Penanti menanti yang dinanti di Penantian ini
Penunggu menunggu yang di tunggu di penungguan itu
Pencari mencari yang dicarai di pencarian kini
Penantian, Penungguan, Pencarian, usai sudah
Karena yang dinanti, yang ditunggu, yang dicari,
telah datang, hadir, dan didapatkan
Sang Penanti, Sang Penunggu, dan sang Pencari kini bahagia
Menanti, menunggu, dan mencari sudah tiada lagi
Sang Penanti, Menanti, yang dinanti, penantian, hanyalah semu
Penunggu, menunggu, yang ditunggu, penungguan, adalah palsu
Pencari, mencari, yang dicari, pencarian semuanya abstrak
Tulisan Jadul Tak Berjudul
Pertemuan Pertama
Hari itu, untuk pertamanya aku menginjakkan kaki di tanah gunung itu. Ditempat baru yang harus aku tinggali Dua bulan lamanya. Tidak ada seorangpun yang aku kenal. Selain Bang Malik dan tiga orang temanku yang waktu itu masih belum aku tau namanya. Semakin sedih terasa, jauh dari komunitas biasanya. Dua Bulan. Adalah waktu yang lama kami rasakan. Aku cemas menunggu kedatangan hari yang terakhir itu. Aku berpikir, apakah aku akan siap menghadapi hari-hariku selama 60 hari di tempat itu ? Tempat yang jauh dari keramaian. Yang jauh dari bising kota. Yang jauh dari pasilitas perkotaan. Yang jauh dari teman-teman yang aku kenal. Sekali lagi, pasrah. Hanya itu yang bisa dirasakan waktu itu.
“Kita Sudah sampai. Inilah rumah Kepala Desa. Rumah yang akan kalian tempati selama berKKN” Kata Bapak pengemudi yang belakangan aku tau namanya Pak Ukkas, sambil menunjuk sebuah rumah persis dimana tempat kami berhenti.
Rumah panggung. Sederhana dan mungil, bersih dan tertata rapi. Dihalamannya terdapat aneka bunga segar dengan bermacam warna. Sepetak tempat penampungan air yang terbuat dari keramik. Dan sebuah makam yang dari ukurannya adalah makam anak bayi yang terpagari rapi.
Di depan pintu seorang wanita setengah baya tersenyum ramah ke arah kami. Ada tatapan bahagia dimatanya. Ada sentuhan kebaikan dibalik senyumnya. Ada sentuhan kasih sayang di sapaannya. Ada uluran tangan keiklasan menerima kedatangan kami. Dia adalah Ibu desaku. Ya. Isteri Kepala desa Umpungeng. Yang mungkin akan menjadi ibu kami selama dua bulan kedepan. Yang rumahnya akan menjadi rumah kami juga.
Aku dan teman-temanku yang lain menurukan barang masing-masing dari mobil. Satu persatu tas-tas yang berisi perlengkapan selama dua bulan itu diturunkan. Ketika aku menurunkan tas yang terakhir, aku merasa kewalahan. Pasalnya, tas yang satu ini ukurannya berbeda dengan yang lainnya. Apalagi beratnya. Pasti juga jauh lebih berat dari tas-tas yang lain. Tas yang tidak normal, pikirku. Aku meminta bantuan temanku yang lain. Wah, ternyata masih kewalahan juga. Hingga Bang Malik turun tangan mengatasinya (Bang Malik jadi Hero). Kami Mengangkatnya bertiga. Tapi beratnya masih juga tersa. Terlebih ketika kami membawanya naik menaiki tangga rumah.
“Kayaknya di dalamnya ini ada kulkas atau mesin cuci, atau televisi, atau dapur, atau pembantunya sekalian dibawa” Cetusku. Mencoba menguasai suasana.
Yang lain serentak tertawa setelah mendengar guyonan kecil dariku. Apalagi si peilik tas. Ikut tertawa mendengar tuduhan yang dilontarkan padanya.
“Bisanya itu. Cuma pakaian dan perlengkapan wanita isinya. Gak ada yang lain” jawabnya membantah tebakanku sambil tertawa kecil.
Dalam hatiku “Dasar cewek. Gak pernah mau kekurangan apalagi ditinggalkan sama perkakasnya”
Huh, sedikit capek. Lumayan membuat napas ngos-ngosan. Kami dipersilahkan duduk di kursi ruang tamu. Suasana hening sejenak. Yang terdengar hanya suara napas yang berhembus kencang. Namun suasan itu segera saja mencair, ketika Ibu desa mengeluarkan minuman pelepas dahaga untuk kami.
Tidak tau dari mana awal mulanya, suasana antara kami semakin akrab terasa. Semakin banyak topik pembicaraan yang kami perbincangkan. Walaupun aku, masih belum tau nama persis tiga temanku yang lain. Aku tidak mencoba menanyakannya lagi. Tapi aku membiasakan diri mendengar dan menghapal nama mereka ketika satu persatu dari mereka mengenalkan diri pada penghuni rumah itu.
Denny Saskin (Biasa saya dipelesetkan Denny miskin) yang selanjutnya akan berperan sebagai Koordinator Desa. Evianti yang aku panggil dengan sebutan dua huruf saja, EV yang akan berperan sebagai Bendahara Desa. Dan Yemima yang kemudian akrab aku panggil dengan nama MIM yang selama berKKN akan bertugas sebagai sekretaris Desa. Aku dan Bang Malik ? Ah, kami sepakat memilih untuk tidak mengambil peran kecuali sebagai anggota saja. Dengan alasan-alasannya tersendiri.
Kamipun dipersilahkan masuk ke dalam kamar masing-masing. Kami tiga orang laki-laki mendapatkan kamar depan, yang berdekatan dengan ruang tamu. Sedangkan dua teman cewek mendapatkan kamar dibagian belakang, yang berbatasan langsung dengan dapur. Bukan Cuma mereka berdua. Ternyata ada seorang perempuan pemilik kamar bersama mereka juga. Perempuan itu adalah sepupu Bapak Desa yang sudah tinggal lama disana. Matahari nama lengkapnya. K’ Ita, itulah panggilan akrab kami memanggilnya.
Pekerjaan yang aku lakukan untuk pertama kalinya adalah mendeteksi keberadaan Sinyal. Terutama di dalam kamarku. Karena sejak dipertengahan jalan, sinyal sudah pergi meninggalkan HP kami. Benar saja yang dibilang isterinya Pak Ukkas. Di Jolle tidak ada sinyal kecuali dengan memakai antena. Hanya orang-orang beruntung saja yang mendapatkan sinyal tanpa menggunakan antena. Itupun keberuntungannya tidak akan berlangsung lama. Karena sinyalnya datang dan pergi sesuka hati. Sementara antena satu-satunya di rumah pak desaku hanya berada di kamarnya teman-teman cewek. Inilah ketidak beruntungan pertama yang kami daptkan.
Aku mondar mandir di dalam kamar mendeteksi sinyal dengan HP. Dari satu sudut ke sudut yang lainnya. Bahkan aku mencoba mencari jaringan di kolong ranjang. Alfa. Tidak ada yang terdeteksi. Aku juga mencobanya di belakang pintu. Sia-sia. Tidak ada hasil. Akupun mencobanya di balik lemari. Hasilnya tetap sama. Sinyal sudah tidak tidak lagi bersahabat denga HPku. Kalau bahasa pernikahannya, talak tiga. Oh tuhan, apa salahku dan salah ibuku (kayak Wali) hingga tidak ada kutemukan sinyal walau sebatangpun, atau hanya setengah batang saja.
Tidak ada harapan. Degaga harapang. Sinyal tidak juga aku temukan. Serasa sedikit kehidupan telah hilang dariku. Karena tidak ada bagian nyawa yang tersisa disana. HP yang tidak bersinyal.
“Susah menjadi orang kaya di desa ini. Tidak bisa bergaya” Gumamku sambil masih berusaha mencari jaringan. Ampun ma’ ! kata itu lagi yang terlontar dariku untuk mengungkapkan keputus asaan.
Satu titik dalam kamar itu yang belum aku datangi. Di Jendelanya. Ya. Jendela Naco yang letaknya persis disamping ranjangku. Aku mensetting pengaturan Hpku di posisi mencari jaringan secara manual. “Mencari jaringan” Begitu tulisan di Hpku setelah itu. Aku letakkan Hpku diantara kaca jendela, sambil menjaganya. Karena salah sedikit, HP bisa jatuh terlempar keluar. Dan nasibnya setelah itu tidak tau akan bagaimana.
Dengan harap-harap cemas, aku menunggu laporan hasil dari pencarian jaringan di Hpku. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, 3 operator ditemukan. Indosat, Xlindo, dan tentunya Telkomel.
“Alhamdulillah.....Horee.........Asyik.........dsb. aku mendapatkan sinyal”. Semua ungkapan kegirangan terlontar dari mulutku.
Walaupun yang aku dapatkan hanya satu batang sinyal. Tapi kadang-kadang naik menjadi dua, bahkan tiga. Tapi tidak pernah full menjadi empat batang. Bagian nyawaku yang hilang kembali lagi. Karena setelah sinyal aku temukan, sms beruntun masuk berlomba memasuki Hpku, menambah kotak masuk.
Aku adalah orang pertama yang menemukan sinyal di jendela itu. Walaupun tidak sehebat Einsten dan ilmuan yang lainnya, tapi aku merasa bahagia sebagai penemu tempat sinyal pertama di kamar itu. Karena setidaknya, dua temanku yang lain bisa menikmati hasil penemuanku. Yang bagiku sangat berarti keberadaannya, begitu juga temanku yang lain.
Serial KKN : Catatan Perjalanan ke Lokasi
Mulanya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang Indah. Tempat itu bahkan bagiku tidak layak untuk aku tinggali. Mengarungi gunung, melewati hutan belantara melalui jalan meliuk-liuk ditambah beberapa kubangan dengan berbagai ukuran di atasnya. Sepi. Sunyi. Kosong. Hampa. Seperti tiada kehidupan. Dingin. Suhunya mendekap tubuh.Yang terdengar hanyalah suara-suara binatang mengerik di pucuk balik dahan pepohonan. Diiringi dengan suara gesekan pepohonan yang berhimpitan ditiup angin.
Disela-sela itu, terdengar suara Mobil Carry meraung kepayahan. Seperti tua yang terbatuk-batuk karena umurnya. Asap putih mengepul dimuntahkan dari arah belakang mobil. Memaksakan untuk bisa mengalahkan medan yang sedang dijalani. Medan yang sulit dan berat untuk sebuah carry tua. Tapi dengan santai dan sigap sang pengemudi menginjak gas melaju tanpa khawatir.
Di dalam mobil itulah aku dan 4 orang temanku yang lain, sedang was-was menahan napas. Entah apa yang aku pikirkan. Yang jelas waktu itu aku merasa seperti tawanan perang yang akan diasingkan ke tempat terasing dan terpencil. Bahkan perasaan ekstrimku merasakan bahwa aku dan teman-temanku yang lain seakan dibawa untuk dieksekusi mati. Pikirku, takdirku kini berada antara hidup dan mati.
Semakin jauh perjalanan yang kami tempuh. Semakin tinggi gunung yang kami susuri. Semakin sunyi hutan yang kami lewati. Semakin bersahabat dingin mendekap tubuh kami. Pasrah. Hanya itu ungkapan yang aku bisa terlontar saat itu.
Ada aku dan Empat temanku yang lain. Tiga diantara mereka, adalah asing bagiku. Bahkan nama mereka tidak aku ingat lagi setelah mereka menyebutkannya beberapa saat sebelumnya. Sedangkan satu lainnya, aku sudah kenal sebelumnya. Sangat kenal bahkan. Malik namanya. Usianya memang agak jauh lebih tua dariku (Ups, ada perjanjian dilarang sebut umur). Makanya aku memanggilnya Bang. Bang Malik.
Aku dan Bang Malik duduk di kursi bagian paling belakang. Saling memandang dengan senyuman sinis, berbisik bisikan menyerah. Dan tiga teman asingku duduk di kursi bagian tengah. Satu diantara mereka adalah laki-laki, dan dua diantaranya adalah perempuan. Dan yang duduk di bangku paling depan adalah seorang laki-laki yang kuperkirakan umurnya sudah 40-an ke atas, sebagai pengemudi. Dan disebelahnya adalah isteri dan anak perempuannya yang masih anak-anak.
Melaju pelan tapi pasti. Carry Hijau tua itu membawa kami. Suara obrolan mencoba menjalin keakraban terdengar dari para penumpangnya. Sedangkan aku dan Bang Malik, masih dalam suasanaku sebelumnya. Tapi kami berdua mendengar jelas pembicaraan mereka. Sesekali aku dan Bang Malik menimpali. Bahkan sesekali aku mengeluarkan lelucon yang mungkin Cuma lucu untuk diriku sendiri.
“Wah, kalau rumah mertuakau disini, mungkin aku Cuma akan mendatanginya satu kali setahun saja. Atau bahkan tidak datang-datang menjenguknya” Selaku ditengah obrolan-obrolan mereka.
Dengan segera Bang Malik mencubit ringan pahaku. Mungkin dia takut kalau ada yang tersinggung. Maklum, saya orangnya ceplas-ceplos. Tapi tidak ada perubahan suasana yang berarti dari kata-kataku itu. Seperti angin berlalu. Semakin lama obrolan semakin hangat. Keakraban di atas mobil mulai terasa. Seiring dengan semakin jauhnya jarak yang kami lalui.
Carry Hijau itu terus melaju dengan tenaga tuanya yang tersisa. Suara baut dan besi longgarnya sesekali terdengar saat rodanya terperangkap kubangan jalan. Ribut berisik. Perutku pun terasa di kocok dibuatnya. Dada terasa sesak. Keluhan aduh sepontan keluar dari mulutku. Ampun ma’ !
Handphoneku berbunyi dengan suara khas nada smsnya. “Ooooo.......Rahim...... Angkatseng sms ta’ kodong ! Ngarro Q anak-anak kodongE. Oooooooo.........Rahim........Angkatseng sms ta’ kodongE. Tena tong apa-apa. Ooooo..........Rahim........KodongE.......”
Ah, ternyata sms dari temanku yang di Makassar menanyakan keberadaanku. Aku jawab saja seadanya dan berharap ada balasan lagi darinya. Tapi Handphoneku tidak lagi berdering dalam waktu yang lama. Hingga aku mengeceknya kembali.
“Haaaaaaaaaa..................Tidakkkkkkkkkkk..............” Teriakku seketika.
Tentu saja teman-temanku langsung bertanya padaku
“Sinyal..... Sinyal.....Sinyal....Habis. Tidak ada yang tersisa walau sebatang”
Serentak mereka melihat Handphonenya masing-masing. Hal yang sama terjadi pada Handphone mereka. Tapi Seorang temanku mengangkat Hpnya seraya berkata girang “Aku dapat sinyal. Masih ada. Tapi tinggal satu bat.....”
Belum selesai ia berkata, menyelesaikan kalimatnya, muncul kaliat baru. Kali ini nadanya agak lirih “Aihhhh, hilang juga kasihan”
Ternyata apa yang dibilang Ibu yang duduk di depan terbukti. Kalau tempat yang kami tuju, tidak ada sinyalnya. Bahkan Ibu itu telah memberikan warning sebelumnya, sejak kami masih di daerah perkotaan.
Semakin jauh Mobil melaju. Hingga kini ia berhenti sempurna di depan sebuah rumah. Rumah yang selanjutnya akan menjadi Posko KKN kami selama dua bulan. Dusun Jolle, Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng.
Sekali lagi, pada awalnya tidak ada yang istimewa. Tidak ada keindahan. Yang ada hanyalah keterpasungan dan keterasingan. Hanya ada sepi dan gelap. Hanya ada dingin dan angin. Hanya ada pasrah dan menyerah.
Tapi disinilah awal cerita itu. Cerita yang tidak akan habis kata-katanya tentang keindahan, keistimewaan, kebebasan, keleluasaan, kedamaian, ketenteraman, kenyamanan, kebahagiaan, dan Cinta.
Cerita di Atas PeTe-PeTe
Rabu malam selepas maghrib ketika aku berada di atas angkot menuju pengajian. Aku duduk di kursi paling belakang. Sibuk memencet tombol HP, membalas sms. Penumpang yang lain juga sibuk dengan urusannya masing-masing. Penumpang di depanku, seoarang wanita setengah baya berpangku tangan dengan pandangan kebelakang, melihat kendaraan yang sesak berkejaran. Disebelah kanannya, seorang gadis yang sedang asyik berbicara melalui telepon. Entah dengan siapa ia bicara. Yang jelas dari mulut dengan bibir merahnya terdengar tawa yang membuatku sedikit tidak nyaman.Disebelahnya lagi, seorang laki-laki yang umurnya tidak jauh dari gadis tadi. Dan sepertinya, mereka berdua saling kenal. Karena gadis itu tidak pernah melepaskan genggamannya dari lengan lelaki itu sejak aku naik. Dan disebelahku, seorang pemuda yang ku prediksi masih SMA. Dan persis di dekat pintu mobil, lelaki gondrong kriting rapi dengan celana jeans dan kemejanya. Yang selalu menggoyang-goyangkan kakinya mengikuti irama lagu ST12. PUSPA judulnya. Dan seorang lelaki tua duduk persis di dekat Sopir, dengan rokok dan sembulan asapnya.
“Kiri pak !”
Suara itu tiba-tiba membuat Mobil yang aku tumpangi berlahan melaju pelan, dan akhirnya berhenti. Ternyata Bapak tua yang duduk di depan samping sopir itu yang hendak turun. Persis di depan M-Tos (Makassar Town Square). Setelah memberikan ongkosnya, Bapak tua itupun berlalu menuju M-Tos tanpa peduli semua yang ada di belakangnya. Mobil kemudia melanjutkan perjalannan. Kini Lelaki Gondrong menggantikan posisi duduknya Bapak Tua.
Suasana kali ini berbeda karena dua penumpang baru mengisi bagian kursi yang masih kosong. Dan Si Gondrong dengan sopir juga terlihat akrab. Samar-samar aku mendengar mereka berbincang-bincang masalah kota Makassar dan beberapa aktivitas mereka.
“Apaji PKS, Gayana ji berselogan Bersih. Tapi kenyataannya, gak pernah mau mendukung calon yang bersih-bersih. Pemilihan Gubernur kemarin, ada calon seorang ustadz, eh malah mereka dukung yang bukan ustads. Padahal sudah jelas-jelas keshalihannya. Pemilu presiden sekarang, mereka dukung calon yang tidak ada nuansa-nuansa agamanya. Isteri yang mereka dukung saja tidak ada yang pakai jilbab” kata sopir tiba-tiba.
Aku tidak tau pasti alur pembicaraan mereka sehingga keluar pernyataan seperti itu dari sopir. Yang jelas aku menjadi tertarik mengikuti perbincangan mereka. Aktifitas sms aku hentikan dan mendengarkan perbincangan sopir dan si Gondrong Kriting lebih seksama. Sementara penumpang yang lain, masih sibuk dengan urusan masing-masing tanpa memperdulikan siapapun.
“Saya sebenarnya mendukung sekali PKS dari dulu. Tapi karena kelakuan mereka seperti itulah, makanya sekarang saya menjadi jengkel” sahut Gondrong Kriting
“Dan puncak kejengkelanku itu hingga pemilu kemarin saya tidak memilihnya adalah ketika mereka melakukan MUKERNAS di Bali, yang jelas-jelas disana tempatnya orang bermaksiat” Gondrong keriting menyambung perkataannya.
“Kalau begini caranya, bagaimana bisa menjadi bersih ? Jangan sampai Cuma selogannya ji bersih. Tapi kenyataannya ? Ya, seperti inilah jadinya. Katanya partai Islam” Sambung Sopir
Sopir melanjutkan “Saya pernah tanya ustadsnya PKS tentang keputusan-keputusan PKS yang demikian itu. Tapi mereka Cuma bilang, Mugkin ada pertimbangan lain. Cuma itu jawaban yang kudaptkan. Pertimbangan apalagi yang mesti dipertimbangkan. Gak jelas alasannya”
“Kalau begini terus, apaq gunanya pengajian yang mereka lakukan setiap hari jumat ?” Ujar Gondrong menimpali”
Aku hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka. Sampai akhirnya aku turun di tempat tujuan. Karena kebetulan saat itu aku pakai jaket PKS, ketika aku membayar ongkos mobil, si Gondrong Kriting dan Sopir menjadi salah tingkah. Suara mereka menjadi terbata-bata tak beraturan. Tapi aku hanya menganggukkan kepala kepada mereka berdua, sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih, dan berlalu tanpa berkomentar apapun.
Tidak tau mengapa perbincangan tadi mengisi pikiranku sepanjang jalan kaki menuju rumah ustadsku. Mungkin mereka ada benarnya. Tapi pembenaran mereka disebabkan karena kekurangan kita sebagai kader dalam mengkomunikasikan semua kebijakan yang diambil. Sehingga apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan baik dari media atau lapangan, itu adalah sebuah kebenaran.
Karena masyarakat pasti hanya akan melihat berita dan bukan melihat proses. Apalagi tujuan-tujuan dari kebijakan-kebijakan yang diambil. Benarlah yang dikatakan Hitler bahwa, kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus akan menjadi sebuah kebenaran.
Sehingga seorang teman mengatakan, bahwa PKS telah gagal dalam menjelaskan dirinya dan keputusan-keputusannya melalui media. Untuk itu, tugas kaderkader PKS sekarang adalah menyampaikan kebenaran atas keputusan dan kebijakan yang diambil. Supaya masyarakat tidak salah persepsi terhadap PKS. Sehingga mereka menjauh bahkan memusuhi PKS.
Perlu sosialisasi yang lebih masif lagi, baik melalui media maupun dari kader-kader untuk menyampaikan kebenaran itu kapada masyarakat. Bahwa ada tujuan-tujuan dakwah di setiap kebijakan yang diambil. Supaya masyarakat menjadi tau yang sebenarnya. Bahwa dakwah ini dibangun di atas landasan kebersihan. Terang dan jelas, sejelas Matahari. Putih, seputih Cahaya. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang dikurangi dan dilebihkan.
“Masyarakat butuh penjelasan”
Di Penghujung Jalan Itu
Berjuang di jalan kebenaran, berjihad dengan bersungguh-sungguh secara terus-menerus, tanpa kenal lelah dan mengeluh, ibarat seorang yang sedang berjalan melewati gunung dan hutan. Hingga akhirnya sampailah ia ke tempat tujuan. Tempat indah yang menjadi impiannya.Tempat tujuan yang menjadikan semangat dalam dirinya hidup. Yang selalu menciptakan optimisme dalam setiap langkah dan perjuangannya. Walaupun jarak yang dilaluinya jauh dan berliku. Ataupun banyak duri dan bebatuan tajam yang menghalangi. Meskipun rasa sakit menjamah tubuhnya.
Perjalanan jauh hanya bisa dilakukan dengan kesabaran dan kewaspadaan. Walaupun langkah tertatih dan kaki terasa tidak mampu lagi untuk berjalan. Tapi tertatihnya langkah bukan berarti menghentikan kaki kita untuk terus menapak.
Seperti para pendaki gunung. Mereka senantiasa akan terus berjalan sampai ia menaklukkan hambatan dan rintangan di sepanjang jalan yang mereka telusuri. Mereka diterpa rasa haus. Mereka dihantui kegelapan. Bahkan tidak jarang, banyak hewan buas yang siap memangsa mereka. Alhasil, setelah mereka sampai puncak, kelelahan dan keletihan yang melanda tubuh menjadi tiada terasa. walaupun mereka disambut dengan suhu dingin yang menggigit. Ada bahagia yang datang menggantikan lelah. Ada senyuman menghiasi wajah menggantikan keluh.
Selamanya, tidak akan pernah sama orang-orang yang berjuang dengan orang-orng yang hanya duduk berdiam diri saja. Kebahagiaan dan senyuman hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bersungguh-sungguh dalam berjuang. Tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang setengah-setengah dalam berjuang. Tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang banyak mengeluh apalagi mereka yang tidak pernah merasakan perjuangan.
Tapi tentu keteguhan dan konsistensi tidak mudah dilakukan. Siapapun yang ingin konsistensi menuju sebuah tujuan besar, pasti harus melewati berbagai penderitaan, kesulitan, dan keadaan yang tidak disukai. Bahkan walaupun kesulitan dan keadaan yang dihadapi, mengancam jiwa. Tanpa konsistensi, tanpa optimisme, tanpa kesungguhan, target dari suatu tujuan yang ingin diraih, tidak akan berhasil.
Ada Kebahagiaan di Setiap akhir perjuangan !!!
Keadilan
Aku berjalan ditengah sunyinya malam
Menembus hitam pekat kegelapan
Menerobos suhu dingin menusuk
Mencari segenggam cahaya keadilan di negeri ini
Keadilan yang selalu dirindukan oleh setiap orang
Keadilan yang dibutuhkan oleh jiwa yang alami
Keadilan yang seharusnya ada pada diri pemimpin negeri ini
Inilah gejolak abdi sepanjang masa
Inilah suara hati yang tulus, kekal, dan murni dari fitrah dasar setiap jiwa di negeri ini
Tapi kini ia telah menghilang entah kemana
Tidak lagi kutemukan keadilan pada pemimpin negeri ini
Ia ditelan kekuasaan yang menggoda
Direnggut keangkuhan yang melahap nurani
Dibelenggu kerakusan di dalam penjara kemunafikan
Yang kutemukan di negeri ini hanyalah keserakahan yang menggerogoti hak-hak rakyat
Bukannya mengayomi atau memberi, tapi merampas kemerdekaan
Bukannya mengasihi, yang terjadi adalah penganiayaan
Bukannya menyantuni, yang terjadi adalah penindasan dan kedzaliman
Bukankah, kedudukan mereka hari ini diberikan atas dasar kepercayaan dari rakyat ?
Lalu dimana mereka simpan semua itu ?
Tidak malukah mereka ?
Tidak adakah tersisa nurani dalam diri pemimpin negeri ini ?
Mengapa mereka selalu mengambil jauh lebih banyak, dari apa yang seharusnya diterima oleh rakyat ?
Akankah negeri ini akan mendapatkan keberkahan ?
Mungkinkah keajaiban itu muncul dinegeri ini ?
Akankah kerinduan ribuan, bahkan jutaan rakyat akan pemimpin yang adil akan terwujud ?
Ataukah orang-orang seperti itu hanya akan kita temukan dalam catatan lembaran sejarah masa lalu ?
Atau hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak manusia ?
Ya Allah, tidak akan adakah lagi sosok Abu Bakar yang terlahir di negeri ini
Yang selalu memberi ketenangan untuk rakyatnya
Menyejukkan hati ketika memandangnya
Memberi kedamaian dengan kehadirannya
Ikhlas mengabdi kepada rakyat, Allah, dan Rasulnya
Tidak akan adakah lagi sosok Umar bin Khattab yang akan memimpin negeri ini
Yang dengan kezuhudannya, telah memberikan kesejahteraan pada rakyatnya
Yang ketundukan pada Rabbnya, telah mengharamkan diri dan keluarganya untuk hidup bermegah-megahan
Yang kecintaan pada rakyatnya, telah meninggalkan bekas hitam dipundaknya demi memenuhi hak-hak rakyatnya
Yang dengan kesadaran akan amanah, ia melayani dan mengorbankan hidupnya untuk rakyatnya
Ya Allah, inilah harapan dan doa hambamu yang teraniaya zaman di negeri ini
Dengarkanlah jeritan kami.
Rakyat yang terdzalimi, yang akan selalu berharap dan meminta hanya kepadaMu
