Obrolan Dodol my Family

“Rahiiiiiimmmmmmmm......... Angkat seng sms ta’ kodongE”

“Oooooo.... Rahimmm...... Angkat seng sms ta’ kodongE”
“Ngarro Q anak-anak kodongE”
“Tena apa-apa. Ooooo...... Rahim......... Angkat seng sms ta’ kodongE”
“Oooooo..... Rahim..... Eeeeeeeee....”
(maaf kalau salah tulis. Tapi seperti itulah yang kudengar ^_^)
Begitulah kira-kira nada sms hpku malam itu. Yang intinya arti nada sms itu, meminta Rahim untuk segera angkat sms. Memelas sekali. Diiringi nada yang mengharukan. Coba saja anda dengar nada sms ini, pasti anda mengeluarkan air mata. Bukan karena terharu, tapi karena ketawa mendengar suaranya. Lucu menggelitik
Ku angkat Hpku. Ku baca pesan yang ada di dalamnya.
“Asw. Kak, telepon dong ! Gak ada pulsa nih. Penting !” (Huuhhh.... payah ! Bikin malu gue aja. Hari gini gak ada pulsa ?) Ternyata sms dari adikku.
Dan tanpa basa-basi, perintah sms itu aku lakukan. Dan tidak perlu menunggu terlalu lama, aku sudah terhubung dengan adikku di seberang sana.
“Assalamualikum..........!” sapa adikku
“Wa’alaikum Salam......!” jawabku
“Bagaimana kabar puang.....??”
“Alhamdulillah baji-baji ji. Tambah tampan, tambah gagah, tambah keren, tambah cakep, tambah apa lagi ya....” jawabku yang membuat adikku tertawa.!

Aku tidak tau kenapa dia tertawa. Padahal menurutku gak ada yang lucu. Masa Cuma menjawab seperti itu saja langsung bikin ketawa ? Ternyata katanya, karena aku ini narsis pisan euy. Ah, tapi masa sih itu dibilang narsis ?? Kan aku Cuma jawab sesuai kenyataannya. Seadanya githu lhohhh. Kan dilarang bohong oleh agama. Nanti dapat dosa. Benerkan ???
“Bagaimana Boss ? Kapan ujiannya ? Kapan jadinya Wisuda ? Kapan pulang ke kampung ? Kapan kerja ? Kapan menikah ? Sudah lama mau punya kakak perempuan. Sudah lama juga aku ingin timang keponakan” tanyanya bertubi-tubi.
Ssssrrrrrrr........................ Pertanyaan-pertanyaan yang membuatku gagap. Pertanyaan sensitif. Kapan dan kapan. Jadi menyesal menelponnya. Seandainya saja aku tau kalau dia cuma mau bertanya seperti itu. Kagak bakalan aku telepon. Aku tertipu dengan kata penting.
Tapi sebenarnya inti dari pertanyaannya adalah “kapan” yang terakhir. “Kapan Menikah?”. Karena mungkin menurutnya, kalau pertanyaan “kapan” yang terakhir terjawab, maka pertanyaan “kapan” sebelumnya sudah terjawab dengan sendirinya. Karena “kapan” sebelumnya, harus terjadi sebelum “kapan” terakhir.
Tapi kalau aku mah, gak perduli “kapan” yang mana yang harus di dahulukan. Kalau bisa, “kapan” yang terakhir, dikasih maju lagi ke depan. Minimal sebelum “kapan pulang ke kampung?”. Mupeng diriku......Hehehe....!!! (Mupeng, minjam istilah yang kudapat dari seorang teman)
“Hehehe....” itu jawaban yang bisa kuberikan
“kenapa sih nt bertanya itu-itu terus ? Gak ada obrolan yang lebih menarik kah?” Protesku
“Kan adek sudah terlanjur bilang dan ceritakan sama semua teman-teman adek, kalau adek mau ke Makassar bulan .............. Eh, malah diundur lagi ke bulan .......” jawabnya
(Setelah bulan itu sengaja di kasih titik-titik. Rahasia perusahaan)
Bah ! Mati aku. Rencana wisudaku sudah tersebar di teman-teman adikku. Yang ternyata tidak jadi. Untung saja aku tidak dekat dan tidak bertemu dengan mereka. Kalau itu terjadi, mau aku sembunyikan dimana mukaku ? Dibalik diputar saja kali ya ? Tapi kalau disembunyikan di kantong, boleh juga tuh. Kan kantong kosong gak ada isinya. Maklum, bukan Boss yang penuh dengan lembaran-lembaran cokelat, hijau, merah, kuning. (emang pelangi ?)
“Salah sendiri. Kenapa terlalu cepat nyebarin hal yang belum pasti ?” dalihku membela diri
“Tapi kan kakak sendiri yang bilang kalau mau wisuda bulan........ Kakak juga bilangnya dulu dengan suara yang meyakinkan dan tegas”
“Ya udah, bilang saja sama teman-temanmu. Kalau wisudanya ditunda karena kesalahan teknis. Lagian kalau ke Makassar bulan itu, sedang musim badai laut dan udara” aku berkelit lagi
“Weeek..... dasar ! :-P” tanggap adikku
“Ngemeng-ngemeng, sampai di mana nih pembicaraan dengan inaq dan amaq ?” dia berpindah ke pembicaraan yang lain
“Pembicaraan apa”
“Pembicaraan yang itu tuh....”
“Yang mana ?”
“Yeeeee.... pura-pura tidak tau lagi. Bilang saja ! jangan malu-malu. Moso sama saya malu-malu?” selidiknya
Wah, kalau sudah begini aku tau pembicaraan apa yang dia maksud. Pasti tentang itu. Dasar anak kecil. Mau tau saja urusan orang dewasa. Coba waktu itu dia di dekatku. Pasti kujitak kepalanya sampai benjol-benjol seperti yang di film Sinchan.....
“Tanya aja sendiri sama inaq dan amaq !” ketusku sinis
“Oke !”
“Kak, tolong sambungin ke rumah dong ! Conference ! Adek mau bicara sama inaq dan amaq. Rindu banget nih” Mintanya
“Enak aja ! Pulsaku Cuma tersisa berapa nih” Alasanku supaya tidak Conference.
Karena aku tau kalau itu aku lakukan, pasti dia akan melakukan apa yang aku khawatirkan. Bicara ceplas-ceplos. Memaksa. Membujuk. Merayu. Yang akhirnya akan membuat rahasiaku terbongkar.
“Ayolah kak. Sekali ini saja. Please ! Kan gratis kalau pakai GSM ini.” Dia memaksa
“Pokoknya tidak mau. Isi pulsa sendiri !”
“Mohon sekali kak. Please. Rindu sekali sama inaq dan amaq”
Tidak berdaya aku mendengar bujukannya. Akhirnya ku ikuti lagi apa yang dia minta. Dan benar saja. Aku tertipu lagi. Kali ini dengan kata rindu.
Kini aku tidak bicara berdua dengan adikku, tapi bicara bertiga dengan amaq bersama inaq di sampingnya. Conference.
“Amaq, bagaimana tuh kak Dede ? Kok tidak jadi-jadi sarjana ? Bagaimana mau nikahnya kalau begini ?” adunya.
Wah, langsung to the point nih. Langsung menyerang tanpa aba-aba. Tadi katanya rindu, sekarang ??? Bener-bener ini bocah satu. Tambah gereget mau jitak kepalanya.
“Ya nak. Amaq juga tidak tau apa masalahnya. Kayaknya memang dia bakalan Mosot (jadi bujang tua) tuh. Kalau begini terus” bapak membenarkan
Tidaaaaaaakkkkkkkkkkk...................!!! Kata-kata bapakku ??? Mudah-mudahan tidak terjadi Ya Robb
Wah gak adil nih, masa aku di serang sama semuanya ? Tidak ada yang berpihak padaku. Tidak ada yang membelaku. Tapi kudengar sayup-sayup suara inaq yang saat itu duduk di samping bapakku dan menyimak.
“Sabar saja nak. InsyaAllah akan tiba masanya. Dan inaq yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik” ibuku membela
Terima kasih Inaq. Sedikit lega. Ibu selalu menjadi malaikat penolongku. Tidak pernah menyalahkanku. Selalu memberikan motivasi yang membengkitkan. Ada damai dan tenteram saat mendengar nasihatnya. Ada Syurga saat mendengar Doa-Doanya. I Love You inaq.
Aku hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka di balik telepon. Menunggu moment untuk angkat bicara
“Amaq, kalau belum ada yang cocok buat kakak, biar aku saja yang mencarikannya ?? InsyaAllah dijamin !” tawar adik ke bapakku
“Boleh lah. Tidak apa-apa. Tapi tetap penentu adalah amaq. Baik menurutmu, belum tentu baik menurutku. Dan buruk menurutmu, belum tentu buruk menurutku. Jadi, juri penentu ada sama amaq. Oke ?”
“Sissspppplah.... Tapi aku jamin, pilihanku tidak jauh beda dengan apa yang amaq inginkan sebagai menantu” ucap adikku kegirangan
Tidah tahan mendengar mereka, aku mulai angkat bicara
“Wah, enak aje. Emang yang mau menikah siapa ? Saya yang mau menikah kok kalian yang pusing denan kriteria ? Suka-suka saya dong. Kan aku yang akan menjalankan”
“Tidak bisa begitu bro ! Amaq yang menentukan. Kalau ibaratnya KDI, amaq itu komentator yang paling berpengaruh. Terserah gua dong. Anak, anak gua.” suara amaq bersikeras dengan nada bicara pelawaknya yang khas (gua itu sebenarnya gue maksudnya. Tapi bahasanya orang yang sudah tua, ya begitulah)
Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata amaq. Karena aku tau dia tidak serius. Dalam hal ini, bapakku sangat demokratis. Walaupun memang semuanya tentang itu aku serahkan sepenuhnya kepada orang tuaku.
“Wah, bahaya ini cess kalau begini. Kembali ke zaman Siti Nurbaya dong?” kataku membela diri
“Bukan begitu Choy ! Amaq Cuma mau memilihkan yang terbaik. Supaya nanti kalau ada orang yang melihat dan bertanya : Wah mantu siapa tuh ? Kemudian ditau amaq yang punya mantu, kan amaq menjadi lega dan bangga. Ya kan Boss?
“Emang Isteriku untuk ditonton sama orang-orang kampung ? Enak aja !
Mendengar obrolan dodol itu, ibuku ikut ambil bagian. Ibu angkat bicara
“Kenap sih kalian ini ? Githu aja kok repot. Nak, ikuti kata-kata ibu. Nanti kalau kamu menikah, cari isteri yang ...............&..................&.....................&....................bla...bla...bla...”
Wah, aku kira ibu mau memberikan solusi. Malah menambah banyak perdebatan dengan kriteria masing-masing.
Lucu, seru, kocak, pokoknya membuatku tertawa tiada henti malam itu.
Semakin “sengit” perdebatan. Semakin “keras” dengan pendapat masing-masing dengan tetap dibingkai lelucon dan tertawa-tawa. Semua mau jadi juri penentu. Tidak ada yang mau mengalah. Setelah berdebat dan saling “menjatuhkan” satu sama lain, akhirnya satu persatu melemah.
an pada akhirnya, bapak mengeluarkan kata-kata bijaknya. Yang merangkul semua pendapat. Bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika. Merapatkan barisan. Satukan tekad dan semangat untuk Indonesia jaya. Menjadi satu kesatuan yang utuh. Tanpa ada perbedaan dan sekat-sekat yang menhalangi. Merdeka !!! (Kok jadi semangat para pahlawan ya ??)
“Begini saja Nak, dan semuanya. Semua kita menjadi juri. Tapi menjadi juri untuk pilihan kita masing-masing. pilihan yang akan menjadi keluarga baru di rumah ini. Yang akan menjadi pendamping hidup si kakak. Semua berhak menilai”
“Maksudnya apa amaq ?” tanyaku bingung
“Maksudnya begini : Kalau nanti ada pilihan yang dipilih oleh kamu nak, ambil ! Tapi kalau ada pilihan yang dipilih oleh amaq, ambil ! Begitu juga kalau ada pilihan dari inaq, ambil ! Kalau juga ada pilihan dari adikmu, kita ambil juga ! Cukup Empat kan nak ?? Kalau belum Cukup, nanti kita minta pilihan lagi dari adik-adikmu yang lain. Dan kalau ada yang mereka pilih, ambil !”
“supaya nanti pesta kita tidak sampai 5 kali berulang-ulang. Langsung jadi kelima-limanya pada waktu yang sama. Juga tidak merepotkan dalam mengurus semuanya.”
“WHahahahahaha....................”
Semua terbahak mendengar kata-kata bijak amaq di akhir pembicaraan.

0 komentar: