perdebatan, ejekan, dan terkadang marah. Semakin lama kami semakin akrab. Bahkan kalau bertemu lewat hembusan angin, tidak enak rasanya kalau tidak ada perdebatan, ejekan, dan marah yang kadang-kadang.
Itu mungkin sebabnya kenapa dia pernah mengatakan, ukhuwah itu indah. Ukhuwah itu dekat dan erat. Ukhuwah itu unik. Ukhuwah itu tiada berujung. Ukhuwah itu tiada berpenghalang. Ukhuwah itu bukan musiman. Ukhuwah itu tiada berakhir. Ukhuwah itu saling memberi dan berbagi. Ukhuwah itu Cinta karena Allah. Dan begitulah selanjutnya. Dan akan tetap seperti itu. Seperti itu selamanya. Walaupun hanya lewat hembusan angina.
Aku dan dirinya masih seperti diriku dan dirinya yang dulu. Diriku dan dirinya hari ini.
Katanya, diriku orang jelek dan hitam. Kataku, dirinya orang gendut, tembem, dan gentong.

0 komentar: