www.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.ws

Diary 3

Sebelumnya di Diary 2... ! (kayak sinetron Terlanjur Cinta. Ada tayangan cerita pengulangannya)
Rencana-rencanapun dipersiapkan. Rencana anggaran dan biaya, perlengkapan, konsep acara, dan sebagainya. Bahkan kolega-kolega bapakku yang mengetahui hal tersebut, turut bahagia. Beberapa di antara mereka ikut memberikan ide. Dan menyiapkan rencana-rencana besar untukku. Semua bahagia, semua tersenyum, semua memberi selamat, semua telah dipersiapkan. Acaraku satu pekan lagi.
Episode 3 :
Bukan hanya orang-orang disekitarku yang tahu tentang rencana itu, bahkan teman-teman di kampusku sudah tahu tentangnya. Secara, saya kan artis jadi gosipnya cepat menyebar kemana-mana (wkwwkwk....).
Bahkan beberapa di antara mereka mengirim sms dengan bahasa yang berbeda
“Barokallohulaka wa baroka’alaika wa jama’abainakuma fi khair”
“Selamat menempuh hidup baru. Semoga sakinah, mawahdah, warohmah”
“Kenapa nt gak bilang-bilang kalau mau nikah ? nt nih, diam-diam menghanyutkan”
“Eh, kapan acaranya nt ? Undang-undang ya ?”
“......dan bla....bla....bla.....!!!”
Dan banyak lagi jenis sms yang lain. Aku heran dari mana mereka mendapatkan info itu. Tapi ah aku tidak peduli, karena aku tau kalau di kalangan aktifis kampus, info-info tentang pernikahan cepat sekali tercium. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang merah padam mukanya, menjadi panas darahnya, atau merasa dipukul dengan hantaman keras. Bukan karena menyesali pernikahan saudaranya, tapi karena merasa kalah dalam berlomba dalam kebaikan. Semuanya aku aminkan saja, tanpa harus memberi komentar apapun terhadap sms-sms itu.
3 hari lagi menjelang hari itu.
Ku buka-buka lagi buku Salim A. Fillah yang judulnya “Barokallohulaka Bahagianya Merayakan Cinta”, yang kumiliki sejak 1 tahun sebelumnya. Padahal sudah khattam 2 kali. Tapi masih saja perlu pemantapan. Bab per bab buku itu aku buka. Dari persiapan, pelaksanaan, dan seterusnya. Tidak lupa doa-doa dalam tahapan-tahapannya. Susah juga kalau menghapalnya. Mulai dari doa dipilihkan jodoh, doa akad, doa masuk kamar, dan doa-doa lainnya. Pokoknya komplit semua doa di dalamnya. Harus hapal dalam 2 hari. Seperti mau ujian saja. Padahal sudah dua kali khattam, tapi aku tidak pernah berpikir kalau inginku itu akan terjadi mendadak dengan waktu yang tidak ku sangka-sangka seperti ini. Tapi harus bisa. Supaya nantinya Cumlaude.
Dalam sujud-sujudku, dalam doa dan munajatku, dalam malam-malamku, ku mencurahkan segalanya kepada Sang penggenggam jiwa. Karena Dia lah yang telah mensekenario kehidupan yang sudah, sedang, dan yang akan di jalankan.
“Ya Allah, jika ini adalah JalanMu, maka aku Ridha dengannya. Berikanlah petunjuk dengan cahayaMu. Tetapkan langkahku dengan RahmatMu. Kuatkan hatiku dengan CintaMu. Agar bisa ku dapatkan berkah dan RidhoMu”
“Ya Allah, dalam hitungan hari dan menit, hambaMu ini akan segera menggenapkan setengah agamanya. Mengikuti jejak kekasihmu Rasulullah yang mulia. Maka hanya kepadaMu aku menyerahkan segalanya. Segala urusanku. Karena engkaulah yang berkuasa atas diri dan hidupku. Jika ini adalah jalan yang telah engkau tetapkan untukku. Maka berkahi aku dengan petunjukMu. Agar bahagia bisa ku dapat. Agar Syurga bisa ku raih”
Kira-kira begitulah bait doa yang akau panjatkan. Eh, ada lagi yang kelupaan. Ada doa khusus untuknya yang aku minta
“Ya Allah jika engkau telah menetapkan dia sebagai Pendampingku, aku ingin mencintanya seperti Muhammad mencintai Khadijah. Untuk itu ya Allah, jadikanlah dia seperti Khadijah untukku. Menemaniku dalam semua warna kehidupan. Mendukungku dalam setiap kebenaran. Meluruskanku dalam setiap salah. Menjadi penghibur dalam laraku......”
Dan masih panjang sebenarnya. Tapi cukuplah sampai di sana. Nanti para pembaca mencontek lagi kalimat-kalimat doaku. Hehehehe.....
1 Hari Lagi sebelum hari itu
Bertambah “gundah” diri ini. Kalau lagu-lagu bilang, jatuh cinta berjuta rasanya. Bukan. Bukan berjuta, tapi berjuta-juta, bahkan bermiliyaran. Berlebihan banget sih ??? Padahal tidak pernah kuhitung. Walaupun mungkin aku mengitungnya aku pasti tidak akan bisa. Karena rasa bukan benda. Ah, yang penting kan rasanya bung. Dan memang begitu rasanya. Semua rasa bercampur aduk. Kalau diibaratkan Es, pasti namanya Es Teler. Kalau diibaratkan makanan, pasti namanya Gado-Gado. Kalau istilah yang dipakai dalam masyarakat, namanya rasa yang plural.
Orang tuaku kelihatan sibuk. Menelepon kiri kanan. Sementara orang-orang memberikan selamat kepadaku. Yang lain memantapkan hatiku, meyakinkan untuk melanjutkannya. Aku hanya duduk-duduk tanpa banyak gerak. Duduk di ruang tamu dengan Barokallohulaka Bahagianya Merayakan Cinta setia di tangan.
Masih tidak percaya. Aku ambil air wudhu. Kembali memohon kepada Sang pemilik Waktu. Mungkinkah secepat itu ??? Mungkinkah besok adalah hari itu ??? Terasa hanya mimpi. Dengan takbir dan Bismillah,
“Ya Allah, aku sudah siap !
Malam sebelum esok. Sebelum hari itu
Ku lihat Ibuku menelpon entah dengan siapa
“Ooooo.... Begitu ?”
“Tidak apa-apa”
“InsyaAllah itu yang terbaik”
“Jam berapa besok ?”
“Waalaikumsalam”
Begitulah sayup-sayup ku dengar kata-kata ibuku mejawab suara dari teleponnya.
“Siapa Bu ?” Tanyaku mencoba menghilangkan penasaran.
“Tantemu menelpon”
“Oh, bicara tentang apa?”
“Bicara tentangmu”
“Bagaimana ?” Kejarku
“Begini nak. Jadi Besok, anaknya mau pulang dari Jakarta. Dan Tantemu sudah bicara dengannya tentang rencana ini”
“Terus ?”
“Dan katanya dia akan pulang tidak sendirian. Ada beberapa orang jakarta yang akan ikut pulang bersamanya. ”
“Siapa ?”
“Calon Suami dan Mertuanya !
“:-/ :-(“

Hanya ekspresi itu yang aku tampakkan setelah ibuku mengucapkan kata-katanya. Kalau di film-film, pasti waktu itu suasananya sedang hujan. Terus mati lampu dan gelap. Hanya suara hujan yang di dengar. Seketika Petir dan halilintar menyambar dengan suara gemuruhnya. Gorden-gorden dan kelambu jendela melayang-layang ditiup angin. Dan aku sebagai bintang film ceritanya, berdiri kaku dengan cahaya remang-remang seperti lampu kelap-kelip yang dihasilkan oleh kilat. Trus Shootingannya pasti di zoom berulang kali ke arahku. Musiknya juga pasti bikin terkejut-kejut. Terus setelahnya musik yang menggambarkan kesedihan dan kekecewaan. Seperti Syahrukh Khan di Film Kabhi Kushi Kabhi Gum. Whahahaha............
Setelah aku selidiki lebih dalam, aku bisa paham dan mengerti tentang semua yang terjadi. Ibuku menjelaskan panjang lebar tentang semuanya. Sampai akhirnya hari itu tidak ada.
Ikhlas ! Hanya itu jalan terbaik. Allah punya rencana yang jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan. Karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena begitulah jalan Allah, Akan Indah pada Waktunya. Kadang kita sedih, kecewa dan terluka, tapi jauh di atas segalanya, Allah sedang merajut yang terbaik untukku. Dan aku yakin itu. Suatu saat akan kutemukan dia. Dia yang akan menjadi Khadijah dalam hidupku. Kalau pada waktu ini hari itu tidak ada, maka di hari yang lainnya aku yakin hari itu akan ada.

LaNjUT......

Surat Ibu Kepada Anaknya

Kepada yang ibu cintai sepenuh hati
Buah hatiku di …………

Assalamualaikum warohmatullaahi wabarokatuh
Bagaimana kabarmu sayang… ibu harap ananda selalu dalam lindungan Allah . Ibu terpaksa menulis surat ini… rasa kangen di dada ibu ini rasanya sudah tak tertahankan lagi sayang. Ibu minta maaf …kalau kedatangan surat ibu ini mengganggu ananda. Maafkan ibu kalau surat ini membuat ananda malu dengan teman-teman. Sungguh…tidak ada niat ibu seperti itu….hanya untuk melepas kangen ibu sama ananda
Sayang….ingin rasanya ibu menjengukmu ke sana. Wajah ananda selalu muncul di mimpi ibu. Tapi niat ibu itu selalu ibu kubur dalam-dalam. Hanya satu alasan ibu sayang…. Ibu ingin anak ibu bisa mandiri …..ibu ingin anak ibu bisa merenungi kesendirian tanpa kehadiran ibu disamping ananda.
Anakku yang ibu sayangi…….Ibu bangga dengan ananda. Disaat teman-teman ananda mengisi hari-hari Ramadan-nya dengan bermain dan bersenda gurau, …anak ibu justru belajar agama di tempat yang jauh dari ibu. Sungguh senaaaa…ng sekali hati ibu ini. Ibu harap acara ini bisa mendorong ananda menjadi anak yang sholeh …….sebagaimana yang ibu harapkan ketika ibu berjuang dengan susah payah melahirkan ananda. …….Ketika wajah lucu ananda yang mungil baru muncul di dunia ini, hanya satu doa ibu saat itu… “Duhai Allah… Engkaulah yang menggenggam takdir anakku ini. Aku mohon ya Allah jadikan anak yang ada dihadapanku sebagai anak yang sholeh…. Jadikanlah ia anak yang bisa membahagiakanku kelak dihadapan-Mu ya Allah…. Jadikanlah ia anak yang dapat membuatku bangga kelak di hadapan-Mu ya Allah. Pertemukan kami kelak di surgamu ya Allah . Jangan Engkau pisahkan kami ya Allah. Jangan Kau biarkan aku memasuki surga-mu tanpa anak ini disampingku”. Sampai sekarang ibu selalu ulang-ulang doa ibu itu. Ibu sangat berharap doa ibu itu menjadi kenyataan. Dan sekarang ibu mulai yakin bahwa anak ibu adalah anak yang shaleh. Kesediaan ananda mengikuti acara ini membuat ibu yakin bahwa doa itu akan menjadi kenyataan. Sungguh bahagiaaaa ..sekali hati ibu ini.
Anak-ku yang sholeh…..Ibu tidak tahu berapa lagi ibu diberi kepanjangan umur oleh Allah . Ibu merasa ibu sudah tua. Ibu merasa malaikat maut tidak lama lagi akan datang menjemput ibu. Mungkin surat ini surat terakhir ibu untuk ananda. Mungkin ketika ananda pulang, ibu sudah tidak ada lagi di rumah. Maafkan ibu ya sayang….kalau selama ini ibu banyak salah sama ananda. Maafkan ibu kalau ibu sering marah dengan ananda. Nyuruh ananda mengaji, belajar, puasa,sholat yang mungkin ananda merasa nggak suka. Jangan dendam sama ibu ya sayang. Bantu ibu dengan doa-doamu ya sayang. Hanya doa yang ibu harapkan dari ananda. Hanya doa ananda, amal jariyah dan kerja dakwah ibu selama ini yang dapat meringankan beban ibu di hadapan Allah.
Ananda tersayang….ibu titip… rawat papa dengan baik ya sayang. Sayangi beliau sebagaimana ananda menyayangi ibu selama ini. Papa sudah banting tulang supaya ananda bisa sekolah seperti teman-teman yang lain. Buat lah papa bahagia dengan keshalehan dan budi pekerti yang baik. Jangan sakiti hatinya sedikitpun ya sayang.

Wassalam


Dari Ibumu

LaNjUT......

"CAHAYA ILAHI" (Andai ALLAH punya answering Machine)

Bayangkan bila pada saat kita berdoa dan mendengar ini:
"Terima kasih, Anda telah menghubungi Rumah Allah ".

Pilihlah salah satu:
* Tekan 1 untuk 'meminta'.
* Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
* Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
* Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."

Atau, bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:
"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain.
Tetaplah menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."

Bisakah Kita bayangkan bila pada saat berdoa, Kita mendapat respons
seperti ini: "Jika Anda mau bicara dengan Malaikat Jibril, tekan 1.
Dengan Malaikat Mikhail, tekan 2. Dengan malaikat lainnya, tekan 3.
Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu, tekan 4.
"Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka, silahkan
tunggu sampai Anda tiba disini!!"

Atau bisa juga Kita mendengar ini :
"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari
ini, Silakan mencoba kembali esok hari." "Kantor ini ditutup pada akhir
minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9 pagi."

Alhamdulillah, Allah SWT mengasihi kita, Kita dapat menelponNya setiap saat!!!
Kita hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Kita. Karena bila memanggil Allah, Kita tidak akan pernah mendapat nada sibuk. Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.

Ketika Kita memanggil, gunakan nomor utama ini: 24434
2 : shalat Subuh
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya

Info selengkapnya ada di Buku Telepon berjudul "Al Qur'an Karim &
Hadist Rasul"

Langsung kontak, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa biaya. Nomor
24434 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak terbatas dan
seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun !!.

LaNjUT......

Berpikir Positif Kepada Diri

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya,
"Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.
"Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia....."
Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.
Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.
"Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya.
Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir.....
"Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya.
"Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia
"Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".
Dengan suara perlahan suaminya berkata
"Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang.... "
Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanyaapa adanya... Ia menunduk dan menangis.....
Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.
Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ? Kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.

LaNjUT......

Apa Yang Telah Kita Persiapkan ???

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

LaNjUT......

Nyanyian Para Ikhwan

Aku datang membawa mahar
Katakan padaku wahai ukhtiy
Seberapa banyak yang kau inginkan
Agar walimu melepasmu untukku

Aku datang membawa Cinta
Katakan padaku wahai wanita shalihah
Seberapa banyak hafalan yang kau perlukan
Supaya Aku bisa menjadi imammu

Aku datang membawa harapan
Katakan padaku wahai bidadari dunia
Berapa banyak pengalaman organisasi
Yang harus ku jalani
Supaya engkau yakin dengan diriku

Inilah nyanyian para ikhwan
Yang didendangkan dengan tekad dan nekad
Wahai wanita shalihah, wahai ukhtiy
Kami selalu bersiap siaga
Saat harap saat rindu
Aku datang membawa cinta dan mahar
Untuk melangkah ke gerbang kehidupan baru
Rumah tangga Sakinah, Mawahdah, Warohmah

LaNjUT......